
Thephrase.id - Mantan gelandang Timnas Belgia, Radja Nainggolan, mengakui mulai mempertanyakan keputusannya membela negara kelahirannya setelah merasakan langsung kehidupan di Indonesia, negara asal ayahnya yang sempat menjadi tempatnya melanjutkan karier bersama Bhayangkara FC pada 2023 hingga 2024.
Pemain berusia 38 tahun itu mengungkapkan bahwa pengalamannya selama berada di Indonesia mengubah pandangannya terhadap negara tersebut, termasuk mengenai besarnya dukungan masyarakat terhadap sepak bola dan peluang yang mungkin didapatkan apabila dahulu memilih memperkuat Timnas Indonesia.
"Jika saya bisa mengulang semuanya, sekarang saya mungkin akan mempertimbangkan untuk memilih Timnas Indonesia," ujar Nainggolan dilansir Nieuwsblad.
Nainggolan menjelaskan bahwa ketika menjalani debut bersama Timnas Belgia pada 2009, dirinya belum mengenal budaya Indonesia karena tumbuh besar di lingkungan masyarakat Afrika dan Afrika Utara di Belgia, sementara sang ayah telah meninggalkan keluarganya sejak ia berusia sekitar lima tahun.
Kesempatan mengenal Indonesia baru datang pada 2013 ketika dirinya menerima undangan kunjungan selama dua pekan untuk mengikuti sejumlah kegiatan, termasuk memberikan pelatihan kepada anak-anak, menjalani wawancara, dan mengunjungi beberapa wilayah sebelum akhirnya kembali datang bersama AS Roma.
Dalam kunjungan pertamanya tersebut, Nainggolan juga bertemu kembali dengan ayahnya setelah bertahun-tahun berpisah, tetapi hubungan keduanya tidak membaik karena sang ayah meminta uang hanya dua pekan setelah mereka bertukar nomor telepon, sehingga komunikasi kembali terputus.
Perjalanan karier Nainggolan membawanya kembali ke Indonesia pada 2023 setelah menerima undangan menjadi duta Piala Dunia U-17, sebelum mendapatkan tawaran memperkuat Bhayangkara FC dengan kontrak enam bulan senilai 400 ribu euro atau sekitar Rp7,7 miliar.
"Saya mendapatkan pengalaman terbaik dalam hidup saya di sana. Saya menerima 400 ribu euro dalam enam bulan. Dengan biaya hidup di sana, saya dibayar sangat berlebihan. Sepiring besar nasi goreng hanya berharga dua euro," ungkap Nainggolan.
Selain menikmati penghasilan besar dengan biaya hidup yang relatif terjangkau, mantan pemain Inter Milan dan AS Roma tersebut mengaku menyukai suasana Jakarta, makanan pedas, iklim tropis, serta keramahan masyarakat Indonesia yang menurutnya tidak membedakan seseorang berdasarkan kondisi ekonomi.
Nainggolan juga kembali menjalin hubungan dengan sejumlah kerabat dari keluarga ayahnya yang tinggal di Indonesia, termasuk pamannya di Bali, meskipun tetap menolak berkomunikasi dengan sang ayah hingga mengetahui kabar kematiannya beberapa waktu lalu.
Setelah mencatatkan satu gol dan tiga assist dalam 10 pertandingan bersama Bhayangkara FC, Nainggolan meninggalkan Indonesia ketika kontraknya berakhir pada Juni 2024, tetapi mengaku sebenarnya ingin kembali bermain di negara tersebut apabila tidak memiliki pertimbangan mengenai pasangan dan anak-anaknya.
Pengalaman tersebut turut membuat Nainggolan membandingkan perjalanan internasionalnya bersama Timnas Belgia dengan peluang yang bisa diperoleh bersama Timnas Indonesia, terutama setelah melihat antusiasme puluhan ribu suporter dan besarnya perhatian terhadap para pemain nasional.
"Sekitar 70 ribu orang datang untuk menyaksikan pertandingan melawan Timnas Vietnam atau Timnas Irak, begitu fanatiknya mereka. Uang juga mengalir deras. Para pemain bahkan disponsori Louis Vuitton, Hublot, Rolex, dan sebagainya," tegas Nainggolan.
"Padahal, pemain internasional seperti Ivar Jenner di sini hanya bermain untuk Jong Utrecht. Ketenaran dan antusiasme di sana bisa dimanfaatkan untuk membangun citra diri, bahkan untuk masa depan setelah pensiun dari sepak bola," sambungnya.
"Dahulu saya tidak memikirkan hal itu, tetapi sekarang, ketika berusia 38 tahun, saya melihatnya secara berbeda. Terlebih jika melihat perjalanan karier internasional saya di sini dan bagaimana semuanya berakhir di bawah Roberto Martinez," tambahnya.
"Saya sebenarnya bisa memiliki karier selama 15 tahun sebagai pemain Timnas Indonesia," tutur Nainggolan yang berdarah Sumatra Utara tersebut.