
Thephrase.id - Wacana boikot terhadap Piala Dunia 2026 yang akan diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko kini mencuat ke permukaan setelah seorang politisi senior Jerman menyuarakan langkah drastis tersebut sebagai respons atas ketegangan diplomatik terkait isu Greenland.
Jürgen Hardt, yang menjabat sebagai juru bicara kebijakan luar negeri untuk partai Uni Demokratik Kristen (CDU), melontarkan gagasan bahwa Timnas Jerman bisa saja menarik diri dari turnamen sebagai upaya terakhir guna menekan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, agar membatalkan ambisinya terhadap Greenland.
Meskipun pernyataan tersebut merupakan sikap pribadi Hardt kepada media Jerman, BILD, Menteri Olahraga Jermna, Christiane Schenderline, memilih untuk bersikap hati-hati dengan menyerahkan segala urusan terkait partisipasi tim kepada Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) serta FIFA sebagai otoritas yang berwenang.
Ketegangan ini bermula dari retorika Trump yang semakin gencar menginginkan penggabungan Greenland ke dalam wilayah Amerika Serikat dengan alasan keamanan nasional, bahkan ia tidak segan mengancam akan memberlakukan tarif perdagangan yang lebih ketat bagi negara-negara yang menghalangi rencana tersebut.
Jerman memegang posisi strategis sebagai anggota terkemuka NATO bersama Denmark, negara pemilik sah Greenland, dan telah mengirimkan personel militer ke pulau Nordik tersebut bersama dengan Prancis serta beberapa negara Eropa lainnya untuk menjaga stabilitas kawasan.
Dalam keterangannya, Hardt menggarisbawahi betapa pentingnya Piala Dunia 2026 bagi citra Donald Trump, akan tetapi ia tetap memiliki secercah harapan agar pemahaman bersama di internal NATO dapat tercapai tanpa harus mengorbankan olahraga internasional.
Suara dari publik Jerman tampak memberikan sokongan yang cukup kuat terhadap wacana ini, di mana hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa sekitar 47 persen warga setuju untuk melakukan boikot jika Amerika Serikat benar-benar mengambil kendali atas Greenland.
Secara teknis, Jerman sebenarnya telah mengamankan tiket menuju putaran final setelah sukses memuncaki Grup A Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Eropa dan dijadwalkan akan bermain melawan Timnas Curacao, Timnas Pantai Gading, serta Timnas Ekuador di Houston, Toronto, dan New Jersey.
Ancaman boikot ini muncul di tengah antusiasme global yang sangat tinggi, di mana FIFA baru mengumumkan adanya lebih dari 500 juta permintaan tiket, dengan Jerman menduduki peringkat keempat sebagai negara dengan peminat terbanyak setelah tiga negara tuan rumah.
Meskipun animo penonton asal Jerman sangat besar, data FIFA menunjukkan bahwa pertandingan babak penyisihan grup Panzer tidak termasuk dalam daftar laga yang paling banyak diburu, berbeda dengan laga Timnas Meksiko melawan Timnas Korea Selatan atau Timnas Afrika Selatan.
Sejarah boikot dalam dunia sepak bola memang tergolong langka, akan tetapi preseden baru saja terjadi ketika Iran memilih untuk memboikot pengundian Piala Dunia pada 5 Desember 2025 akibat adanya pembatasan visa bagi para pejabat mereka.
Jika Jerman benar-benar merealisasikan ancaman boikot ini, maka Piala Dunia 2026 akan tercatat dalam sejarah sebagai turnamen yang paling dipengaruhi oleh gesekan geopolitik antara negara-negara berkekuatan besar di dunia.