Rayakan Hari Pariwisata Sedunia di Bali

- Advertisement -spot_imgspot_img

ThePhrase.id – Hari Pariwisata Dunia atau World Tourism Day dirayakan oleh pegiat pariwisata dari seluruh dunia setiap tanggal 27 September sejak tahun 1980. Peringatan ini dirancang oleh Organisasi Pariwisata Dunia atau UNWTO (United Nations World Tourism Organization). Perayaan Hari Pariwisata Dunia yang ke 42 ini akan dilaksanakan di Bali.

Tahun ini Hari Pariwisata Dunia mengangkat tema “Rethinking Tourism” untuk fokus pada potensi dan perkembangan sektor pariwisata serta memikirkan kembali untuk masa depan.

Bali sebagai tuan rumah World Tourism Day memastikan dapat mengadirkan pariwisata yang berorientasi kepada masyarakat, berkualitas dan berkelanjutan. Hal tersebut sesuai dengan tema yang diusung karena peringatan tahun ini memfokuskan kepada masyarakat dan lingkungan.

Tentunya, Bali menjadi pilihan sebagai tuan rumah karena pesona Pulau Dewata yang tiada duanya dan sudah dikenal oleh sebagaian besar masyarakat global. Selain karena pesona alamnya, Bali juga memiliki budaya yang menarik perhatian wisatawan mancanegara.

Pada penutupan acara WTD 2022 hari Kamis, 29 September 2022 akan diadakan tour Magical Bali, Wonderful Indonesia yang akan dilaksanakan di desa pariwisata Penglipuran.

Desa Penglipuran, Bangli, Bali. (Foto: Dok. Kemenparekraf)

Desa Penglipuran terletak di Kabupaten Bangli, Bali. Desa ini sudah tidak asing lagi karena menjadi salah satu destinasi primadona di Bali. Salah satu daya tariknya adalah desa ini dinobatkan sebagai desa terbersih di dunia dan termasuk dalam Sustainable Destinations Top 100 versi Green Destinations Foundation.

Sebagai desa terbersih dan sustainable tentunya wisatawan akan menikmati keasrian dari desa Penglipuran. Wisatawan akan disambut dengan deretan tanaman hijau dengan pemandangan desa yang indah dan udara yang segar.

Selain itu, desa ini bebas dari asap kendaraan karena ketika berkeliling di desa dilarang menggunakan kendaraan bermotor. Wisatawan juga dilarang untuk membuang sampah sembarangan. Untuk tetap menjaga kebersihan, setiap 30 meter desa ini menyediakan tempat sampah.

Selain kebersihan yang menjadi daya tarik, desa ini juga sangat kental dengan budaya nenek moyangnya. Dapat dilihat juga dari tatanan desa yang berdasarkan dari konsep Tri Mandala. Tatanan desa ini dibagi menjadi tiga wilayah yaitu Utama Mandala, Madya Mandala, dan Nista Mandala.

Ritual keagamaan di desa Penglipuran. (Foto: Dok. Kemenparekraf)

Setiap wilayahnya memiliki fungsinya masing-masing. Wilayah utara yaitu area Utama Mandala menjadi tempat suci atau tempat para dewa. Di sinilah tempat masyarakan melakukan ibadahnya.

Sedangkan di bagian tengah, area Madya Mandala merupakan wilayah penduduk dan dapat dilihat bahwa rumah pemukiman dibangun berjajar di sepanjang jalan utama. Kemudian, wilayah yang paling selatan atau area Nista Mandala merupakan zona khusus pemakaman warga desa Penglipuran.

Tak hanya dari tatanan desa, budaya leluhur yang masih dilakukan adalah ritual keagamaan yang dilakukan di Pura Luhur Penglipuran. Ritual ini disebut Ngusaba yang dilakukan untuk menyambut Hari Raya Nyepi.

Penduduk desa ini juga melakukan sembahyang di Pura Penataran setiap 15 hari sekali sesuai dengan ajaran para tetua adat yang diwariskan oleh para leluhur.

Agar budaya di desa ini tetap lestari dan semakin dikenal oleh masyarakat luas, setiap akhir tahun dilaksanakan Penglipuran Village Festival. Bagi yang ingin lebih kenal lebih dalam dengan budaya ini nantikan acara tersebut di akhir tahun! [Syifaa]

- Advertisement -spot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you