
ThePhrase.id - Presiden Prabowo Subianto membanggakan program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG) di tengah sorotan masyarakat akibat banyaknya keracunan. Di sisi lain, MBG dianggap lebih mendesak dari lapangan kerja.
Prabowo mengklaim keberhasilan MBG sudah mencapai 99,99 persen. Sementara, permasalahan yang terjadi seperti keracunan yang dialami oleh ribuan siswa diklaim hanya sekitar 0,0008 persen.
"Artinya apa? Artinya 99,99 persen usaha MBG harus dinyatakan berhasil," kata Prabowo dalam Rakernas Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Jawa Barat, Senin (2/2).
Kebarhasilan itu tercermin dari jangkauan penerima manfaat yang mencapai 60 juta, mulai dari ibu hamil, menyusui, dan anak-anak Indonesia. Menurut dia, banyak pihak yang tidak akan menduga MBG akan berhasil, justru meramalkan mengalami kegagalan.
"60 juta dalam 1 tahun 4 bulan. Tidak ada yang menduga kita mampu, tidak ada yang menduga, banyak orang-orang hebat meramalkan pasti gagal, sekian ribu keracunan," ujarnya.
Selain memberi manfaat secara gizi, Prabowo klaim MBG juga sudah menciptakan 1 juta lapangan pekerjaan di Indonesia dari 22.275 dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sudah terbentuk.
Ketua Umum Gerindra itu juga menargetkan lapangan kerja itu terus meningkat mencapai 5 juta lapangan kerja hingga Desember 2026.
"Itu nanti di ujungnya kalau kita sampai 82 juta, kita akan menciptakan 3 sampai 5 juta lapangan kerja," ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy menyebut MBG lebih mendesak dibanding pembukaan lapangan kerja.
Rachmat mengungkapkan bahwa sebenarnya pembukaan lapangan kerja sama-sama penting. Namun, program prioritas Prabowo, MBG dianggap lebih mendesak untuk dijalankan.
"Apakah MBG itu penting? Penting sekali. Apakah MBG lebih penting dari memberi lapangan kerja? Saya mengatakan MBG lebih mendesak daripada lapangan kerja," katanya dalam acara Prasasti Economic Forum di The Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (29/1).
"Tetapi dikatakan, katanya MBG lebih penting daripada lapangan kerja. MBG penting, lapangan kerja penting, tetapi MBG lebih mendesak," imbuhnya.
Rachmat kemudian mengutip adagium 'kasih kail, jangan ikan' atau dapat dipahami dengan memberikan pekerjaan, jangan memberikan bantuan seperti sembako dan lainnya.
Namun, kata Rachmat, kalau lebih dulu dikasih kail, maka akan keburu mati. Hal itu merujuk pada fenomena kelaparan yang cukup tinggi di berbagai pelosok Indonesia.
"Cobalah lihat saudara-saufara kita di ujung pelosok desa kita, mereka lapar, mereka kelaparan. Ketika saya harus mendampingi Pak Presiden meresmikan Sekolah Rakyat, anak-anak kita SMP, SMA tidak bisa baca tulis. Dan itu banyak sekali," bebernya.
Dia menilai MBG sebagai upaya penyelesaian persoalan dasar yang menjangkiti mayoritas masyarakat. Namun, dalam pelaksanaannya tidak hanya mementingkan pembangunan fisik, tapi pembangunan infrastruktur sosial.
"Makan bergizi adalah bagian daripada pembangunan yang harus diselesaikan. karena itu kalau kita bicara infrastruktur, mohon kita tidak dibatasi pada infrastruktur fisik, tapi juga insfrastruktur sosial," tandasnya. (M Hafid)