
ThePhrase.id - Ketua Umum Pro Jokowi (Projo) Budi Arie berbicara soal kemungkinan adanya potensi perubahan besar situasi politik sebelum Pemilu 2029.
Seraya duduk di sebelah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), Budi mengaku punya insting bahwa pemilu berpotensi bergulir lebih cepat, tidak sampai pada 2029 sebagaimana yang dijadwalkan.
"Tetapi saya ingin sampaikan, tadi saya sudah bisik ke Pak Jokowi. “Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029 Pak”. Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong Pemilu 2029, Pemilu 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap nggak?" Kata Budi dalam video yang beredar, dikutip Rabu (26/8).
Menurut Budi, kondisi masyarakat saat ini mengalami sejumlah anomali yang dapat menjadi penanda adanya percepatan pemilu.
"Dan maksud saya begini loh, saya pengalaman dengan gerak sejarah ini ada yang abnormal di masyarakat saat ini. Ini demo Pati, Madura demo lagi, ikut tandingan. Ah ini udah kayak Pam Swakarsa di 98 ini. Pasti kalah yang preman, cuman maksud saya terjadi anomali-anomali variabel di masyarakat yang membuat kita tidak hanya sekadar memikirkan skenario-skenario konvensional, langkah-langkah, tahapan-tahapan yang sebagaimana mestinya,” ujarnya.
Fenomena sosial, seperti keresahan masyarakat atas pemerintah dan memburuknya ekonomi, disebut menjadi faktor yang mempercepat terjadinya “patahan sejarah”.
"Ini terjadi yang namanya kalau menurut pendapat saya terjadinya yang namanya patahan sejarah. Bagaimana tahun 97 tiba-tiba pemilu berikutnya 99. Dan potensi ini bukan nggak ada, sangat besar dengan keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi saat ini yang betul-betul tidak membuat masyarakat happy,” kata Budi.
Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika itu mengajak agar tidak hanya fokus pada isu “percepatan sejarah”, melainkan juga mempersiapkan alternatif lain.
"Saya, insting aktivis saya mengatakan ini ada sesuatu yang lebih cepat dari yang kita bayangkan. Karena itu saya coba mau membuka wacana aja ke temen-temen supaya berpikir jangan hanya sekadar berpikir '29, harus ada pikiran lain alternatif manakala terjadi percepatan sejarah,” ungkapnya.
Menanggapi hal itu, Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bestari Barus menuding Budi berupaya mengadu domba Jokowi dengan Presiden Prabowo Subianto.
Bestari juga menduga pernyataan itu disampaikan karena dilandasi kekecewaan Budi yang sudah tidak lagi menjabat sebagai menteri dan tidak diterima untuk menjadi kader sejumlah partai.
"Mungkin karena banyak kekecewaan yang dia alami, berhenti jadi menteri, kemudian masuk ke partai Pak Prabowo nggak diterima, ditolak, mau ke PSI juga kami sudah menyatakan tidak akan menerima. Jadi dia seharusnya bisa melihat itu sebagai pelajaran atas apa yang dia pernah lakukan,” kata Bestari.
Menurut Bestari, seharusnya Budi menyampaikan pandangannya itu secara pribadi tanpa membawa nama atau keberadaan Jokowi di sampingnya.
"Ini kan seperti perbuatan gelandangan politik jadinya gitu loh. Yang ke sana nggak, ke sini nggak, tapi lebih banyak mengeluh saja. Kemudian menyatakan bahwa kondisi bisa terjadi percepatan suksesi segala macam. Ini kan sama dengan melempar bola panas yang bisa ditanggapi negatif oleh para pihak dan berpotensi ini merusak hubungan antar dua tokoh bangsa gitu loh,” tandasnya. (M Hafid)