lifestyle

Psikolog: Hubungan Hangat dengan Orang Dewasa Jadi Kunci Anak Berani Laporkan Kekerasan

Penulis Rangga Bijak Aditya
Aug 02, 2026
Ilustrasi hubungan anak dengan orang tua. (Foto: Pexels/Tima Miroshnichenko)
Ilustrasi hubungan anak dengan orang tua. (Foto: Pexels/Tima Miroshnichenko)

ThePhrase.id - Psikolog klinis anak dan remaja Ocha Ananda Suherik, M.Psi., mengungkapkan bahwa hubungan yang hangat dan penuh rasa aman antara anak dengan orang dewasa merupakan hal penting dalam mencegah sekaligus menangani kasus kekerasan terhadap anak.

Menurut Ocha, dalam psikologi perkembangan terdapat konsep secure attachment, yakni hubungan yang responsif, hangat, dan membuat anak merasa aman bersama pengasuh atau orang dewasa di sekitarnya.

“Anak yang merasa didengar, dipercaya, dan tidak dihakimi akan lebih berani mengungkapkan pengalaman yang dialaminya serta mencari pertolongan ketika menghadapi situasi yang membahayakan,” jelas Ocha di Jakarta pada Sabtu (25/7) dikutip Antaranews.

Ia menjelaskan, ketika menjadi korban kekerasan atau perundungan, langkah pertama yang perlu dilakukan anak adalah mencari orang dewasa yang dapat dipercaya, seperti orang tua, guru, anggota keluarga, psikolog, atau sosok lain yang membuatnya merasa aman untuk bercerita.

“Orang tersebut dapat berupa orang tua, guru, anggota keluarga, psikolog, atau orang dewasa lain yang membuat anak merasa aman untuk bercerita,” imbuhnya.

Setelah memperoleh perlindungan dan dukungan, kasus dapat dilaporkan kepada pihak berwenang, seperti UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), kepolisian, Lembaga Bantuan Hukum (LBH), atau lembaga perlindungan anak lainnya.

Tak Bercerita Bukan Berarti Tak Ingin Ditolong

Ocha menilai masih banyak anggapan bahwa anak yang tidak segera bercerita berarti sengaja menyembunyikan kejadian atau tidak ingin ditolong. Padahal, menurutnya, kondisi tersebut jauh lebih kompleks.

“Banyak orang mengira anak yang tidak segera bercerita berarti menutupi kejadian atau tidak ingin ditolong. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks,” katanya.

Ia menjelaskan, kemampuan anak untuk memahami dan menceritakan pengalaman traumatis masih berkembang. Karena itu, sebagian anak hanya menunjukkan perubahan perilaku tanpa mampu menjelaskan penyebabnya.

“Tidak jarang mereka hanya menunjukkan perubahan perilaku, seperti menjadi lebih pendiam, mudah marah, atau menghindari orang tertentu, tanpa mampu menjelaskan penyebabnya,” tukasnya.

Anak Cenderung Diam Saat Merasa Tak Aman

Ocha menambahkan, saat menghadapi ancaman, otak anak secara otomatis mengaktifkan mekanisme bertahan hidup. Akibatnya, respons yang muncul dari luar belum tentu mencerminkan kondisi emosional yang sebenarnya.

“Akibatnya, ekspresi yang terlihat dari luar tidak selalu mencerminkan apa yang sebenarnya dirasakan anak,” tuturnya.

Ia juga mengatakan anak cenderung memilih diam apabila lingkungan tidak terasa aman, terlebih jika pelaku merupakan orang terdekat.

“Kondisi ini semakin sulit apabila pelaku adalah orang yang dekat dengan anak, seperti anggota keluarga, guru, atau orang yang selama ini dipercaya, karena anak dapat mengalami konflik batin antara rasa takut dan keinginan untuk mempertahankan hubungan tersebut,” tandasnya.

Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA), sepanjang 2025 tercatat 35.131 kasus kekerasan, dengan 23.043 kasus atau 65,59 persen di antaranya dialami anak. (Rangga) 

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic