features

Partai Gerakan Rakyat, Kendaraan Anies di 2029?

Penulis Aswandi AS
Jan 29, 2026
Anies Baswedan (tengah) menghadiri Rakernas I Gerakan Rakyat di Jakarta, Minggu (18/01/26). (Foto: Gerakan Rakyat/Humas DPP GR)
Anies Baswedan (tengah) menghadiri Rakernas I Gerakan Rakyat di Jakarta, Minggu (18/01/26). (Foto: Gerakan Rakyat/Humas DPP GR)

ThePhrase.id - Di tengah merosotnya citra pemerintahan Prabowo-Gibran, Anies Baswedan tiba-tiba mucul dengan Partai Gerakan Rakyat.  Mengusung warna orange sebagai warna partainya, Gerakan Rakyat seolah ingin menarik para pemilih PKS yang pernah kecewa dengan keputusan PKS meninggalkan Anies  di Pilgub Jakarta 2024 lalu.  Dengan elektabilitasnya yang mengungguli nama-nama lain, Anies memiliki peluang besar untuk menjadi pemenang di 2029. Namun, bagaimana dengan isu pemilu curang yang sudah berhembus sejak 2004. Apakah Anies masih punya peluang?

Layaknya seorang aktor kawakan, Anies  Baswedan tak pernah kehabisan peran.   Meski tak memiliki posisi politik di pemerintahan, namun nama Anies selalu muncul dalam flatform media sosial dan situs pemberitaan. Dia bisa menjadi guru dan mentor bagi anak-anak muda yang memiliki  mimpi dan harapan.  Di lain waktu dia juga menjadi senior bagi para aktifis yang memiliki idealisme dan cita-cita untuk memperbaiki masa depan.

Di beberapa momen Anies berperan sebagai seorang cendekiawan yang memberi kuliah umum di atas mimbar akademik  tentang beragam topik.  Di momen lain, Anies terlihat sedang memberi ceramah di mesjid-mesjid  layaknya seorang pendakwah dan rohaniawan. Singkat kata, Anies Baswedan masih beredar dan eksis di tengah banyaknya upaya untuk membuat namanya hilang dan tenggelam.

Beragam peran dan lakon yang dimainkan Anies ini membuatnya  masih terjaga dalam memori publik, yang dibuktikan dengan elektabilitasnya yang tetap moncer di antara nama-nama populer yang berpotensi menjadi pemimpin di 2029.  Hasil survei terbaru Median yang dirilis Selasa 20 Januari 2026,  mencatat elektabilitas Anies berada di angka 19,9 persen.  Anies mengungguli Gubernur Jawa Barat  Dedi Mulyadi yang  berada pada 17, 4 persen.  Perolehan Anies itu, jauh meninggalkan nama-nama populer pelanjut politik dinasti seperti  Agus Harimurti Yudhoyono  yang memperoleh 2,9 persen  dan Gibran Rakabuming Raka yang hanya mendapat skor 2,4 persen.  

Dalam survei itu Anies hanya dikalahkan oleh Prabowo Subianto yang memperoleh dukungan 27,8 persen.   “Hasil survei menunjukkan Prabowo Subianto masih berada di posisi teratas dalam daftar elektabilitas sementara capres. Berdasarkan jawaban responden atas pertanyaan, “Jika pemilu presiden diadakan saat ini, siapa tokoh yang akan Anda pilih menjadi calon Presiden Republik Indonesia?” Prabowo memperoleh dukungan sebesar 27,8 persen,’’ kata Direktur Eksekutif Median,  Rico Marbun.

Rico mengungkapkan,  meski berada di posisi teratas namun elektabilitas Prabowo mengalami penurunan drastis dibandingkan dengan posisi di bulan Oktober 2025 lalu yang memperoleh dukungan 48,5 persen.  Terjadi penurunan sebesar 27,8 persen.  Sementara posisi Anies justru naik sebesar 5,7 persen dari posisinya 14,2 persen di Oktober 2025 lalu.

‘’Penyebab penurunan dukungan kepada Prabowo akibat dari pengaruh pemerintah di dalam menangani bencana banjir di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat itu. Dalam hal ini porsi ketidakpuasannya besar, yakni mencapai 59 persen,” ujar Rico Marbun.

