sportPiala Dunia 2026

Piala Dunia 2026 jadi Tambang Emas FIFA, Potensi Tembus Rp1.344 Triliun

Penulis Rangga Bijak Aditya
Apr 19, 2026
FIFA memperkirakan Piala Dunia 2026 mampu menghasilkan output ekonomi global lebih dari 80 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.344 triliun. (Foto: X Piala Dunia)
FIFA memperkirakan Piala Dunia 2026 mampu menghasilkan output ekonomi global lebih dari 80 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.344 triliun. (Foto: X Piala Dunia)

ThePhrase.id - Piala Dunia 2026 belum memasuki hari pertandingan, akan tetapi turnamen yang akan berlangsung pada Juni 2026 itu sudah disebut sebagai proyek ekonomi raksasa yang berpotensi menghadirkan pemasukan luar biasa bagi FIFA dan tiga negara tuan rumah.

Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko akan menjadi penyelenggara bersama untuk edisi pertama dengan format 48 peserta, sekaligus menjadikannya Piala Dunia terbesar sepanjang sejarah dari sisi jumlah tim, pertandingan, dan cakupan wilayah pelaksanaan.

FIFA memperkirakan turnamen tersebut mampu menghasilkan output ekonomi global lebih dari 80 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.344 triliun, angka yang menunjukkan besarnya perputaran uang bahkan sebelum laga pertama dimulai.

Turnamen dengan total 104 pertandingan itu juga diproyeksikan menyumbang 40,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp687 triliun terhadap produk domestik bruto global serta membuka lebih dari 824 ribu lapangan kerja di berbagai sektor.

Dalam siklus bisnis 2023 hingga 2026, pendapatan FIFA sendiri diperkirakan mencapai 11 miliar dolar AS atau sekitar Rp184 triliun, yang berasal dari hak siar, sponsor komersial, lisensi, dan penjualan produk resmi.

Khusus di Amerika Serikat, dampak ekonomi Piala Dunia 2026 diprediksi melebihi 30 miliar dolar AS atau sekitar Rp504 triliun, termasuk 17,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp289 triliun output langsung dan 3,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp57 triliun penerimaan pajak.

Format lintas tiga negara dengan 16 kota tuan rumah memberi peluang baru bagi perusahaan global untuk menjalankan promosi yang lebih dekat ke pasar lokal tanpa kehilangan jangkauan internasional dari ajang tersebut.

Piala Dunia 2026 jadi Tambang Emas FIFA  Potensi Tembus Rp1 344 Triliun
FIFA memperkuat kerja sama dengan YouTube dan TikTok karena konsumsi pertandingan kini bergerak ke video singkat, konten real-time, statistik langsung, dan interaksi. (Foto: X Piala Dunia)

Perusahaan sponsor kini tidak lagi sekadar mengejar pemasangan logo, tetapi ikut masuk ke pengalaman penonton melalui fan festival, platform digital, kampanye interaktif, hingga aktivasi yang dirancang khusus di tiap kota penyelenggara.

Mitra lama FIFA seperti Coca-Cola dan Adidas diperkirakan kembali menikmati lonjakan penjualan, sementara total pemasukan sponsor pada edisi 2026 diproyeksikan melampaui 3 miliar dolar AS atau sekitar Rp50,4 triliun.

Persaingan komersial juga terjadi di luar sponsor resmi, termasuk lewat peluncuran produk bernuansa nostalgia, koleksi fesyen, mainan, hingga barang koleksi yang menargetkan antusiasme penggemar menjelang turnamen.

FIFA juga memperluas lisensi resmi ke berbagai sektor, mulai dari streetwear, kartu koleksi, boneka, makanan, hingga replika trofi, menandakan bahwa bisnis Piala Dunia kini tidak lagi terbatas pada jersey dan syal.

Di ranah digital, FIFA memperkuat kerja sama dengan YouTube dan TikTok karena konsumsi pertandingan kini bergerak ke video singkat, konten real-time, statistik langsung, dan interaksi melalui ponsel saat laga berlangsung.

"Ini adalah kolaborasi inovatif dan kreatif yang akan menghubungkan lebih banyak penggemar di seluruh dunia dengan Piala Dunia FIFA melalui cara yang belum pernah terjadi sebelumnya, membawa mereka ke balik layar dan semakin dekat dengan pertandingan," tegas Sekjen FIFA, Mattias Grafström, dilansir Forbes.

Dengan skala bisnis sebesar itu, Piala Dunia 2026 akan menjadi bukti bahwa sepak bola modern bukan hanya soal pertandingan 90 menit, tetapi juga industri global bernilai triliunan rupiah. (Rangga)

Tags Terkait

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic