
ThePhrase.id - Pesawat ATR 42-500 sebelumnya dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1) sekitar pukul 13.37 WITA di wilayah perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan, setelah lepas landas dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta pada pukul 08.08 WIB.
Dilansir Antaranews, pesawat yang membawa total sepuluh penumpang itu ditemukan sehari setelahnya, ketika tim patroli udara menemukan serpihan pesawat berwarna putih pada Minggu (18/1), pukul 07.07 WITA dalam operasi pencarian di wilayah Taman Nasional Bantimurung-Bulsaraung, Kabupaten Maros.
Pada pukul 08.02 WITA, tim darat berhasil menemukan serpihan pesawat berukuran besar di sisi utara puncak bukit, lalu menemukan badan pesawat tujuh menit berselang, untuk kemudian dilakukan identifikasi lebih lanjut.
Pesawat Diduga Tabrak Bukit
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyampaikan, dugaan awal penyebab jatuhnya pesawat ATR 42-500 yakni pesawat mengalami benturan dengan bukit atau lereng, sehingga menyebabkan emergency locator transmitter (ELT) tidak berfungsi.
Kepala KNKT, Soerjanto Tjahjono menjelaskan bahwa dalam kondisi benturan keras, perangkat ELT berpotensi rusak.
“Ada namanya ELT, Emergency Locator Transmitter, tapi dengan kejadian kalau dia nabrak gunung, kalau benar dia nabrak gunung, itu biasanya ELT-nya tidak bekerja karena hancur juga,” ujar Soerjanto dalam keterangan persnya.
Sebagai catatan, ELT merupakan alat yang berfungsi memancarkan sinyal darurat ketika pesawat mengalami kecelakaan agar memudahkan tim pencarian dan pertolongan (SAR) dalam menentukan lokasi.
Namun, dalam peristiwa hilangnya pesawat ATR di Maros, ELT diduga mengalami kerusakan sehingga tidak dapat menjalankan fungsinya.
Berikut nama sepuluh penumpang dan data pesawat ATR 42-500:
Kru:
Penumpang:
Data Pesawat:
(Rangga)