
ThePhrase.id - Ketidakpastian global berdampak ke berbagai sektor, termasuk penerbangan. Kenaikan harga minyak dan pelemahan nilai tukar rupiah turut menekan biaya operasional maskapai, sementara harga avtur juga ikut meningkat. Pada September 2026, harga avtur rata-rata naik 6,5 persen menjadi Rp23.315 per liter dari Rp21.892 per liter pada Agustus.
Kondisi tersebut mendorong penyesuaian fuel surcharge penerbangan domestik. Kementerian Perhubungan memperkirakan penyesuaian ini membuat harga tiket pesawat secara rata-rata naik sekitar 8 persen pada September 2026.
Kenaikan biaya perjalanan tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi pilihan masyarakat dalam bepergian. Ketika tiket pesawat menjadi lebih mahal, apakah masyarakat mulai mengurangi perjalanan dengan pesawat atau justru beralih ke moda transportasi lain?
Gambaran mengenai perubahan tersebut terlihat dari data penerbangan global. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mencatat permintaan penumpang pada Agustus 2026 yang diukur melalui revenue passenger kilometers (RPK) turun 0,8 persen dibandingkan Agustus 2025. Penurunan ini melanjutkan tren pada Juni ketika permintaan global turun 1,7 persen secara tahunan.
IATA mencatat penurunan pada Agustus terutama dipengaruhi kondisi penerbangan di Timur Tengah yang permintaannya merosot 14,6 persen. Di luar kawasan tersebut, permintaan perjalanan udara global masih tumbuh 0,6 persen, meski melambat dibandingkan Juli.
Senior Vice President Sustainability sekaligus Chief Economist IATA Marie Owens Thomsen mengatakan kenaikan harga energi dapat menggerus daya beli masyarakat untuk perjalanan.
“Beberapa bulan mendatang akan memperlihatkan apakah para wisatawan, yang daya belinya telah tergerus oleh kenaikan harga energi, akan menyesuaikan anggaran perjalanan mereka, serta apakah mereka mungkin mengurungkan niat untuk bepergian akibat ketidakstabilan geopolitik yang sedang berlangsung,” kata Senior Vice President Sustainability sekaligus Chief Economist IATA Marie Owens Thomsen dikutip dari Kompas.com.

Di Indonesia, tekanan pada perjalanan udara juga terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Jumlah penumpang angkutan udara domestik pada Agustus 2026 turun 3,43 persen menjadi 4,8 juta orang. Secara kumulatif, jumlah penumpang domestik selama Januari hingga Agustus 2026 juga turun 3,51 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, penurunan penumpang pesawat tidak serta-merta menunjukkan masyarakat berhenti bepergian. Pada periode yang sama, jumlah perjalanan wisatawan nusantara justru mencapai 104,3 juta perjalanan pada Agustus, naik 11,47 persen dibandingkan Agustus 2025.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, perjalanan wisatawan nusantara juga tumbuh 4,29 persen. Artinya, aktivitas perjalanan domestik masih berlangsung meski penggunaan transportasi udara mengalami penurunan.
Data transportasi nasional turut menunjukkan mobilitas masyarakat masih berjalan. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, jumlah penumpang kereta api naik 7,62 persen, angkutan laut naik 3,14 persen, dan angkutan sungai, danau, serta penyeberangan meningkat 8,59 persen.
Data tersebut memang belum membuktikan adanya perpindahan penumpang dari pesawat ke moda lain. Namun, angka tersebut menunjukkan penurunan penumpang pesawat terjadi ketika perjalanan domestik secara keseluruhan masih tumbuh.
Tekanan lebih terlihat pada perjalanan ke luar negeri. BPS mencatat jumlah wisatawan nasional pada Agustus sebanyak 643.693 perjalanan, turun 6,02 persen secara tahunan dan hampir 20 persen dibandingkan Juli.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut harga tiket pesawat sebagai salah satu faktor yang memengaruhi penurunan tersebut.
“Kami mencatat, pengaruh menurunnya wisnas, pertama adalah penurunan frekuensi penerbangan internasional yang berangkat, seperti dari Kualanamu. Kedua, harga tiket pesawat yang relatif lebih mahal, serta nilai tukar rupiah yang melemah,” ujar Ateng.
Gambaran ini membuat penurunan penumpang pesawat menjadi lebih kompleks daripada sekadar persoalan daya beli. Masyarakat masih bepergian dan perjalanan domestik bahkan meningkat, tetapi biaya perjalanan dapat menentukan bagaimana dan ke mana mereka bepergian.
Jika harga tiket dan biaya perjalanan terus berada di bawah tekanan, perubahan pola tersebut bisa semakin terlihat. Masyarakat mungkin tidak berhenti bepergian, tetapi mulai memilih destinasi yang lebih dekat, moda transportasi yang lebih murah, atau anggaran perjalanan yang lebih rendah.
Dengan demikian, penurunan penumpang pesawat belum cukup untuk menyimpulkan bahwa daya beli masyarakat sedang melemah. Namun, data tersebut menjadi sinyal bahwa biaya perjalanan semakin penting dalam menentukan keputusan konsumen. [nadira]