
ThePhrase.id - Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) memberlakukan pembatasan penggunaan gadget bagi murid dan guru SMA, SMK, dan SLB sejak Senin (13/4) untuk menciptakan proses pembelajaran yang lebih aman, sehat, dan berkarakter.
“Pemanfaatan gadget perlu diatur untuk menjamin proses pembelajaran berjalan aman, sehat, dan berorientasi pada penguatan karakter peserta didik,” ujar Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, seperti dikutip dari Antara News.
Menurutnya, penggunaan gadget yang tidak terkontrol dapat menimbulkan dampak negatif, seperti paparan konten yang tidak layak, perundungan daring (cyberbullying), ketergantungan digital, hingga penurunan kemampuan berpikir kritis.
Pembatasan tersebut merupakan tindak lanjut dari Surat Keputusan Bersama (SKB) tujuh menteri, antara lain Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga), serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA).
Kebijakan ini juga mengacu pada Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 tentang pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 mengenai tata kelola penyelenggaraan sistem elektronik dalam perlindungan anak.
Meski dibatasi, siswa tetap diperbolehkan membawa gadget ke sekolah. Namun, penggunaannya hanya untuk kepentingan pembelajaran yang telah direncanakan dan berada di bawah pengawasan guru. Selain itu, gadget juga dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan orang tua atau wali.
kebijakan ini bertujuan mendorong peserta didik agar lebih fokus dan berkonsentrasi dalam proses pembelajaran bersama guru dan teman sekelas. Siswa juga didorong terlibat dalam aktivitas seperti diskusi, membaca, dan bermain dengan teman sebaya guna menjaga keseimbangan antara aktivitas digital dan non-digital.
Sebelum resmi diberlakukan, uji coba telah dilakukan pada pekan pertama April 2026. Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, meninjau langsung pelaksanaan uji coba di SMA Negeri 1 Turen, Kabupaten Malang.
Dalam uji coba tersebut, murid diminta meletakkan gadget di kotak khusus selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.
Aries juga menekankan pentingnya melibatkan orang tua atau wali dalam pengawasan penggunaan gadget agar dapat memantau perkembangan siswa, sekaligus mengurangi dampak negatif gadget yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak di lingkungan sekolah. [Syifaa]