features

Pendukung Militan Jokowi yang Balik Kanan

Penulis Aswandi AS
Feb 18, 2026
Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. (Foto: Tangkapan layar YouTube/Sekretariat Presiden)
Presiden ke-7 RI, Joko Widodo. (Foto: Tangkapan layar YouTube/Sekretariat Presiden)

ThePhrase.id - Keinginan Joko Widodo alias Jokowi untuk terus berkuasa  dalam jagat politik Indonesia,  telah memunculkan sebuah fenomena  pendukung Jokowi yang datang dan pergi.  Sejumlah politisi senior mendekat ke Jokowi dengan menjadi pengurus Partai Solidaritas Indonesia, (PSI) partai yang disebut sebagai partai keluarga Jokowi. Namun sejumlah akademisi dan intelektual  yang sejak awal  mendukung Jokowi memilih balik badan dan menjadi pengkritik tajam terhadap Jokowi.

Para politisi yang mendekat ke Jokowi adalah politisi senior yang bermasalah atau sudah  tidak mendapat tempat layak di partai sebelumnya.  Mereka bergabung ke PSI dengan menjadi pengurus atau pendukung militan Jokowi.  PSI yang semula identik dengan partai anak muda, kini  menjadi lebih berwarna dengan kehadiran politisi senior pindahan dari partai lamanya.

Adapun pendukung militan Jokowi yang berbalik arah menjadi pengkritik atau melawan Jokowi adalah kaum intelektual yang terdiri dari akademisi, pengamat, jurnalis dan budayawan yang tersadar atau berubah arah setelah  terungkapnya banyak fakta tentang pelanggaran  dan kebohongan yang dilakukan Jokowi selama ini.  Beberapa  nama yang dalam kategori ini di antaranya.

1. Mohamad Sobary

 

Dengan latar belakang yang komplek sebagai budayawan, akademisi, peneliti, jurnalis dan kolumnis Mohamad Sobary  tampil sebagai “die hard”  Jokowi. Dengan kepiawaian bicara dan menulisnya, Kang Sobary, sapaan akrabnya,  membela Jokowi dengan menyerang tokoh yang dianggap sebagai lawan atau pesaing Jokowi.  Anies Baswedan yang sering diidentikan sebagai kutub seberang  Jokowi, kerap menjadi sasaran  kritiknya.

“Anies itu cita-cita hidupnya itu berkuasa. Saya kan membaca gerak-geriknya yang saat ini dan ditarik ke belakang bertahun-tahun yang lalu ketika menjadi staf saya,” kata Mohamad Sobary di kanal Youtube 2045 TV, Senin (5/12/2022).

Demi membela Jokowi ketika itu, Sobary mendowngrade Anies sebagai “anak bawang” yang minim pengalaman dan rendah jam terbang.  Namun, seiring waktu, Mohamad Sobary  tiba-tiba tersentak dan mengaku sebagai orang yang telah tertipu oleh Jokowi bersama dengan jutaan ilmuan lainnya.

"Tapi berjuta-juta itu kan tertipu ya. Biasa saja kita tertipu itu, enggak apa-apa. Ketika tertipu, kita tidak lagi mendukung," ucap M Sobary, Kamis (12/2/2026), usai menjadi saksi ahli untuk Roy Suryo, Rismon dan dr. Tifa dalam kasus ijazah palsu Jokowi.

Kini, setelah merasa menjadi korban penipuan Jokowi, Sobary  menyebut Jokowi sebagai kesatria penipu yang telah terbuka topengnya yang akan menempati tempat yang sangat hina.  

“Dia akan memakan hasil tipuannya sendiri. Dia akan meminum air gorong-gorong penipuannya,” ujar Sobary dengan menggebrak meja di podcast Forum Keadilan TV, Senin (16/2/2026).

Ucapan dan kritik tajam yang dulu digunakan untuk membela Jokowi, kini digunakan untuk menyerang Jokowi. Dengan cara itu, seorang Mohamad Sobary seolah ingin menebus kesalahan atau menghapus jejaknya  sebagai pendukung dan pembela militan Jokowi.

2. Goenawan Mohamad

 

Dikenal sebagai sastrawan, penyair, esais, dan jurnalis terkemuka Indonesia, Goenawan Mohamad pernah tampil sebagai kesatria utama pembela Jokowi.  Reputasi sebagai pendiri majalah Tempo cukup menjadi latar depan untuk menakar kapasitas intelektualnya.  

GM, panggilan akrabnya berperan penting membela Jokowi ketika viralnya artikel berjudul “Widodo’s smoke and mirrors hide hard truths’’  yang dipublikasi Asia Times yang berbasis di Hong Kong, pada 23 Januari 2018. Artikel yang ditulis jurnalis John Mcbeth itu menyoroti Jokowi dan para pembantunya yang disebut sebagai master atau ahli dalam permainan asap dan cermin (smoke and mirrors) yang diadopsi dari trik yang digunakan para pesulap.  Artikel mengkritik program Jokowi atau prestasi Jokowi sebagai presiden sebagai trik yang tak sesuai dengan fakta di lapangan.

Goenawan tampil membawa tameng dengan menyebut artikel Mcbeth itu memicu kehebohan karena digunakan oleh lawan dan musuh politik untuk menyerang Jokowi.  "Pertama, sudah bisa diperhitungkan bahwa lawan Presiden Jokowi akan memanfaatkan tulisan seperti itu, dan sebaliknya para pendukung akan marah. Dalam politik — dan menjelang pemilihan umum — itu hal yang lumrah," tulis Goenawan di akun Facebooknya.

Lima tahun setelah pembelaan heroiknya itu, GM  terlihat menangis di depan Rosi yang mewawancarainya di Kompas TV, Kamis 2 November 2023. Tangis dan kekecewaan yang teramat dalam, tumpah ruah dari wajah tuanya.

“Saya dulu memilih Jokowi dan bekerja agar dia menang. Tapi kini saya merasa dibodohi. Jika nanti Prabowo-Gibran/Jokowi menang, kita dan generasi anak kita akan mewarisi kehidupan politik yang terbiasa culas, nepotisme yang menghina kepatutan, lembaga hukum yang melayani kekuasaan," kata Goenawan Mohamad, disela air matanya.

Kini penulis “Catatan Pinggir” itu sudah jarang terdengar seperti meminggirkan diri setelah melampiaskan kekecewaanya pada Jokowi.

3. Erros Djarot

 

Erros Djarot adalah seniman multitalenta Indonesia, komposer, sutradara, dan politikus. Erros Djarot merupakan salah satu tokoh yang mendukung Jokowi pada awal pencalonannya di 2014, yang terkesima dengan citra Jokowi sebagai sosok genuine, bersahaja yang akan memperbaiki Indonesia.

Erros pernah tampil membela Jokowi tahun 2014 dari para pengkritik yang menantang Jokowi untuk membuktikan omongan mengatasi banjir Jakarta dalam 2 tahun.  "Hanya orang bodoh yang minta Jokowi menyelesaikan banjir ini dalam dua tahun," kata Erros kepada Tempo di Jakarta, 28 Januari 2014 lalu.

Namun dalam perjalanannya, Erros merasa Jokowi sudah berubah dari sosok aslinya dan melakukan berbagai cara untuk tetap berkuasa. Erros menyebut dirinya sudah dibohongi Jokowi sejak periode pertama Jokowi berkuasa.

Kini, dalam banyak kesempatan  Erros menjadi pengkritik  yang mengingatkan Jokowi atas jalan politik yang ditempuhnya selama ini.  

“Ini memang yang paling luar biasa,  saya sedih, bagaimana Jokowi berhasil merusak peradaban kita sebagai bangsa,”  ujar Erros di Jakarta, Selasa (26/11/2024).

Erros pun kerap tampil memberi semangat dan dukungan kepada Roy Suryo, Rismon dan dr. Tifa mengungkap ijazah palsu Jokowi.

4. Islah Bahrawi 
 

Islah Bahrawi dikenal sebagai  Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI) yang banyak berbicara tentang jaringan terorisme domestik dan global.  Karena kemampuannya itu, Islah dijadikan sebagai staf ahli di Mabes Polri.  Islah sendiri menyebut dirinya Nahdliyin sejak lahir  meskipun bukan pengurus struktural di NU.  

Islah menjadi pendukung Jokowi dengan alasan tidak mau Prabowo jadi presiden.  Alasan itu pula yang membuatnya bertahan untuk terus mendukung Jokowi sampai 2 periode.  Islah adalah bamper Jokowi menghadapi serangan politisasi agama dari kelompok yang disebut intoleran.

Titik balik Islah Bahrawi terjadi ketika Jokowi memaksa cara untuk menaikkan anaknya Gibran menjadi wakil presiden.  Putusan MK yang meloloskan Gibran dinilai Islah sebagai sikap haus kekuasaan Jokowi.  Dia pun mengaku telah salah bersikap mendukung Jokowi selama ini,  karena ternyata  Jokowi bermain sandiwara murahan demi mendapat kekuasaan bagi keluarganya.

"Kami salah pak, selama ini menganggap bapak terlalu "Setengah Berhala". Ternyata manusia biasa yang haus kekuasaan juga. Semoga Tuhan tidak merestui semua sandiwara murahan ini. #KamiMuak," kata Islah melalu akun X (Twitter) nya, mengomentari postingan video Jokowi di akun X, @jokowi. Oktober 2023 lalu.

Belakangan, Islah banyak bersuara untuk  mendorong agar Jokowi diperiksa dalam sejumlah kasus korupsi  para menteri era Jokowi.  

Selain dari individu dan tokoh  yang terang-terangan berbalik arah dan menjadi pengritik Jokowi, sejumlah Perguruan Tinggi  Negeri dan swasta jauh-jauh hari sudah menyatakan menolak cara dan langkah Jokowi yang merusak demokrasi dan tatanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebanyak 32 Universitas sudah menyatakan sikap menolak Jokowi sejak tahun 2024 lalu. (Aswan AS)

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic