
Thephrase.id - Timnas RD Kongo kembali menapaki panggung Piala Dunia dengan beban sejarah panjang yang berawal dari debut penuh luka pada 1974 saat masih bernama Timnas Zaire dan menutup penyisihan tersebut tanpa satu pun gol serta dengan tiga kekalahan beruntun.
Melansir BBC, pada turnamen itu, Timnas Zaire kalah 2-0 dari Timnas Skotlandia, kemudian dihajar Timnas Yugoslavia 9-0, sebelum kembali takluk dari Timnas Brasil dalam penyisihan grup yang sama sekali tidak memberi ruang perlawanan berarti.
Dalam pertandingan kontra Timnas Brasil tersebut, bek Mwepu Ilunga meninggalkan posnya di dinding pertahanan dan menendang bola jauh ke depan ketika lawan bersiap mengeksekusi tendangan bebas. Momen ini kemudian berujung kartu kuning serta menjadi bahan ejekan luas di dunia sepak bola.
Akan tetapi, bertahun-tahun kemudian Ilunga menyebut bahwa aksinya dilakukan secara sengaja sebagai bentuk protes terhadap kondisi yang ia hadapi saat itu, dan bukan karena ketidaktahuan terhadap aturan permainan.
"Saya mengetahui peraturan sepak bola. Saya melakukannya dengan sengaja," kata Mwepu Ilunga kepada BBC pada 2010, lima tahun sebelum ia meninggal dunia.
Pada tahun yang sama, Kinshasa menjadi pusat perhatian dunia ketika menjadi tuan rumah laga tinju legendaris antara Muhammad Ali dan George Foreman yang kemudian dikenal sebagai "Rumble in the Jungle".
Presiden RD Kongo, Mobutu Sese Seko, saat itu menggelontorkan biaya besar untuk memastikan pertarungan tersebut berlangsung di Zaire sebagai bagian dari upaya menempatkan negara itu di panggung global.
Lebih dari lima dekade kemudian, RD Kongo kembali bermain di babak gugur Piala Dunia dan akan menghadapi Timnas Inggris pada babak 32 besar, membawa narasi panjang yang melampaui sekadar pertandingan sepak bola.
Kabala menilai laga tersebut juga merepresentasikan kesempatan simbolis bagi RD Kongo yang selama puluhan tahun dilanda konflik dan korupsi untuk kembali menegaskan identitas serta martabat nasionalnya.
RD Kongo memperoleh kemerdekaan dari Belgia pada 1960, sebelum Mobutu merebut kekuasaan melalui kudeta militer pada 1965 dan mengganti nama negara menjadi Zaire pada 1971 di tengah kondisi ekonomi yang terus memburuk.
Di sisi lain, pada periode tersebut Timnas Zaire justru mencatat prestasi di level Afrika dengan menjuarai Piala Afrika 1968 dan 1974 serta tampil di Piala Dunia setelah sukses lolos kualifikasi.
Pemerintah saat itu memberikan fasilitas berupa rumah dan mobil kepada para pemain, serta menempatkan mereka di bawah pengawasan langsung Mobutu selama persiapan turnamen.
Akan tetapi, situasi internal tidak sepenuhnya stabil ketika Timnas Zaire berangkat ke Jerman Barat pada 1974 meski baru saja menjuarai Piala Afrika beberapa bulan sebelumnya.
Para pemain bahkan sempat menolak bertanding melawan Yugoslavia sebagai bentuk protes terhadap pembayaran bonus yang mereka tuding tidak sampai ke tangan pemain.
Meski akhirnya tetap bertanding, Timnas Zaire kembali menelan kekalahan besar dari Yugoslavia dengan situasi pertandingan yang berjalan berat setelah beberapa insiden termasuk pergantian kiper dan kartu merah di dalam laga.
Momen paling dikenal kemudian terjadi saat melawan Timnas Brasil, ketika Ilunga melakukan aksi menendang bola jauh dari situasi tendangan bebas yang kemudian menjadi salah satu potongan sejarah paling ikonik dalam sepak bola.
Beberapa bulan setelah kegagalan di Piala Dunia, Zaire justru kembali menjadi perhatian dunia ketika Kinshasa menjadi tuan rumah pertarungan tinju antara Muhammad Ali dan George Foreman yang diorganisasi dengan biaya besar oleh pemerintah.
Pertarungan itu dimenangkan Muhammad Ali pada ronde kedelapan melalui kombinasi pukulan yang menjatuhkan Foreman dan merebut kembali gelar juara dunia kelas berat.
Setelah era Mobutu berakhir pada 1997, negara itu kembali berganti nama menjadi RD Kongo, sementara konflik bersenjata berkepanjangan pada 1996 hingga 2003 menelan jutaan korban jiwa di kawasan tersebut.
Nasib para pemain generasi 1974 juga tidak banyak membaik, dengan laporan bahwa sebagian dari mereka kembali tanpa dukungan finansial yang layak dan menghadapi kesulitan hidup setelah karier berakhir.
Kini, RD Kongo kembali ke Piala Dunia setelah penantian panjang, diperkuat generasi baru yang banyak berasal dari diaspora dan bermain di luar negeri untuk memperkuat kualitas.
Pelatih Timnas RD Kongo, Sebastien Desabre, membawa pendekatan stabil dengan konsistensi susunan pemain serta pembangunan karakter yang lebih solid sejak 2022.
Timnas RD Kongo bahkan sudah mencatat sejarah baru dengan meraih poin pertama di Piala Dunia 2026 saat melawan Timnas Portugal serta kemenangan atas Timnas Uzbekistan untuk memastikan langkah ke babak gugur.