trending

Pengibaran Bendera Daerah, Identitas atau Memberontak?

Penulis Aswandi AS
Aug 19, 2026
Aparat TNI menurunkan bendera bulan bintang yang dipasang di halaman Masjid Raya Baiturahman Banda Aceh. (Foto: Pendam Iskandar Muda/Jurnal Aceh, PikiranRakyat.com)
Aparat TNI menurunkan bendera bulan bintang yang dipasang di halaman Masjid Raya Baiturahman Banda Aceh. (Foto: Pendam Iskandar Muda/Jurnal Aceh, PikiranRakyat.com)

ThePhrase.id – Momen 17 Agustus 2026 lalu tidak hanya diwarnai oleh kesalahan Presiden Prabowo ketika berpidato tetapi juga pengibaran bendera non merah putih di beberapa daerah. Pengibaran bendera ini menjadi pertanyaan, karena bendera itu berkibar di tengah momen perayaan kemerdekaan.

Pengibaran bendera terjadi di Aceh ketika massa mendatangi Mesjid Baiturrahman Banda Aceh sambil mengibarkan bendera Bulan Bintang pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Massa ini berkumpul untuk memperingati Hari Damai Aceh yang jatuh pada 15 Agustus dengan zikir dan doa Bersama di Masjid Baiturrahman Banda Aceh.

Sekelompok orang tiba-tiba menurunkan bendera merah putih dan menggantinya dengan Bendera Bulan Bintang. Aparat bereaksi membubarkan massa itu dengan menembakkan gas air mata. Peringatan Hari Damai pun berubah menjad aksi saling lempar dan kejar-kejaran antara massa dan aparat.

Di Kalimantan, bendera Bornea Raya berkibar di Samarinda. Bendera itu dipasang di fly over Jalan Juanda, Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Pengibaran bendera ini sempat menyita perhatian publik setelah beberapa netizen menggugah video bendera tersebut di media sosial. Tidak diketahui siapa yang memasang bendera tersebut.

Di Papua ada pengibaran Bintang Kejora yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tergabung tergabung dalam Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Pertanyaannya apakah pengibaran bendera daerah in  bermakna pemberontakan?

Guru Besar Sosiologi Universitas Syiah Kuala, Humam Hamid menilai aksi itu sebagai kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah daerah dan pusat yang tidak mampu menyelesaikan masalah Aceh.

"Jangan disederhanakan ini tentang bendera saja. Jadi pertama itu orang lapar atau kebutuhan dasar. Kedua dignity, marwah. Jadi jangan dua-dua enggak ada," kata Humam.

Sementara Ketua Dewan Adat Dayak Kaltim, Viktor Yuan menilai pengibaran bendara itu tidak boleh serta-merta dimaknai sebagai bentuk ancaman terhadap keutuhan negara. Aksi itu lebih  mencerminkan luapan kekecewaan dan kekesalan Masyarakat.

"Itu bukanlah bentuk makar. Jadi esensinya tuh beda. Kalau yang saya pahami, masyarakat Kalimantan pada umumnya, khususnya masyarakat Dayak ya, bahwa tidak ada keinginan untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata Yuan, Selasa, 18 Agustus 2026.

Mendiang Mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pernah menanggapi santai pengibaran bendera Bintang Kejora di Papua. Gus Dur menganggap bendera itu sebagai simbol kultural orang Papua. (Aswandi AS)

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic