
ThePhrase.id - Publik mengkritik Presiden Prabowo Subianto yang kerap melakukan kunjungan kerja (kunker) ke luar negeri. Mereka menilai perjalanan itu sebagai pemborosan anggaran.
Terbaru, Prabowo melakukan kunker ke Prancis pada 28 Mei 2026. Perjalanan itu tercatat sebagai kunjungan kali keempat Prabowo ke negara itu selama menjabat presiden.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari menyebut kunjungan Prabowo tidak seharusnya dinilai berdasarkan frekuensinya, melainkan berdasarkan manfaat dan hasil yang diperoleh.
"Ya kembali lagi, bagaimana kemudian asas kemanfaatan yang dibawa itu juga harus dipertimbangkan atau diperhitungkan," kata Qodari, dikutip dari Antara, Minggu (31/5).
Qodari mengatakan kunjungan Prabowo membawa oleh-oleh yang bernilai besar dan signifikan bagi Indonesia.
"Kita yakin bahwa apa yang bisa diperoleh dari kunjungan ke Prancis itu memang betul-betul bisa besar dan signifikan," ujarnya.
Seperti diketahui, Prabowo sudah melakukan empat kali kunjungan ke Prancis sejak menjabat sebagai presiden.
Kunjungan pertama dilakukan pada 14 Juli 2025 untuk menghadiri Parade Militer Hari Bastille atau Hari Nasional Prancis di Paris.
Kunjungan kedua berlangsung pada 23 Januari 2026. Dalam kunjungan tersebut, Prabowo dan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, membahas penguatan hubungan bilateral kedua negara.
Kunjungan ketiga dilakukan pada 14 April 2026 melalui pertemuan empat mata antara kedua kepala negara untuk membahas penguatan kerja sama strategis di bidang energi, pendidikan, komunikasi digital, dan investasi jangka panjang.
Sementara itu, kunjungan keempat berlangsung pada 28 Mei 2026. Kunjungan ini disebut menghasilkan empat kesepakatan komersial senilai 3,5 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp61,25 triliun dalam rangka penguatan hubungan bilateral Indonesia dan Prancis. (M Hafid)