Di tengah merosotnya citra pemerintaan Prabowo itu, Anies justru menjadikannya sebagai momen  untuk menunjukkan persiapannya  untuk bertarung lagi di 2029 mendatang.  Persiapan yang ditunjukkan dengan deklarasi berdirinya partai Gerakan Rakyat di Hotel Aryaduta, Jakarta, Minggu (18/1/2026).  Pendirian partai ini  merupakan langkah lanjutan dari organisasi kemasyarakatan Gerakan Rakyat yang berdiri  pada 27 Februari 2025.  Partai ini menjadikan Anies sebagai figur utama  untuk menjadi magnet sekaligus menghimpun pendukung Anies selama ini.

"Satu hal kita menginginkan Indonesia lebih adil dan makmur dan yang kedua kita menginginkan bahwa pemimpin nasional kita nanti insyaallah adalah Anies Rasyid Baswedan," ujar Ketum Gerakan Rakyat, Sahrin Hamid, dalam live YouTube Gerakan Rakyat, Minggu (18/1/2026).

Membranding partai dengan warna orange atau warna yang sama dengan PKS  (Partai Keadilan Sejahtera),  Gerakan Rakyat  seperti ingin menegaskan ajakan  kepada pendukung Anies yang pernah kecewa dengan PKS yang meninggalkan Anies di Pilgub Jakarta 2024 lalu.  Juru bicara yang juga Wakil Ketua Umum Partai Gerakan Rakyat, Yusuf Lakaseng menegaskan warna partainya tak terlepas dari tagline  partainya  Indonesia Menyala, yang terinspirasi dari tagline gerakan Indonesia Gelap yang sempat viral beberapa waktu lalu.

"Kalau mahasiswa aksi dengan tagar Indonesia Gelap maka Gerakan Rakyat menggelorakan Indonesia Menyala untuk menerangi kegelapan itu," ujar Yusuf seperti dikutip dari Detik.Com Kamis (27/2/2025).

Dari peta politik di atas kertas saat ini, Anies memiliki peluang besar untuk memenangkan pertarungan pada kontestasi Pilpres 2029.  Paling tidak Anies sudah memiliki 2 modal utama untuk masuk dalam arena dan memenangkan pertarungan.

Pertama,   elektabalitas yang tinggi.  Hanya dengan menjaga elektabilitas yang ada saat ini, sudah lebih dari cukup bagi Anies untuk menjadi figur utama di Pilpres 2029.  Tahun 2029 adalah masa generasi Anies untuk bersinar terang, dan masa senja menjelang terbenam untuk figur angkatan Prabowo Subianto. Sejauh ini, belum ada nama lain yang seangkatan dengan Anies yang bisa menyaingi elektabilitas Anies Baswedan. Termasuk mereka yang sedang memiliki posisi di pemerintahan, seperti AHY, Puan dan Gibran.

Kedua, electoral treshold 0 persen. Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 62/PUU-XXII/2024, telah menghapus syarat atau ambang batas (presidential threshold) 20% kursi DPR atau 25% suara sah nasional partai politik mengusung presiden dan wakil presiden 2029. Putusan ini telah memberi hak kepada partai peserta Pemilu 2029 yang lolos verifikasi  untuk mengusulkan pasangan calon sendiri.  Dengan elektabilitas yang menjulang, Anies akan menjadi magnet sekaligus peluang bagi partai kecil  bersaing dengan partai besar  untuk  berhadapan.

Namun demikian, peta di atas kertas  sering berbeda jauh dengan kondisi di atas lapangan, sebab politik adalah permainan tentang kemungkinan-kemungkinan  yang bisa berubah cepat dan berputar haluan dalam waktu singkat.  Aturan main bisa dirubah dalam keputusan  rapat di gedung wakil rakyat. Pengalaman selama ini, menunjukkan bila aturan main ditentukan oleh pihak-pihak yang kuat yang memang didesain   untuk mengurangi kompetitor agar bisa menang dan sumber daya juga bisa dihemat.

Apalagi, perjalanan kompetisi pemilu Indonesia  dalam dua dekade ini, selalu menyisakan isu tentang kecurangan dan permainan yang tidak adil. Sehingga pemenang bukanlah mereka yang memiliki paling besar dukungan rakyat, tetapi siapa yang menguasai birokrasi  yang bisa mengerahkan aparat.  Kondisi ini akan mempersulit figur dari luar kekuasaan seperti Anies Baswedan yang akan sangat bisa menafikan semua modalnya untuk memenangkan permainan yang jujur dan berkeadilan.  

Namun, demikian seperti dalam ungkapan, “manusia diberi hak untuk merencanakan dan Allah SWT memilik hak untuk menentukan”. Artinya, semua hal bisa saja terjadi karena di sana banyak sekali kemungkinan-kenungkinan. (Aswan AS)

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic