Puan Maharani, Antara Popularitas dan Elektabilitas

- Advertisement -spot_imgspot_img

ThePhrase.id – Di antara sekian banyak nama bakal calon presiden 2024, Puan Maharani adalah nama yang memiliki modal sosial politik yang sangat lengkap. Puan memiliki partai besar, yakni PDI Perjuangan yang siap untuk membackup karena Sang Ibu adalah Ketua Umum partai yang memiliki posisi sangat kuat di partainya.

Posisinya sebagai Ketua DPR RI memberinya ruang bebas untuk bergerak untuk menjadi sosok populer dan dikenal publik. Demikian pula, nama besar kakeknya, sebagai salah satu founding founder negara ini adalah investasi yang menjamin pendukung Bung Karno untuk tetap setia kepada pewarisnya.

Puan juga tampaknya memiliki modal kuat untuk menghadapi rally menuju 2024 itu. Hal itu bisa dilihat dari baliho ukuran raksasa yang tersebar di berbagai kota di Tanah Air dengan beragam tema dan pose. Pembagian sembako yang bergambar Puan Maharani sudah banyak ditemukan di beberapa wilayah. Termasuk di daerah bencara di kawasan Semeru, tak lama setelah terjadi letusan gunung tertinggi di Jawa itu, yang menuai banyak kritikan.

Puan Maharani. (Foto: instagram/puanmaharaniri)

Secara logika sederhana, dengan semua jenis modal yang dimiliknya saat ini, Puan tidak terlalu sulit untuk meraih tujuan politiknya. Namun faktanya hari ini, elektabilitasnya belum juga merangkak naik siginifikan di tengah “effort” maksimal yang telah dilakukannnya selama ini. Bahkan Puan tidak mampu menyaingi elektabiltas saudara se-partainya, Ganjar Pranowo yang selalui berada di ranking atas hampir di semua papan survei.

Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus menilai kampanye yang dilakukan Puan tidak memiliki strategi yang tepat dan terkesan serampangan. Puan juga menurutnya tidak memiliki sensitivitas dan juga empati. Padahal , Puan sudah berulang kali dikritik atas pemasangan baliho-baliho bergambar dirinya yang dinilai salah tempat atau tidak pas.

Lucius berpandangan semestinya baliho memiliki misi politik. Pemasangan baliho Puan hanya memanfaatkan momen semata, termasuk di tempat terdampak bencana alam. Lucius menganggap manuver baliho Puan kali ini bisa menjadi senjata makan tuan yang justru akan membunuh tujuan politik Puan itu sendiri

“Jangan pakai politik cowboy. Asal ada momen, sikat aja tanpa memikirkan dampak politisnya itu. Ini yang jadi aneh dari politik baliho politisi seperti Puan ini. Seolah-olah segala cara digunakan dan ini cara yang diyakini justru akan membunuh tujuan politik sang politisi,” ujar Lucius.

Penilaian Lucius menimpali apa yang terjadi di lapangan. Banyak, baliho-baliho Puan diturunkan dengan dalih penertiban. Alasannya, baliho-baliho tersebut tidak mengantongi izin dari dinas terkait untuk dipasang di wilayah kerjanya.

Tidak hanya soal baliho, publik juga menyorot Puan Maharani tentang adanya instruksi dari Fraksi PDI Perjuangan di DPR yang mewajibkan anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan untuk membagikan sembako dengan kemasan foto Puan. Instruksi ini dibenarkan oleh anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Hendrawan Supratikono. Ia mengatakan bahwa pembagian sembako itu diwajibkan menggunakan tas bergambar Puan Maharani.

“Dibuat seragam dengan foto Mbak Puan Maharani sebagai Ketua DPR/Pembina Fraksi, dan foto anggota yang bersangkutan. Intinya ini bentuk solidaritas fraksi kepada jajaran struktur partai dan masyarakat di akar rumput,” kata Hendrawan.

Bagi-bagi sembako dalam pandangan Lucius Karus, akan merugikan Puan karena akan dianggap terlalu bernafsu mengejar kekuasaan, lantaran sampai harus memanfaatkan masa reses anggota DPR Fraksi PDI Perjuangan untuk membagikan sembako dengan tas bergambar Puan.

Puan Maharani (kiri). (Foto: instagram/puanmaharaniri)

“Mau kampanyekan Puan untuk urusan apa? Apakah jabatan Puan sebagai Ketua DPR dan Pembina FPDIP memang tak dikenal sehingga anggota fraksi PDIP diminta untuk mensosialisasikan dirinya?” kata Lucius.

Lucius menegaskan, dengan pembagian sembako dini ala PDIP ini sesungguhnya mau mengonfirmasi kegagalan Puan ataupun PDIP menjadikan panggung parlemen sebagai senjata kampanye untuk kepentingan Pemilu selanjutnya. Dia meyakini strategi bagi-bagi sembako dengan foto Puan itu malah bakal menyulitkan Puan untuk mendapatkan simpati masyarakat. Alih-alih meroket, elektabilitas diprediksi akan stagnan atau begitu-begitu saja.

“Popularitas Puan mungkin akan tergenjot sedikit tetapi saya enggak yakin dengan elektabilitasnya,” kata Lucius.

Elektabilitas Puan hanya 1 Persen

Lalu bagaimana elektabilitas Puan sekarang setelah memasang baliho secara masif dan membagi sembako bergambar dirinya itu?

Dari berbagai survei yang ada, elektabilitas Puan hanya berkisar pada angka 1 persen. Seperti hasil survei kolaboratif antara Politika Research and Consulting dan Parameter Politik Indonesia beberapa waktu lalu.

Dari suvei elektabilitas simulasi 32 nama, Puan bertengger di urutan 13 dengan perolehan 1,1 persen. Sementara rekannya di PDI Perjuangan, Tri Rismaharini 1,5 persen menempati peringkat ke-11. Ganjar Pranowo lebih jauh lagi meninggalkan Puan yang berada di urutan pertama dengan 23,1 persen.

Puan juga mendapat perolehan suara serupa sebesar 1,1 persen dalam survei terkait elektabilitas capres simulasi 15 nama. Puan menempati urutan ke-10. Sedangkan Tri Rismaharini peringkat ke-9 dengan 1,4 persen dan Ganjar 25,0 persen di urutan pertama.

Puan Maharani. (Foto: instagram/puanmaharaniri)

Perolehan persentase suara lebih kecil justru didapat Puan dalam survei elektabilitas capres top of mind. Persentase Puan hanya 0,8 persen. Perolehan suara itu membuat Puan berada di urutan buncit di antara sembilan figur lain yang unggul di atasnya.

Puan juga mendapatkan elektabiltas minim di wilayah basis PDIP seperti Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur. Di tiga wilayah itu, Puan hanya meraih 1 persen sementara Ganjar Pranowo mendapat suara terbanyak dengan total 47 persen. Untuk wilayah Banten-DKI Jakarta, dan Jawa Barat, Puan malah memperoleh nol persen dan Ganjar 16 persen. Angka 0 persen juga diperoleh Puan di wilayah Maluku-Papua. Sementara di wilayah sama, Ganjar mendapat 12 persen.

Berkaca pada fakta ini, tampaknya Puan Maharani harus mengevaluasi semua langkah dan strateginya agar namanya bisa masuk dalam salah satu bakal capres 2024 mendatang. Meskipun telah memiliki segala persyaratan untuk masuk dalam perhelatan itu, tetapi jika elektabilitas jeblok maka ikut serta dalam kompetisi itu hanya sekadar meramaikan saja karena hasilnya sudah bisa ditebak. Karena publik memilih tidak hanya karena populer tetapi juga karena ada alasan lain yang bersifat pribadi dan rahasia. Makanya dalam hal ini popularitas tidak selalu berbanding lurus dengan elektablitas. (Aswan AS)

- Advertisement -spot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you