
ThePhrase.id - PT Pertamina Gas (Pertagas) menggelar emergency drill atau simulasi tanggap darurat dengan skenario acak untuk menguji kesiapan perusahaan dalam menghadapi krisis, termasuk memastikan ketepatan respons serta koordinasi dan komunikasi dengan stakeholders (pemangku kepentingan).
Corporate Secretary (Corsec) Pertagas, Sulthani Adil Mangatur mengatakan bahwa simulasi yang berlangsung di Jakarta pada Kamis (22/10) itu tidak hanya mengukur kecepatan penanganan insiden, tetapi juga memastikan tindakan dan informasi yang disampaikan sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Ia menjelaskan, simulasi tanggap darurat tersebut memang dilaksanakan secara rutin setiap tahun dengan tujuan mengingatkan sekaligus mengedukasi apabila ada tim yang baru bergabung, untuk mengetahui peran dan alur penanganan yang perlu ditindaklanjuti apabila terjadi suatu kondisi darurat.
“Di industri kita itu kan bisa dibilang industri yang sangat sensitif, kalau bicara soal terjadi satu hal, potensi dampaknya bisa cukup beragam. Jadi, penanganan ini harapannya nanti semua (tim) kita sudah lebih aware, sudah lebih tahu, dan juga sudah bisa waspada atas kondisinya,” papar Sulthani usai pelaksanaan simulasi.
Dalam latihan tersebut, Pertagas mengintegrasikan simulasi emergency response (penanganan keadaan darurat) dengan business continuity (keberlangsungan bisnis). Penanganan darurat berfokus pada respons terhadap insiden, sedangkan keberlangsungan bisnis mengantisipasi gangguan yang berdampak luas atau berlangsung dalam jangka panjang.
Simulasi melibatkan berbagai fungsi dan divisi kantor pusat, tim di wilayah operasi terkait, serta pengamat pihak ketiga. Skenario diberikan secara acak tanpa pemberitahuan sebelumnya untuk melatih kemampuan personel menghadapi situasi tak terduga.
“Dan ini bentuk skenarionya itu dilakukan secara acak tanpa memang ada informasi kepada kita sebelumnya,” imbuhnya.
Menurut Sulthani, respons yang cepat tidak selalu menjadi solusi terbaik apabila tindakan yang diambil atau informasi yang disampaikan tidak akurat. Oleh sebab itu, evaluasi kesiapsiagaan juga mencakup penyempurnaan prosedur, perangkat pendukung, serta kebutuhan mitigasi agar penanganan insiden lebih efektif.
Adapun Pertagas turut membangun komunikasi dengan regulator dan pihak terkait sebelum keadaan darurat terjadi. Langkah ini bertujuan menyamakan pemahaman mengenai situasi yang dihadapi sekaligus mengurangi risiko kesalahan penyampaian informasi.
“Supaya juga nanti pada saat eksekusi ataupun juga menyampaikan fakta informasi itu tidak melenceng. Supaya publik ataupun juga stakeholder-nya kita yang di luar publik, regulator ataupun siapa pun itu bisa punya informasi yang sama, pemahaman yang sama kondisinya,” tandasnya. (Rangga)