
ThePhrase.id - Arus mudik Lebaran 2026 diwarnai antrean kendaraan hingga 30 kilometer di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali sejak Minggu (15/3).
Kemacetan horor itu membuat pemudik yang hendak menyeberang ke Ketapang, Banyuwangi harus menunggu hingga berjam-jam lamanya, bahkan ada yang hampir 24 jam.
Antrean mengular itu juga menyebabkan belasan pemudik pingsan dan harus menjalani perawatan secara medis akibat kelelahan dan kepanasan.
Menteri Perhubungan RI Dudy Purwagandhi menyebut terdapat sejumlah faktor yang memicu kemacetan panjang, yang paling utama kendaraan logistik besar bersumbu tiga atau lebih.
Dudy mengatakan, kendaraan logistik itu masih beroperasi di tengah pembatasan operasional selama arus mudik Lebaran 2026.
Pembatasan itu tertera dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Nomor:KP-DRJD 854 Tahun 2026; HK.201/1/21/DJPL/2026;Kep/43/II/2026; 20/KPTS/Db/2026.
"Ketidakpatuhan terhadap SKB itu yang menyebabkan antrian panjang di Gilimanuk,” kata Dudy dalam keterangannya, dikutip Rabu (18/3).
Dalam aturan tersebut, pembatasan operasional angkutan barang mulai berlaku pada 13 Maret 2026 pukul 12.00 hingga 29 Maret pukul 24.00 waktu setempat.
Menurut Dudy, masih beroperasinya truk-truk besar di tengah larangan itu memperlambat laju kendaraan lain, utamanya di jalur menuju pelabuhan.
Dia meminta agar pengusaha tidak hanya mementingkan ego sektoralnya masing-masing, tapi memikirkan kepentingan yang lebih besar, yakni masyarakat.
“Kami minta pengusaha angkutan logistik mematuhi SKB. Jangan mengedepankan ego sektoral karena ada kepentingan yang lebih besar yaitu masyarakat," katanya.
Di sisi lain, pihaknya membuat beberapa langkah dalam mengurai kemacetan area tersebut, yakni menambah armada menjadi 35 kapal, memprioritaskan kapal penumpang untuk menyeberang, hingga mengoptimalkan buffer zone.
Menurutnya, kebijakan itu dilakukan mengingat kendaraan jenis tersebut juga mengangkut penumpang yang jumlahnya banyak, serta jumlahnya dominan.
"Untuk kendaraan barang tetap kami layani cuma prioritas kendaraan penumpang dulu baik sepeda motor, mobil pribadi maupun bus," ujarnya.
Dudy mengklaim, antrean panjang itu akhirnya bisa terurai dari semula 30 kilometer menjadi hanya delapan kilometer antrean. (M Hafid)