
ThePhrase.id - Setelah tidak menjabat lagi, Mantan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, tetap menjadi perbincangan publik. Perbincangannya bukan lagi tentang penyebab dirinya diberhentikan tetapi tentang peluangnya untuk ikut dalam Pilpres 2029. Netizen juga sekarang banyak yang memburu tanda tangan Purbaya yang ada dalam pecahan uang Rp.100.000.
Kesan sebagai orang yang dizalimi dalam proses pemberhentiannya dari jabatan Menteri Keuangan makin memperkuat simpati publik kepada Purbaya Yudhi Sadewa. Pemberhentiannya hanya lewat telepon dianggap publik sebagai sikap tidak menghargai atas apa yang telah dikerjakannya selama 1 tahun ini. Ditambah lagi, panggilan telepon itu dilakukan ketika Purbaya sedang menjelaskan program dan kebijakan pemerintah di depan anggota DPD RI. Purbaya pun keluar dai ruang rapat itu, sudah bukan lagi seorang menteri.
Purbaya dianggap sebagai menteri yang memiliki komunikasi publik yang buruk, terlalu blak-blakan, spontan, bahkan kadang dianggap kurang sensitif. Cara komunikasi ala Purbaya itu dianggap lawan politiknya sebagai ‘ketidaksopanan’ yang akan memecah kekompakan pembantu presiden. Seperti diungkap Jubir Pemerintah, Hasan Nasbi, yang menyebut gaya komunikasi Purbaya yang ‘baku tikam’ dinilai berpotensi merusak kekompakan kabinet.
"Kalau kita bicara dalam konteks pemerintah, ya sesama anggota kabinet, sesama pemerintah enggak bisa baku tikam terus-menerus di depan umum, karena itu akan melemahkan pemerintah," ujar Hasan di laman YouTube pribadinya, Senin (27/10/2025).
Mantan Menko Polhukkam, Mahfud MD secara eksplisit juga mengatakan bahwa komunikasi publik Purbaya Yudhi Sadewa buruk.
“Kelemahan Purbaya yang paling mendasar tuh dua sebenarnya, satu, komunikasi publiknya buruk, kemudian substansi urusannya juga tidak beres," kata Mahfud di kanal YouTube resmi Mahfud MD Official, 14 September 2026.
Menurut Mahfud, gaya komunikasi pejabat negara harus memperhitungkan kompleksitas persoalan ekonomi. Mahfud menilai pernyataan yang terlalu percaya diri dapat menjadi masalah ketika realitas ekonomi tidak berjalan sesuai dengan target yang disampaikan.
Namun, apa yang disebut Mahfud sebagai kelemahan itu, justru menjadi hal yang disukai anak muda terhadap Purbaya. Survei Muda Bicara 2026 mencatat Purbaya sebagai Menteri berkinerja terbaik dengan meraih angka 1850 persen. Purbaya disukai karena komunikatif menjelaskan kebijakan fiskal kepada publik. Purbaya juga berhasil menjaga kesetabilan APBN dan postur keuangan negara di tengah tekanan global. Dalam survei yang diadakan pada 1 hingga 30 Maret 2026 ini, juga mencatat beberapa nama menteri yang disukai anak muda dengan perolehan angka di bawah Purbaya, seperti AHY atau Agus Harimurti Yudhoyono dengan 17,80 persen, Abdul Mu’ti 17,10 persen dan Amran Suliaman 13,90 persen.
Popularitas Purbaya di kalangan media juga cukup tinggi. Purbaya mempunyai news value tinggi. Cara bicaranya langsung, tidak terlalu birokratis, spontan, dan mudah dikutip. Wartawan memperoleh kalimat yang jelas, sedangkan publik mendapatkan bahasa ekonomi yang lebih mudah dipahami.
“Dalam komunikasi kebijakan publik, kemampuan seperti ini adalah aset._ Banyak pejabat justru menghadapi persoalan sebaliknya: komunikasinya sangat aman, tetapi steril, normatif, dan akhirnya tidak dipahami masyarakat,” kata Chazali H Situmorang, Dosen Kebijakan Publik Universitas Nasional, dalam tulisannya di Kompasiana, 20 September 2026.
Keingintahuan publik tentang Purbaya setelah berhenti dari menteri masih tetap tinggi. Video jalan-jalannya bersama sang istri di jalan Braga Bandung yang diunggahnya di Tiktok, sudah ditonton 7,5 juta kali, per 24 September 2026. Purbaya menulis caption video itu dengan Late Post, Selasa kemarin, jalan-jalan malam di Braga, Bandung. Nostalgia jaman baheula nuju ngora keneh.
Demikian juga videonya memberi makan ikan yang diunggah di tiktok pribadinya sudah ditonton 16,4 juta kali. Purbaya memberi caption singkat, memberi makan ikan sebelum mancing. Video ini seperti menjadi pembenaran ucapannya ketika ditanya apa yang akan dilakukan setelah tidak jadi menteri lagi.
“Habis ini mau pulang, mancing di belakang rumah," kata Purbaya usai serah terima jabatan Menteri Keuangan di Kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Selasa (15/9/2026).
Masuk bursa Capres?
Selama ini, citra yang tertanam pada seorang Purbaya adalah pemimpin yang jujur, amanah, transparan dan anti-elitism. Citra ini telah memposisikan Purbaya sebagai figur pro publik dan peduli terhadap isu keadilan. Para pendukungnya membangun narasi sebagai sosok ‘berani', ‘jujur’, dan ‘pro-rakyat’, yang memperjuangkan kebenaran, menolak feodalisme dan praktik kongkalikong politik. Frame ini terbukti efektif menuai simpati publik yang merindukan transparansi dan akuntabilitas yang membuat popularitas melonjak naik. Bahkan netizen hari ini banyak yang berburu uang Rp.100.000 yang ada tanda tangan Purbaya.
Popularitas moncer ini telah membuatnya masuk dalam perbincangan netizen sebagai salah satu bakal calon capres-cawapres Pilpres 2029. Foto Purbaya yang dipasangkan dengan nama-nama populer seperti Anies Baswedan, Dedi Mulyadi, Gibran dan lain-lain beredar di media sosial. Namanya pun mulai masuk dalam jaring para surveyor calon presiden dan calon wakil presiden.
Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) periode 5-19 Juli 2026, mencatat Purbaya memperoleh elektabiltas 1,1 persen dalam simulasi semi-terbuka dengan 20 nama. Sementara itu, survei Media Survei Nasional (Median) yang dilakukan pada 21 Juli hingga 2 Agustus 2026 mencatat nama Purbaya dengan elektabilitas 1,3 persen dalam pertanyaan terbuka.
Putra Purbaya, Yudo Achilles Sadewa, menanggapi isu tersebut dengan menulis di instastory @bc.8a41121a. Yudo menyebut, sang ayah tak mau terjun ke dunia politik. Namun ia pula berandai jika nantinya sang ayah ternyata ikut politik.
“Bapak gak mau ikut politik, tapi seandainya ikut politik di 2029 kira-kira siapa yang cocok jadi wakilnya?," yang dikutip Kamis (24/9/2026).
Namun, apakah benar Purbaya tidak akan terjun ke politik? Bisa ya, bisa juga tidak. Boleh jadi hari ini Purbaya masih menikmati masa pensiunnya dengan mancing dan jalan-jalan. Tapi siapa tahu setelah ini akan ada ketua partai yang datang mengajak kerja sama, terutama partai besar yang tak punya kader yang siap laga. Jangankan seorang ekonom dengan popularitas moncer seperti Purbaya, seorang penjual pisang dan tukang martabak saja langsung tutup lapak dan tinggalkan gerobak, berubah menjadi penjual janji untuk meraih posisi politik. (Aswandi AS)