e-biz

PLTN 7 GW Disiapkan, Energi Indonesia Makin Terdiversifikasi

Penulis Nadira Sekar
Oct 08, 2026
Foto: Ilustrasi PLTN (magnific.com photo by wirestock)
Foto: Ilustrasi PLTN (magnific.com photo by wirestock)

ThePhrase.id - Kebutuhan energi Indonesia terus berkembang seiring pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, elektrifikasi rumah tangga, hingga penggunaan kendaraan listrik.

Gambaran tersebut terlihat dari konsumsi listrik nasional yang terus meningkat. Mengutip Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), pada 2025 konsumsi listrik per kapita mencapai 1.584 kilowatt hour (kWh), naik dari 1.411 kWh pada 2024. Kenaikan kebutuhan tersebut diperkirakan masih akan berlanjut.

Pertumbuhan kebutuhan listrik juga datang dari perubahan pola konsumsi energi dan ekspansi sejumlah sektor. Konversi kompor LPG menjadi kompor induksi, misalnya, diperkirakan dapat menciptakan tambahan permintaan listrik antara 27,62 GW hingga 53,43 GW. Namun, pada saat yang sama, langkah tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor yang saat ini mencapai sekitar 77,6 persen dari kebutuhan nasional.

Elektrifikasi transportasi juga memiliki peran serupa. Peningkatan penggunaan kendaraan listrik dapat mengurangi konsumsi bensin sekaligus membuka peluang pengembangan industri pendukung di dalam negeri. Setiap tambahan satu juta kendaraan listrik diperkirakan mampu menghemat sekitar 1.250 kiloliter konsumsi bensin per tahun.

Kebutuhan listrik juga datang dari ekspansi industri nasional. Hilirisasi nikel diperkirakan membutuhkan tambahan kapasitas pembangkit listrik captive sekitar 13,6 GW. Sementara itu, permintaan listrik dari sektor pusat data diproyeksikan meningkat dari 640 megawatt (MW) pada awal 2026 menjadi 1,7 GW pada pertengahan 2027.

Dengan kebutuhan listrik yang semakin besar dan berasal dari berbagai sektor, pemerintah kini menyiapkan lebih banyak pilihan sumber energi. Salah satunya adalah pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang ditargetkan memiliki kapasitas hingga 7 GW.

Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim Hashim Djojohadikusumo mengatakan target tersebut telah masuk dalam revisi Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Menurutnya, nuklir akan menjadi salah satu pilar dalam program energi Indonesia.

“Indonesia akan memulai program pengembangan nuklir yang sangat ambisius. Yang terakhir saya dengar adalah target 7 GW masuk dalam master plan energi nasional,” kata Hashim dalam Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026, dikutip dari Antara.

PLTN 7 GW Disiapkan  Energi Indonesia Makin Terdiversifikasi
Foto: Infografis PLTN (dok. ThePhrase.id/Nadira)

Nuklir dipersiapkan sebagai sumber listrik beban dasar atau base load untuk menjaga pasokan tetap stabil, terutama ketika kebutuhan listrik meningkat akibat pertumbuhan industri. Pemerintah juga menargetkan penetapan tapak PLTN pada 2026 atau paling lambat 2027. Sejumlah wilayah seperti Bangka Belitung dan Kalimantan Barat disebut menjadi lokasi yang dipertimbangkan untuk tahap awal dengan teknologi small modular reactor (SMR).

Namun, masuknya nuklir dalam perencanaan energi tidak berarti Indonesia hanya mengandalkan satu sumber pembangkit. Pada saat yang sama, pemerintah juga menargetkan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga 100 GWp.

Melansir RRI.co.id, pengembangan PLTS 100 GWp pada tahap awal difokuskan untuk mengurangi konsumsi diesel di wilayah yang belum terintegrasi dengan jaringan listrik konvensional, termasuk melalui PLTS atap maupun PLTS terapung.

Di sisi lain, pemerintah tetap memanfaatkan bioenergi untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Berdasarkan data KESDM, implementasi B40 sepanjang 2025 disebut mampu menurunkan impor solar hingga 3,3 juta kiloliter dan menghemat devisa sebesar Rp130,21 triliun. Kebijakan tersebut kemudian diarahkan lebih lanjut melalui B50 dan target E20 dalam lima tahun ke depan.

Diversifikasi sumber energi tersebut menjadi semakin penting ketika ketergantungan terhadap energi impor masih menjadi persoalan. Sekitar 77,6 persen kebutuhan LPG nasional masih dipenuhi melalui impor. Pada 2025, sekitar 65 persen konsumsi bensin nasional juga masih harus dipenuhi melalui impor.

Di tengah kondisi tersebut, diversifikasi energi menjadi salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan pada sumber energi tertentu. Nuklir disiapkan sebagai sumber listrik yang stabil, energi surya dikembangkan untuk memperbesar kapasitas energi terbarukan, sementara bioenergi dan elektrifikasi diarahkan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.

Pada akhirnya, pembangunan PLTN 7 GW menjadi salah satu bagian dari perubahan yang lebih besar dalam sistem energi Indonesia. Ketika permintaan listrik terus meningkat, ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak listrik yang dapat diproduksi, tetapi juga oleh seberapa beragam sumber energi yang tersedia dan seberapa besar kebutuhan energi dapat dipenuhi dari dalam negeri. [nadira]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic