
ThePhrase.id - Piala Dunia 2026 telah berakhir. Seperti even Piala Dunia sebelumnya, Piala Dunia 2026 juga telah menjadi pemersatu warga dunia yang melampaui sekat-sekat priomordial dan batas-batas geografis.
Namun Piala Dunia 2026 terasa berbeda, karena terbawa suasana pertarungan geopolitik dan konflik di Timur Tengah, di mana Amerika adalah salah satu negara aktornya.
Amerika Serikat sebagai tempat penyelenggaraan Piala Dunia 2026 menyertakan sikap politiknya dalam perhelatan tersebut. Sikap yang mendapat reaksi dari pihak yang berlawanan melalui simbol dukungan dan perilaku yang menentang AS dan sekutunya.
Ada beberapa catatan peristiwa dari Piala Dunia 2026 sebagai efek atau pengaruh situasi geopolitik saat ini.
Pertama, kemenangan Spanyol diidentikkan sebagai simbol kemenangan perjuangan rakyat Palestina
Kemenangan Spanyol atas Argentina terasa memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar hasil pertandingan dua raksasa bola dunia. Karena Spanyol sejak awal menunjukkan keberpihakan kepada Palestina. Sebaliknya, Argentina pun menunjukkan keberpihakan yang jelas kepada Israel.
Dalam beberapa tahun terakhir, Spanyol menunjukkan sikap politik yang tidak selalu sejalan dengan Amerika dan sekutunya. Pemerintahnya berkali-kali menyuarakan perlunya penghormatan terhadap hak-hak rakyat Palestina. Bahkan ketika banyak negara memilih diam dan tidak berani bersuara.
“Sepak bola, sebagaimana politik, bukan sekadar soal menang dan kalah. Keduanya adalah panggung tempat karakter sebuah bangsa dipertontonkan. Kemenangan di lapangan memberi kebanggaan. Keberanian membela kemanusiaan memberi kehormatan. Dan sejarah lebih lama mengingat kehormatan daripada kemenangan,” kata Pengamat Sosial Politik, Hasan M Noer, yang diunggah di akun Facebooknya, Senin, 20 Juli 2026.
SIkap Spanyol ini ditunjukkan pada pembelaan Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, terhadap bintang muda Lamine Yamal setelah sang pemain mendapat kecaman dari pejabat Israel. Kecaman yang muncul karena Yamal mengibarkan bendera Palestina saat merayakan gelar timnya yang menjuarai liga Spanyol, pada Senin (11/5/2026).
Sanchez menyebut aksi Lamine Yamal sebagai sikap patriotik yang mewakili perasaan solidaritas warga Spanyol terhadap isu kemanusiaan di Gaza, Palestina.
Spanyol juga secara resmi menutup wilayah udaranya untuk pesawat militer Amerika Serikat yang terlibat dalam operasi penyerangan terhadap Iran.
“Kami tidak mengizinkan penggunaan pangkalan militer atau penggunaan wilayah udara untuk tindakan yang terkait dengan perang di Iran,” kata Menteri Pertahanan Spanyol, Margarita Robles pada Senin, 29 Maret 2026.
Karena itu, dukungan kepada tim Spanyol di partai final sebagian besar dipengaruhi oleh arus besar emosi publik global yang simpati dan mendukung Palestina, dengan menolak AS yang membantu Israel menjajah dan melakukan genosida terhadap negara itu.
Kedua, diskriminasi AS terhadap timnas Iran
Efek paling menonjol geopolitik terhadap Piala Dunia 2026 adalah perlakuan diskriminatif terhadap tim nasional Iran. Tim Iran dipersulit untuk masuk dan berada di wlayah AS selama mengikuti Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat.
Tim Iran harus segera meninggalkan AS kembali ke kamp latihan mereka di Meksiko setelah liga perdananya melawan Selandia Baru. Pelatih Iran, Amir Ghalenoei mengungkapkan kekecewaannya karena timnya tidak diperbolehkan menginap semalam di California untuk menjalani pemulihan fisik setelah pertandingan. Iran juga menghadapi persoalan administrasi terkait salah satu pemainnya, Mehdi Torabi, yang dilaporkan visanya habis masa berlakunya setelah pertandingan pertama.
"Kami sudah menjelaskan ini memang prosedurnya," kata Direktur Eksekutif White House FIFA Task Force, Andrew Giuliani, seperti dilansir Associated Press.
Giuliani menjelaskan seluruh pemain dan staf pelatih Iran telah memperoleh visa untuk mengikuti pertandingan Piala Dunia. Namun, tidak semua anggota rombongan mendapatkan izin masuk ke Amerika Serikat. Menurutnya, tim Iran hanya diperbolehkan masuk ke AS sehari sebelum pertandingan dan diwajibkan meninggalkan negara itu pada hari yang sama setelah laga selesai.
Kebijakan ini merujuk pada pernyataan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio terkait pembatasan bagi individu yang memiliki hubungan langsung dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
"Siapa pun yang memiliki hubungan langsung dengan IRGC tidak akan masuk ke Amerika Serikat dan piala dunia tidak akan menjadi alasan untuk mengizinkannya," kata Giuliani.
Iran sempat meminta FIFA memindahkan seluruh pertandingan fase grup mereka dari wilayah Amerika Serikat. Namun, permintaan tersebut ditolak. Kapten Iran Mehdi Taremi mengungkapkan timnya bahkan harus menjalani perjalanan panjang dan pemeriksaan keamanan yang ketat sebelum pertandingan melawan Selandia Baru. Sehingga timnya memerlukan waktu selama lima jam untuk sampai ke Los Angeles dari Tijuana, Meksiko.
Ketiga, SIkap pemain dan simbol penolakan terhadap Donald Trump
Trump sebagai aktor utama konflik timur tengah saat ini, menjadi sosok yang tidak diharapkan kehadirannya oleh sebagian besar pemain. SIkap Lamine Yamal misalnya yang semula menolak berjabat tangan dengan Trump dan tatapan sinisnya karena Trump ingin berlama-lama di atas podium, banyak dibahas di berbagai media. Demikian juga aksi Rodri, kapten tim Spnyol yang mendorong dan memberi isyarat kepada Donald Trump untuk segera turun dari podium.
Termasuk hilangnya foto Trump di akun media sosial tim Spanyol saat seleberasi. Mestinya Trump masih terlihat dalam bingkai foto karena tidak langsung turun dari panggung saat sesi foto seleberasi itu.
Dalam perspektif geopolitik, konflik Palestina-Israel bukan sekadar sengketa wilayah, melainkan episentrum pertarungan kepentingan global. Timur Tengah sejak lama merupakan kawasan strategis yang menghubungkan Asia, Afrika, dan Eropa, sekaligus menjadi pusat energi dunia.
Maka, setiap simbol yang berkaitan dengan Palestina atau Israel memiliki resonansi global.
Ketika bendera Palestina berkibar di tribun stadion, ia bukan hanya menyampaikan solidaritas terhadap rakyat Palestina, tetapi juga menjadi simbol kritik terhadap konfigurasi politik internasional. Sebaliknya, pengibaran bendera Israel dipahami oleh sebagian pihak sebagai afirmasi dukungan terhadap posisi geopolitik tertentu.
Simbol-simbol itu makin solid dan berani ditunjukkan pada Piala Dunia 2026 Amerika Serikat, di tengah pergolakan Iran dan Amerika di Selat Hormuz dan Teluk Persia. (Aswan AS)