
ThePhrase.id - Hujan adalah karunia dan nikmat dari Allah ta’ala Yang Maha Penyayang kepada para hamba-Nya. Turun atau tidak turunnya hujan adalah dalam kendali kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam al-Qur’an surah al-Fathir, Allah ta’ala berfirman:
Artinya: “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathir: 2).
Sebagian ulama, termasuk penulis tafsir al-Jalalain mengatakan bahwa rahmat yang dimaksudkan di sini adalah rezeki dan hujan. Rezeki atau hujan yang Allah datangkan pada manusia, tidak ada satu pun yang dapat menahannya, dan juga jika Allah menahannya untuk turun, maka tidak ada seorang pun yang dapat menurunkan hujan tersebut.
Tiadalah Allah menahan hujan melainkan karena dosa-dosa umat manusia, baik golongan yang mengingkari nikmat Allah ataupun golongan yang mengingkari agama Allah. Allah subhanahu wa ta’ala menghukum hamba-Nya dengan tidak menurunkan hujan adalah agar mereka sadar dan segera bertaubat kepada Allah ta’ala.
Dan di antara hal terbesar yang membuat Allah enggan menurunkan hujan adalah saat menyeruaknya perilaku para pengusaha dan pedagang yang mengurangi takaran dan timbangan dagangannya, dan ketika para wajib zakat enggan menunaikan zakat hartanya. Begitu pula dengan perbuatan maksiat lainnya di mana kemaksiatan adalah sebab terhalanganya seorang hamba untuk mendapatkan rezeki, serta sebab diangkatnya berkah dan kebaikan dari muka bumi.
Sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Artinya: “Dan tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim. Tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka kecuali langit akan berhenti meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak akan diberi hujan.” (Hadits Riwayat Ibnu Majah).
Maka apabila hujan tak kunjung turun, bumi mulai kekeringan, pohon dan tumbuhan mati, hewan ternak kelaparan dan kehausan, maka sejatinya semua hal tersebut disebabkan oleh dosa-dosa manusia, dan tidak ada solusi selain kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.
Ada beberapa amalan yang menjadi titik poin penting jika hujan tak kunjung datang dan agar Allah ta’ala segera menurunkan hujan.
1. Segera membayar zakat dan juga memperbanyak sedekah.
Zakat yang tertahan dan tidak terbayarkan kepada yang berhak menerimanya menjadi penyebab tidak turunnya hujan.
Pada saat ini orang miskin yang hendak jadi kaya dan orang kaya yang ingin lebih kaya lagi semakin suka menimbun lagi gemar menumpuk harta. Mereka seakan lupa atau pura-pura tidak tahu bahwa 2,5 persen dari total hartanya adalah hak mustahiq (mereka yang wajib menerima zakat).
2. Perbanyak bersitighfar mohon ampun atas dosa dan segera bertaubat kembali kepada Allah ta’ala.
Selain para Nabi dan Rasul, tak ada seorang manusia pun yang maksum (bebas dosa). Bahkan orang paling berilmu sekalipun, mereka tetap jatuh dalam salah dan khilaf. Apatah lagi orang awam, yang kurang ilmu alias biasa-biasa saja atau tidak tahu menahu sekalipun.
Sehingga sudah menjadi sunnatullah (ketentuan Allah) dan lumrah karena banyaknya kesalahan dan dosa, manusia sebagai hamba-hamba Allah untuk tidak menunda dan bersegera memohon ampun atas segala dosa bahkan wajib melakukan taubat setiap saat.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Artinya: “Seluruh anak Adam berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat.” (HR. Ibnu Majah)
Sesungguhnya amalan berupa istighfar yang diiringi dengan meninggalkan dosa dan maksiat, menjadi sebab turunnya hujan, suburnya negeri dan keberkahan, keturunan yang banyak serta kemuliaan dan kekokohan menjadi semakin kokoh.
Allah Azza wa Jalla berfirman dalam QS. Nuh:10-12):
Artinya: “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”
3. Berdo’a meminta hujan dan melaksanakan Shalat Istisqa’.
Shalat istisqa adalah shalat sunnah muakkadah yang dikerjakan secara berjamaah di tanah lapang untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan hujan saat terjadi kemarau panjang atau kekeringan. Pelaksanaannya mirip shalat Id, terdiri dari dua rakaat tanpa azan dan iqamah, lalu dilanjutkan dengan khutbah.
Do’a Shalat Istisqa’
Terdapat beberapa doa khusus yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam untuk meminta hujan. Doa ini merupakan bentuk tawakkal dan pengakuan bahwa Allah-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(Allahummasqinaa ghaitsam mughiitsam marii-am marii’aa, naafi’an ghaira dhaarrin ‘aajilan ghaira aajil)
Artinya: “Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami, hujan yang lebat merata, mengairi, menyuburkan, bermanfaat tanpa mencelakakan, segera tanpa ditunda.”
(Allahumma agitsnaa, allahumma agitsnaa, allahumma agitsnaa)
Artinya: “Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan.”
(Allahummasqi ‘ibaadaka wa bahaa-imika wansyur rahmataka wa ahyii baladakal mayyita)
Artinya: “Ya Allah, berilah hujan kepada hamba-hamba-Mu, hewan ternak, berilah rahmat-Mu dengan merata, dan suburkan bumi-Mu yang tandus.”
Itulah beberapa do’a meminta hujan yang dapat dipanjatkan saat berada dalam kesulitan memperoleh air. Tak lupa pula kita harus berdoa setelah Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan hujan, sebagai bukti bahwa kita beriman kepada Allah dan bentuk rasa syukur atas nikmat dan rezeki yang telah diberikan-Nya. (Z. Ibrahim)