
ThePhrase.id – Mantan Presiden Joko Widodo alias Jokowi akan menkonsolidasi relawan dan pendukungnya untuk menghadapi Pemilu 2029. Konsolidasi itu dilakukan dengan safari keliling Indonesia untuk memperkuat PSI (Partai Solidaritas Indonesia). Namun sejumlah hambatan akan menghadang safari Jokowi ini. Salah satunya datang dari PDI Perjuangan, partai yang ditinggalkan Jokowi yang telah berjasa membesarkan Jokowi dan keluarganya.
Rencana Jokowi berkeliling Indonesia diumumkan oleh Ketua DPP PSI Bestari Barus. Barus menjelaskan Jokowi akan berkeliling ke sejumlah daerah di Indonesia dalam waktu dekat, dari Lampung, NTT, dan Jawa Barat. "Sudah disampaikan beliau, Lampung, NTT, Jabar. Segera," kata Bestari, Rabu (27/5/2026).
Kunjungan Jokowi kali ini, kata Barus adalah untuk memenuhi undangan masyarakat sekaligus menemui pengurus PSI di daerah.
Sebelumnya Jokowi sudah menegaskan kesiapannya berkeliling Indonesia setelah kondisi kesehatannya yang semakin membaik. "Ya, ini kan saya banyak undangan, undangan dari daerah-daerah untuk hadir dari masyarakat, ya saya sudah sehat dan saya akan datangi undangan-undangan yang ada," ujar Jokowi di kediamannya di Solo, Jawa Tengah, Senin (24/5/2026).
Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul M Jamiluddin Ritonga menilai, rencana Jokowi kembali berkeliling Indonesia tidak akan berdampak politik besar seperti ketika masih menjabat sebagai presiden. Posisi politik Jokowi saat ini sudah berbeda dibanding ketika masih menjadi presiden, karena tingkat kepercayaan publik sudah menurun dan Jokowi tidak sehebat ketika masih menjabat.
"Jokowi saat ini bukan lagi menjadi patron, tapi justru sosok yang penuh kontroversial," kata Jamiluddin, dalam keterangannya, Rabu (27/5/2026).
Jamiluddin menilai pendukung fanatik Jokowi banyak yang kecewa sejak Jokowi masih menjabat, sehingga dukungan politik terhadap mantan Gubernur DKI Jakarta itu tidak lagi solid.
Namun demikian, kata Jamiluddin, Jokowi masih memiliki kelompok pendukung loyal. Hanya saja, jumlahnya tidak cukup signifikan untuk mencapai target-target politik tertentu.
Jamiluddin menduga tujuan politik Jokowi berkeliling Indonesia untuk menunjukkan bahwa dirinya masih memiliki basis massa yang kuat di berbagai daerah. Basis massa ini dapat menjadi sinyal politik kepada partai-partai politik bahwa Jokowi masih memiliki pengaruh elektoral dan daya tawar di tingkat nasional. Selian itu, Jokowi juga dinilai ingin mendongkrak elektabilitas PSI agar mampu memperoleh hasil lebih baik pada Pemilu mendatang.
“Hal itu perlu dilakukan agar PSI pada Pileg mendatang bisa masuk ke Senayan," kata Jamaiuddin.
Menurut Jamiluddin, peningkatan posisi PSI ini penting untuk memperkuat bargaining politik menjelang Pemilihan Presiden 2029, termasuk terkait peluang Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali mendampingi Presiden Prabowo Subianto pada periode berikutnya. Meskipun peluangnya tidak mudah, namun langkah Jokowi tetap wajar sebagai upaya mempertahankan pengaruh politiknya.
Selain posisi politiknya yang sudah melemah karena tidak menjabat lagi dan pendukung fanatik yang sudah banyak meninggalkannya, safari Jokowi akan menghadapi kendala lain. Hambatan paling besar datang dari partai yang pernah membesarkan Jokowi dan keluarganya, PDI Perjuangan.
PDI Perjuangan mencurigai, Jokowi memiliki agenda lain yang akan menggerus elektabilitas PDI Perjuangan di 2029 dengan mempengaruhi kader PDIP di daerah.
Keseriusan PDI Perjuangan menjegal konsolidasi mantan kadernya itu, terlihat jelas dari sikap PDIP yang bersedia menyerahkan dokumen pencalonan presiden Jokowi kepada Roy Suryo dan kawan-kawan. Dokumen itu memperkuat bukti tentang kepalsuan ijazah Jokowi yang selama ini ramai diperbincangkan.
“Secara pribadi sangat ingin mengapresiasi untuk PDIP yang mulai bicara jujur, sudah, kini saatnya gas saja PDIP, kapan lagi kalau tidak saat ini,” kata Roy Suryo di Garuda TV, 2 Juni 2026.
Politisi senior PDI Perjuangan, Panda Nababan dengan satire mengatakan kagum dengan keberanian Jokowi untuk keliling Indonesia, setelah penghianatannya terhadap PDI Perjuangan selama ini.
“Dengan perbuatan dia berkhianat ini, ee..tiba-tiba dengan peristiwa yang terjadi sekarang saya dapat satu surprise Jokowi mau keliling, Jokowi mau keliling ke daerah, saya kagum. Dia mau menampakkan dirinya kepada massa PDIP, ini lho yang berkhianat kepada Mega, bisa survive. Jadi, dia sudah berkhianat kepada Megawati, berkhianat kepada partai…masih punya kemampuan masih punya nyali menunjukkan dirinya, aku kagum,” kata Panda Nababan, di channel Keadilan TV, 9 Juni 2026.
Menurut Panda, kader atau anggota PDIP yang keluar partai apalagi berkhianat, maka dia akan hancur. Itu bisa dibuktikan pada nama-nama besar yang keluar dan mencoba membangun partai sendiri seperti Roy BB Janis, Laksamana Sukardi dan Arifin Panigoro.
“Di Golkar, kader keluar bisa membangun Gerindra, Nasdem, Hanura dan lan-lain. Di PDI, keluar akan dibuang ke laut,” kata Panda lagi.
Politisi PDIP Guntur Romli mengaku tak khawatir dengan rencana Jokowi akan berkeliling RI. Ia memastikan Jokowi keliling Indonesia tidak akan berpengaruh bagi PDIP.
"Saya sangat yakin tidak ada pengaruh sama sekali. Jokowi itu sudah dipecat dari PDI Perjuangan secara tidak terhormat. Termasuk Gibran dan Bobby. Masyarakat sudah tahu alasannya," kata Guntur kepada Detik.com Jakarta. Jumat (29/5/2026).
Upaya Jokowi untuk membesarkan PSI, menurut Guntur tidak akan berhasil. Ketika masih menjadi presiden saja Jokowi tak mampu memberikan efek elektabilitas pada PSI.
"Secara logika sederhana saja, waktu Jokowi jadi Presiden tidak mampu meloloskan PSI ke Parlemen, apalagi sekarang tidak jadi apa-apa," kata Guntur.
Guntur yakin Jokowi berkeliling hanya sekadar bagi-bagi sembako dan amplop untuk konten medsosnya. Selebihnya Jokowi akan mmbuat drama-drama politik saat berkeliling.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Jokowi jalan-jalan ke seluruh pelosok Indonesia. Kita bisa menyaksikan drama sinetron sen kiri belok kanan ala Jokowi," tutur dia.
PSI Heran PDIP Berkomentar Miring
Menanggapi pernyataan Guntur Romli, Ketua DPP PSI Bestari Barus menilai pernyataan miring Guntur Romli itu akibat banyaknya fasilitas dan kemudahan yang dimiliki PDIP dulu yang dicabut oleh Jokowi.
“Ya semenjak kenikmatan-kenikmatan buat partainya itu dicabut oleh Pak Jokowi kan selalu miring saja pendapatnya, kan begitu," kata Barus Jumat (29/5/2026).
Bestari pun berharap momen safari Jokowi ini akan jadi momentum untuk Jokowi menegaskan dirinya kini sudah bersama PSI. Sehingga, pendukung Jokowi bisa berhenti memilih PDIP.
“Jadi yang dulu selama 10 tahun orang suka sama Pak Jokowi ketika menjabat, hari ini jadi permakluman publik 'oh, beliau sudah di sini, di PSI bersama PSI, kita jangan lagi milih partai yang itu', kan begitu," ujar Barus.
2029 mash akan 3 tahun lagi. Apakah Jokowi akan membuktikan dirinya masih memiliki power dan magis elektabilitas dengan mengangkat PSI dengan menarik pemilih PDI Perjuangan. Atau sebaliknya, safari itu justru akan menjadi pertunjukan kepada pubik bahwa Jokowi bukan siapa-siapa lagi. (Aswandi AS)