sportLiga Inggris

Premier League Bersih-Bersih dari Aksi Tarik-menarik, Dorong-dorongan, dan Duel Fisik Tanpa Bola Mulai Musim Baru

Penulis Ahmad Haidir
Aug 21, 2026
Premier League akan menerapkan pendekatan yang lebih tegas terhadap aksi tarik-menarik, dorong-dorongan, serta duel fisik tanpa perebutan bola. Foto Instagram David Raya.
Premier League akan menerapkan pendekatan yang lebih tegas terhadap aksi tarik-menarik, dorong-dorongan, serta duel fisik tanpa perebutan bola. Foto Instagram David Raya.

Thephrase.id - Premier League akan menerapkan pendekatan yang lebih tegas terhadap aksi tarik-menarik, dorong-dorongan, serta duel fisik tanpa perebutan bola di dalam kotak penalti mulai musim baru. Regulasi ini akan diterapkan setelah insiden semacam itu menjadi salah satu persoalan yang banyak mendapat sorotan sepanjang musim lalu.

Keluhan mengenai situasi tersebut sempat disampaikan manajer Everton, David Moyes, setelah pertandingan melawan Manchester United pada Februari 2026. Gol West Ham United yang dianulir ketika menghadapi Arsenal pada Mei 2026 juga menjadi contoh lain karena terdapat sejumlah dugaan pelanggaran yang terjadi secara bersamaan.

Persoalan itu kemudian menjadi salah satu pembahasan dalam konsultasi yang melibatkan kapten tim, pelatih, wasit, dan berbagai pihak terkait pada musim panas. Premier League kini meminta perangkat pertandingan lebih aktif memberikan hukuman terhadap pelanggaran yang dianggap tidak berkaitan dengan upaya memainkan bola.

Perubahan tersebut tidak mengubah aturan dasar permainan, tetapi menempatkan perilaku pemain sebagai salah satu fokus utama wasit, termasuk terhadap aksi menahan lawan yang memberikan dampak nyata terhadap jalannya permainan.

Howard Webb selaku kepala wasit Premier League mengatakan perangkat pertandingan diminta lebih berani memberikan hukuman terhadap pelanggaran yang mereka lihat, dengan mengurangi peringatan dan meningkatkan tindakan langsung terhadap pelanggaran.

"Kami berusaha agar para ofisial memiliki kepercayaan diri sebesar mungkin untuk memberikan hukuman terhadap apa yang mereka lihat, jadi lebih sedikit peringatan dan lebih banyak pelanggaran yang dihukum, dan jika terjadi pengurangan pelanggaran yang dihukum, hal itu seharusnya merupakan hasil dari perubahan perilaku pemain, bukan karena kami tidak lagi menerapkan aturan," ujar Webb dilansir BBC.

Salah satu fokus utama adalah aksi menahan lawan yang dilakukan ketika pemain tidak berusaha memainkan bola, termasuk situasi ketika seorang pemain hanya memperhatikan lawannya, tidak melakukan upaya merebut bola, menggunakan kedua tangan untuk menahan lawan, atau mempertahankan kontak secara terus-menerus dan memberikan dampak terhadap pergerakan lawan.

Dengan pendekatan tersebut, pemain bertahan yang membelakangi arah datangnya bola ketika situasi bola mati dan hanya berusaha menghentikan pergerakan pemain lawan dapat dihukum karena tindakan tersebut dianggap tidak berkaitan dengan usaha memainkan bola.

Penerapan yang lebih tegas juga didorong oleh catatan musim lalu ketika seperempat dari 20 kesalahan intervensi VAR berkaitan dengan penalti yang tidak diberikan dalam situasi pemain dijatuhkan melalui aksi tarik atau pergulatan tanpa bola, meski Premier League tidak menerapkan pendekatan seketat yang terlihat pada Piala Dunia 2026.

Pada Piala Dunia, penjaga gawang mendapat perlindungan lebih besar sehingga aksi bergulat di sekitar mereka lebih banyak ditekan. Premier League tetap mempertahankan ambang batas kontak fisik yang tinggi dan tidak otomatis menganulir gol hanya karena kiper mengalami benturan ketika tidak sedang memainkan bola.

"Kontak masih menjadi bagian dari permainan dan kami tetap mempertahankan ambang batas yang tinggi," kata Webb.

Meski begitu, pergerakan penjaga gawang yang sengaja dibatasi tetap dapat menghasilkan hukuman. Seperti yang terjadi pada David Raya ketika Arsenal menghadapi West Ham, sementara Pro Ref yang kini menjadi badan wasit di Inggris juga telah mengunjungi tempat latihan klub untuk memberikan penjelasan mengenai penerapan pedoman baru.

Dalam rangka persiapan tersebut, para pemain diperlihatkan rekaman sejumlah insiden dari musim lalu yang tidak menghasilkan penalti tetapi akan dianggap sebagai pelanggaran berdasarkan pedoman baru, termasuk aksi Keane Lewis-Potter terhadap Tomas Soucek dan Luke O'Nien terhadap Pascal Struijk.

Webb juga menyoroti perbedaan pandangan pemain terhadap situasi yang berada di area abu-abu, salah satunya ketika Marc Guehi ditarik jatuh Bafode Diakite dan wasit memberikan penalti kepada Crystal Palace, meski terdapat pemain yang menilai Guehi sengaja mencari kontak dan ada pula yang menganggap pelanggaran tersebut jelas.

"Seorang pemain akan mengatakan kepada Anda bahwa jika penalti tidak diberikan, mereka mengharapkan VAR terlibat, karena mereka tahu hal itu akan sangat membuat frustrasi pihak lain di ruangan tersebut yang sejak awal tidak melihat adanya penalti," tutur Webb.

Premier League Bersih Bersih dari Aksi Tarik menarik  Dorong dorongan  dan Duel Fisik Tanpa Bola Mulai Musim Baru
Keluhan mengenai situasi chaos di kotak penalti sempat disampaikan manajer Everton, David Moyes, setelah pertandingan melawan Manchester United pada Februari 2026. Foto Instagram Harry Maguire.

Menurut Webb, keputusan memberikan penalti kepada Guehi di lapangan dapat diterima, tetapi situasi tersebut tidak seharusnya memicu intervensi VAR. Hal ini menunjukkan bahwa perangkat pertandingan harus tetap mempertimbangkan batas antara keputusan subjektif di lapangan dan kesalahan yang benar-benar membutuhkan campur tangan teknologi.

Pro Ref juga tetap menyiapkan informasi mengenai karakter permainan setiap tim sebelum pertandingan melalui analisis yang diberikan kepada wasit, termasuk pola permainan, cara sebuah tim menjalankan situasi bola mati, serta posisi yang dapat membantu perangkat pertandingan mendapatkan sudut pandang terbaik.

"Kami memiliki analis yang sangat terampil yang melakukan banyak pekerjaan sebelum pertandingan dan memberikan informasi kepada ofisial, seperti apa yang mungkin mereka lihat dan bagaimana sebuah tim mengatur permainan," ucap Webb.

Data tersebut tidak dimaksudkan untuk memengaruhi keputusan wasit terhadap pemain tertentu, melainkan membantu mereka mengetahui area yang perlu diperhatikan tanpa menghilangkan sikap objektif ketika pertandingan berlangsung.

Musim lalu, situasi bola mati menghasilkan 269 gol di Premier League di luar penalti dan tendangan bebas langsung, dengan kontribusinya mencapai 25,7 persen dari seluruh gol dan menjadi angka tertinggi di antara liga-liga top Eropa.

Arsenal menjadi tim paling produktif melalui situasi bola mati dengan mencetak 25 gol, sekaligus hanya kebobolan tujuh gol dari situasi serupa. Sedangkan Manchester United berada di posisi berikutnya dengan 21 gol dan Tottenham Hotspur mencatat 19 gol.

Di sisi lain, Liverpool menjadi tim yang paling banyak kebobolan melalui bola mati dengan 19 gol, disusul Chelsea dan Newcastle United yang masing-masing kemasukan 17 gol. Perubahan penerapan aturan berpotensi memengaruhi tim yang mengandalkan maupun kesulitan menghadapi situasi tersebut.

Webb menyadari penerapan kebijakan baru tersebut akan diuji oleh perkembangan taktik setiap tim. Ia menegaskan bahwa konsistensi penegakan aturan menjadi bagian penting agar pemain menyesuaikan perilakunya ketika situasi bola mati berlangsung.

"Jika kami mulai memberikan hukuman terhadap pelanggaran, pemain harus menyesuaikan taktik mereka dan kemudian situasi semacam itu akan berkurang," tegas Webb. 

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic