
Thephrase.id - Lebih dari 120 kelompok masyarakat sipil mengeluarkan imbauan perjalanan yang memperingatkan bahwa suporter, pemain, jurnalis, dan pengunjung lain yang datang untuk Piala Dunia 2026 berpotensi menghadapi pelanggaran hak serius di tengah kebijakan imigrasi pemerintahan Donald Trump yang disebut semakin keras.
Dalam pernyataan bersama itu, mereka menyebut belum adanya langkah berarti dari FIFA, kota tuan rumah, maupun pemerintah Amerika Serikat membuat para pelancong menghadapi kemungkinan penolakan masuk secara sewenang-wenang, penangkapan, penahanan, hingga deportasi.
Kelompok tersebut juga menyoroti kemungkinan pembatasan perjalanan yang lebih luas, pemeriksaan media sosial secara invasif, penggeledahan perangkat elektronik, serta penegakan aturan imigrasi yang dinilai agresif dan membuka ruang diskriminasi rasial.
Selain itu, mereka mengingatkan adanya potensi pembungkaman kebebasan berbicara, pembatasan aksi protes, peningkatan pengawasan, hingga perlakuan kejam atau tidak manusiawi bagi mereka yang berada dalam tahanan lembaga imigrasi Amerika Serikat.
Imbauan itu turut meminta para pelancong, termasuk ribuan jurnalis yang diperkirakan meliput turnamen, untuk mengambil langkah perlindungan seperti mengamankan perangkat elektronik, menonaktifkan fitur pengenal wajah saat bepergian, serta memberi tahu keluarga atau rekan tepercaya mengenai rencana perjalanan mereka.
Piala Dunia 2026 akan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 dan diperkirakan mendatangkan sekitar 10 juta pengunjung ke 11 kota di Amerika Serikat, menjadikannya salah satu ajang olahraga terbesar yang pernah digelar.
Pada Februari 2026, hanya beberapa hari setelah agen ICE menembak mati Nicole Good di Minneapolis, lembaga tersebut menyatakan para agennya akan memainkan peran penting dalam pengamanan turnamen musim panas ini, situasi yang kemudian memunculkan kekhawatiran baru.
"FIFA hanya berbicara soal hak asasi manusia sambil mendekat ke pemerintahan Trump, dan itu menempatkan jutaan orang dalam risiko bahaya serta pelanggaran hak dasar mereka," tegas Direktur Program HAM ACLU, Jamil Dakwar.
"Sudah saatnya FIFA memakai pengaruhnya untuk mendorong perubahan kebijakan yang nyata dan jaminan yang mengikat agar orang merasa aman bepergian dan menikmati pertandingan," lanjutnya.
"Bayang-bayang penegakan imigrasi musim panas ini telah menjadi kekhawatiran utama organisasi akar rumput di kota-kota tuan rumah," beber Jennifer Li dari koalisi nasional Dignity 2026.
"Dan dengan kurang dari dua bulan menuju turnamen kami masih menunggu komitmen publik dari FIFA maupun penyelenggara lokal mengenai perlindungan bagi warga, pekerja, dan pengunjung, sementara keheningan mereka sangat terasa," sambungnya.
"Kami antusias menyambut para pendukung dari berbagai negara untuk merasakan Piala Dunia dan budaya sepak bola Amerika Utara, tetapi masih terlalu banyak hal yang belum jelas di berbagai kota tuan rumah," jelas Presiden Independent Supporters Council North America, Bailey Brown.
"Sehingga imbauan ini dibuat agar fans datang dengan persiapan matang, tetap aman, dan menghindari masalah yang sebenarnya bisa dicegah," tambahnya.
"Fans, jurnalis, dan siapa pun yang datang ke Amerika Serikat untuk Piala Dunia 2026 berisiko menghadapi situasi hak asasi manusia yang mengkhawatirkan akibat kebijakan imigrasi rasis, penahanan massal, deportasi, serta serangan terhadap kebebasan berekspresi dan protes damai," kata Direktur Advokasi Amerika Amnesty International USA, Daniel Norona.
"Dan jika pemerintah maupun kota tuan rumah tidak bisa menjamin keselamatan semua orang maka turnamen ini akan jauh dari janji FIFA sebagai ajang yang aman, ramah, dan inklusif," tandasnya.