sportPiala Dunia 2026

Presiden UEFA Menolak Dicalonkan Jadi Orang Nomor 1 FIFA, Gianni Infantino Bisa Melenggang Mulus Pimpin 4 Periode

Penulis Ahmad Haidir
Aug 25, 2026
Presiden UEFA, Alexander Ceferin, menolak untuk dicalonkan sebagai Presiden FIFA. Foto Instagram Gianni Infantino.
Presiden UEFA, Alexander Ceferin, menolak untuk dicalonkan sebagai Presiden FIFA. Foto Instagram Gianni Infantino.

Thephrase.id - Presiden UEFA, Aleksander Ceferin memastikan dirinya tidak akan maju dalam pemilihan Presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027, meski memperkirakan Gianni Infantino bakal menghadapi kandidat penantang dalam pemilihan mendatang.

Infantino tengah mendapat tekanan setelah membatalkan rencana kontroversial untuk menjual sebagian kepemilikan atas kompetisi FIFA kepada investor swasta, menyusul penolakan luas dari sejumlah pihak di sepak bola dunia.

UEFA menjadi salah satu pihak yang paling keras menentang rencana tersebut, bahkan para anggotanya sempat menyatakan akan memboikot Piala Dunia jika proposal itu tetap dijalankan. Badan sepak bola Eropa tersebut juga menyatakan telah kehilangan kepercayaan terhadap Infantino.

Ceferin yang berusia 57 tahun sebelumnya disebut-sebut berpotensi menjadi penantang Infantino. Tetapi ia menegaskan tidak memiliki keinginan untuk memperebutkan posisi tersebut pada Kongres FIFA Maret 2027.

"Saya tidak tertarik karena dua alasan, salah satunya karena saya mencintai UEFA dan senang bekerja di sini, serta saya merasa pada titik tertentu sudah waktunya menikmati hidup sedikit," tegas Ceferin dalam podcast Rest is Politics.

"Alasan kedua adalah kredibilitas saya akan jauh lebih tinggi jika saya tidak tertarik dengan posisi tersebut," lanjutnya.

Ceferin memperkirakan ada dua kemungkinan yang dapat terjadi terhadap Infantino, yaitu Presiden FIFA tersebut memilih mundur karena kehilangan dukungan atau tetap maju dalam pemilihan tetapi menghadapi kandidat lain yang akan menantangnya.

"Salah satu pilihannya adalah dia menyadari bahwa dirinya tidak mendapat dukungan, dan itu bukan hanya dukungan politik dari mereka yang memberikan suara, tetapi juga dukungan dari komunitas sepak bola, para penggemar, pemain, mantan pemain, dan pelatih," ucap Ceferin.

"Pilihan kedua adalah dia tetap maju dalam pemilihan pada Maret, tetapi dalam kasus itu, saya pikir akan ada kandidat yang melawannya, meskipun saya belum tahu siapa," sambungnya.

Rencana yang dibatalkan Infantino sebelumnya mencakup pembentukan perusahaan baru bernama FIFA Forward Enterprise atau FFE yang akan mengelola hak komersial dan tiket seluruh kompetisi FIFA. Sebanyak 21 persen kepemilikannya direncanakan dijual kepada perusahaan investasi swasta.

Sejumlah asosiasi sepak bola kemudian menarik dukungan mereka terhadap Infantino setelah ia dituduh merusak kepercayaan melalui tindakan yang disebut sebagai penipuan dalam surat terbuka yang ditandatangani UEFA, Concacaf, dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).

Seluruh asosiasi sepak bola dari negara-negara Britania Raya juga telah menarik dukungan terhadap Infantino. Presiden FIFA tersebut masih mendapat sokongan dari Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (Conmebol) dan Konfederasi Sepak Bola Afrika (Caf).

Ceferin juga mengkritik keras proposal FFE dan menyebut rencana tersebut lebih buruk dibandingkan proyek European Super League yang pada 2021 sempat mengancam struktur kompetisi klub Eropa sebelum akhirnya runtuh akibat penolakan luas.

"Saya pikir rencana ini bahkan lebih buruk daripada Super League, karena sejumlah klub yang sangat penting memang ingin membuat liga mereka sendiri, yang merupakan tindakan keliru dan akan menghancurkan sepak bola, tetapi dalam kasus ini sepak bola benar-benar akan dijual," beber Ceferin.

"Saya benar-benar yakin rencana tersebut sudah mati, dan sulit membayangkan orang seperti apa yang akan menjual olahraga yang menjadi milik semua orang, karena kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi," tambahnya.

Ceferin mengaku UEFA sebelumnya tidak mengetahui rencana Infantino untuk menjual sebagian kepemilikan kompetisi FIFA tersebut dan baru mengetahui proposal itu melalui pemberitaan media ketika sedang berlibur bersama keluarganya.

"Mereka memainkan narasi bahwa Eropa arogan terhadap kami, bahwa Eropa memiliki cukup banyak uang, tetapi saya membantu mereka yang kecil dan miskin, tetapi saya pikir seseorang harus mengingatkan dia bahwa dia adalah orang Eropa dan bahwa dia didukung oleh UEFA, sesuatu yang dia lupakan," ungkap Ceferin.

Selain polemik FFE, Infantino sebelumnya juga menghadapi sorotan terkait kedekatannya dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump terutama setelah Trump mengungkapkan bahwa dirinya secara pribadi menghubungi Infantino untuk meminta agar hukuman larangan bermain penyerang Timnas Amerika Serikat, Folarin Balogun, dicabut sehingga dapat bermain saat menghadapi Timnas Belgia pada babak 16 besar Piala Dunia 2026.

Ceferin menilai kejadian tersebut menimbulkan persoalan terkait penerapan aturan setelah Trump mengaku meminta Infantino meninjau hukuman Balogun, sementara Infantino menyatakan keputusan tersebut dibuat secara independen.

"Itu lebih dari sekadar mengejutkan, karena kami memiliki aturan, dan jika Anda tidak menghormati aturan sendiri, permainan ini tidak masuk akal, ketika seorang presiden negara mengatakan, 'Saya meneleponnya dan meminta dia melihat masalah tersebut,' kemudian Presiden FIFA mengatakan keputusan itu dibuat secara independen," kata Ceferin.

"Sebagai penggemar sepak bola atau sebagai badan yang mengatur sepak bola, hal tersebut mengejutkan, dan percayalah, hampir semua orang terkejut, hanya saja tidak semua orang berani berbicara," tutupnya. 

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic