sportPiala Dunia 2026

Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat Dibayangi Risiko Serangan Teror di 11 Kota

Penulis Ahmad Haidir
May 11, 2026
Piala Dunia 2026 akan digelar di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat. Foto Gianni Infantino.
Piala Dunia 2026 akan digelar di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat. Foto Gianni Infantino.

Thephrase.id - Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat kini menghadapi kekhawatiran serius terkait ancaman terorisme di tengah memanasnya konflik Iran dan Israel. Aparat keamanan federal juga disebut mengalami tantangan akibat berkurangnya tenaga ahli kontra-terorisme dalam beberapa tahun terakhir.

Sejumlah pakar keamanan menilai ancaman terbesar datang dari pelaku ekstremis domestik atau lone wolf yang terpapar paham radikal melalui internet, baik dari kelompok politik ekstrem maupun propaganda organisasi jihad seperti ISIS. Situasi keamanan menjelang turnamen dinilai berada dalam level kewaspadaan tinggi.

Amerika Serikat dijadwalkan menjadi tuan rumah 78 pertandingan Piala Dunia 2026 yang tersebar di sebelas kota besar, yakni Atlanta, Boston, Dallas, Houston, Kansas City, Los Angeles, Miami, Philadelphia, kawasan Teluk San Francisco, Seattle, dan East Rutherford di New Jersey yang berjarak sekitar 16 kilometer dari Manhattan.

Turnamen tersebut akan berlangsung selama sekitar enam pekan dengan total 104 pertandingan yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Sementara skala penyelenggaraan yang sangat besar disebut membutuhkan koordinasi keamanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Javed Ali yang pernah bertugas di FBI, Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat, dan Dewan Keamanan Nasional mengatakan tantangan utama bukan hanya melindungi stadion pertandingan, melainkan seluruh jalur yang berkaitan dengan pelaksanaan laga.

"Kita perlu melindungi bukan hanya setiap venue, tetapi juga seluruh rantai yang mengarah ke pertandingan. Ada begitu banyak pertandingan, sementara sumber daya yang tersedia untuk menekan risiko dari berbagai ancaman jumlahnya terbatas," tegas Javed Ali dilansir The Guardian.

FBI sebelumnya telah menggelar latihan besar pada Maret 2026 dengan mempertemukan agen-agen yang menangani ancaman domestik menjelang event keamanan nasional besar seperti Piala Dunia. Salah satu sumber penegak hukum federal yang hadir menyebut banyak pihak terkejut melihat kompleksitas pengamanan turnamen tersebut.

"Situasinya akan sulit dikendalikan mengingat kondisi saat ini dan banyaknya lokasi pertandingan serta watch party di seluruh Amerika Serikat. Ada kemungkinan nyata sesuatu yang buruk bisa terjadi," kata sumber tersebut.

Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat hanya menetapkan partai final di MetLife Stadium, East Rutherford, sebagai National Special Security Event (NSSE), sebuah status yang membuat pengamanan dipimpin langsung Secret Service dengan dukungan intelijen FBI dan koordinasi darurat dari FEMA.

Sementara pertandingan lain akan masuk kategori Special Event Assessment Rating (SEAR) level 1 atau 2 yang tetap memerlukan pengerahan aparat federal. Sedangkan FEMA telah mengalokasikan dana sebesar 625 juta dolar AS atau sekitar Rp10,1 triliun untuk mendukung keamanan dan kesiapsiagaan selama turnamen berlangsung.

Para ahli menilai stadion-stadion pertandingan sebenarnya sudah masuk kategori hard target karena memiliki sistem keamanan ketat, namun ancaman terbesar justru berada di soft target seperti hotel, pusat transportasi, area fan festival, hingga lokasi nonton bareng yang tersebar di berbagai kota tuan rumah.

Colin Clarke dari Soufan Group menyebut penggunaan drone menjadi ancaman baru yang harus diwaspadai karena teknologi tersebut mudah diperoleh dan dapat dioperasikan individu maupun kelompok non-negara termasuk organisasi teroris.

"Kita masih akan memiliki kerumunan besar di luar stadion dan ada kerentanan dari penggunaan drone yang kini sangat mudah diakses serta dipelajari oleh individu maupun kelompok tertentu," beber Clarke.

Tracy Walder yang pernah bekerja di CIA dan FBI menilai koordinasi antarlembaga masih menjadi titik lemah utama dalam sistem keamanan Amerika Serikat, terutama jika komunikasi antara FBI, Homeland Security, dan aparat kepolisian lokal tidak berjalan maksimal.

Ia mencontohkan percobaan pembunuhan terhadap Donald Trump pada kampanye di Butler, Pennsylvania, serta penyerbuan Gedung Capitol pada 6 Januari 2021 sebagai contoh kegagalan komunikasi antarlembaga keamanan yang berujung fatal.

Situasi Piala Dunia 2026 disebut semakin sensitif karena adanya potensi laga Iran melawan Amerika Serikat di Texas pada 3 Juli 2026. Laga ini berdekatan dengan perayaan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat, ditambah keberadaan keluarga kerajaan Arab Saudi yang dikabarkan telah memesan satu hotel penuh di Houston selama turnamen berlangsung.

"Anda memiliki keluarga kerajaan Arab Saudi berada sangat dekat dengan lokasi pertandingan Iran melawan Amerika Serikat, itu seperti menuangkan bensin ke dalam api," imbuh sumber penegak hukum federal tersebut.

Meski begitu, beberapa pakar menilai ancaman sleeper cell atau sel tidur teroris asing kemungkinan tidak sebesar yang dibayangkan karena Iran dinilai tidak memiliki jaringan kuat di Amerika Serikat untuk menjalankan operasi langsung di lapangan.

"Iran sebenarnya tidak memiliki cukup orang di sini untuk melakukan serangan seperti itu. Jika memang ada orang-orang yang terlatih dan terkait langsung dengan Pasukan Quds Iran, mengapa mereka belum menggunakan jaringan itu?" ucap Javed Ali.

Para pakar juga menyoroti meningkatnya ancaman serangan berbasis teknologi dan siber yang dinilai lebih sulit diantisipasi dibanding era awal 2000-an karena perkembangan teknologi memungkinkan kerusakan besar dilakukan oleh lebih sedikit pelaku.

"Kita berada di situasi yang sangat berbeda dibanding 2001 dari sisi teknologi, sehingga kini dibutuhkan lebih sedikit orang untuk menciptakan kerusakan maksimal," terang Tracy Walder.

Kekhawatiran lain muncul setelah unit kontraintelijen FBI bernama CI-12 yang berbasis di Washington dibubarkan pada Februari 2026, padahal unit tersebut memiliki tugas memantau ancaman mata-mata asing dan terorisme di wilayah Amerika Serikat.

"Banyak orang kehilangan pekerjaan dan beberapa di antaranya tidak jelas alasannya serta tampaknya bukan karena masalah performa," papar Javed Ali.

Ali juga mengingatkan bahwa keputusan-keputusan internal tersebut jangan sampai mengganggu kemampuan FBI menjalankan misi keamanan nasional. Kegagalan menjaga gambaran intelijen yang utuh terkait aktivitas Iran dapat membuat Amerika Serikat berada dalam posisi yang lebih rentan.

"Harapan saya, keputusan-keputusan yang diambil saat ini tidak berkontribusi terhadap ketidakmampuan FBI menjalankan misi keamanan nasionalnya karena itu akan membuat negara menjadi kurang aman," tutup Javed Ali. 

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic