Peran Perempuan dalam Dunia Kopi

- Advertisement -spot_img

ThePhrase.id – Dunia kopi biasanya identik dengan dunia pria. Hal ini bukan tanpa alasan, perempuan sempat dilarang untuk bergelut bahkan mengkonsumsi kopi di tahun 1600an.

Perempuan hanya diperbolehkan untuk membuka warung kopi dan menyajikan kopi kepada para pria. Sebuah petisi berjudul Women’s petition against coffee pada tahun 1674 juga menyebut jika kopi dapat membuat suami impoten.

Women’s petition against coffee pada tahun 1674 (Foto: beannbeancoffee.com)

Namun, berdasarkan rumor petisi ini justru diajukan oleh pria yang ingin menekan peran wanita terhadap kopi dan menunjukkan seksisme yang hingga saat ini terus melekat di dunia kopi.

Meski memiliki sejarah memilukan, nyatanya kini perempuan banyak memegang peran utama dalam produksi kopi. Afrika sebagai salah satu penghasil kopi terbesar di dunia memiliki sekitar 70 persen pekerja wanita dalam hal pemeliharaan kebun dan panen.

Jika dalam kebun kopi pria bekerja 8 jam per hari, perempuan dapat bekerja hingga 15 jam per hari. Jam kerja yang lebih banyak ini membuat perempuan memiliki sedikit waktu untuk memikirkan tentang bisnis.

Dengan kontribusi yang penting atas hasil panen, mereka cenderung memiliki kendali yang sedikit bahkan hampir tidak sama sekali dalam dunia kopi. Perempuan merasa sulit untuk mengemukakan pendapat lantaran takut akan teguran finansial dan sosial yang akan didapat.

Petani kopi wanita membawa peran penting dalam industri kopi (Foto: canva)

Tak hanya dalam bidang produksi, jumlah roaster perempuan sangat sedikit dibandingkan laki-laki. Hal ini karena selain bias, perempuan mendapatkan prejudice atau anggapan bahwa mereka terlalu lemah untuk  melakukan tugas seorang roaster.

Menanggapi hal ini, She’s The Roaster dan gerakan #shestheroaster dibuat oleh Roaster Guild Event Committe dengan bantuan dari Specialty Coffee Association untuk mempromosikan dan mengencourage perempuan ke dalam industri kopi atau menjadi seorang roaster.

Gerakan ini cukup efektif lantaran kini makin banyak perempuan yang bergabung dan mengikuti World Coffee Roasting Championship atau WCRC.

Dalam kompetisi World Brewers Cup dan World Barista Championship belum tercatat barista wanita yang menang dalam kompetisi ini. Selain itu, hanya sepertiga wanita saja jumlah barista yang mengikuti kompetisi ini dan kurang dari 10 persen saja yang masuk final.

Homegrounds menyebut hal ini karena perempuan memiliki waktu lebih sedikit untuk menyiapkan kompetisi, karena mereka cenderung diberi pekerjaan lain seperti menyajikan kopi saja dibanding barista pria. Selain itu, perempuan cenderung tidak ingin mengikuti kompetisi karena mereka akan berkompetisi langsung dengan pria.

Barista perempuan sedang meracik kopi (Foto: canva)

Meski terdengar sangat negatif akibat bias dan prejudice, kini peran perempuan semakin berkembang dan menjadi topik permasalahan dalam sustainability. Selain itu, perusahaan dan organisasi perlu mengadakan banyak penelitian mengenai peran perempuan dalam dunia kopi guna mempromosikan hal ini.

Kini perempuan juga telah mendapatkan akses yang hampir sama dengan laki-laki sehingga petani kopi wanita lebih mudah mengasah skill cupping mereka. Selain itu, perempuan sebagai pengambil keputusan dalam berbagai industri terbukti mampu meningkatkan ekonomi keseluruhan di pedesaan. Sehingga memberi kesempatan bagi perempuan untuk berkontribusi lebih jauh dalam hal pengambilan keputusan dan keuangan di industri kopi patut untuk diterapkan bagi perusahaan dan coffeeshop. [fa]

- Advertisement -spot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you