
Thephrase.id - Laporan finansial terbaru dari edisi ke-29 Deloitte Football Money League menempatkan Real Madrid sebagai pemimpin daftar klub terkaya dunia dengan pendapatan mencapai 1,16 miliar euro atau setara dengan Rp19,97 triliun.
Keberhasilan Los Blancos ini terbilang sangat fenomenal karena mereka tetap mampu menduduki posisi puncak meskipun gagal meraih trofi Liga Champions maupun gelar juara La Liga pada musim kompetisi sebelumnya.
Raksasa Spanyol lainnya, Barcelona, menunjukkan kebangkitan finansial dengan menempati posisi kedua setelah mengumpulkan pendapatan sebesar 974,8 juta euro atau sekitar Rp16,76 triliun walau harus mengungsi dari stadion Camp Nou.
Bayern Munchen berada di urutan ketiga dengan raihan 860,6 juta Euro atau Rp14,80 triliun, diikuti oleh juara Liga Prancis Paris St-Germain yang menempati posisi keempat dengan total 837 juta Euro atau Rp14,39 triliun.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Liverpool berhasil menyalip seluruh rival domestiknya dan menjadi klub Inggris berpendapatan tertinggi dengan angka 836,1 juta euro atau setara Rp14,38 triliun.
Manchester City harus rela turun dari peringkat kedua ke posisi keenam dunia setelah mencatatkan pendapatan tahunan sebesar 829,3 juta euro yang dikonversikan menjadi Rp14,26 triliun.
Klub asal London Utara, Arsenal, menunjukkan performa bisnis yang stabil dengan menempati peringkat ketujuh dunia lewat total pendapatan 821,7 juta euro atau senilai Rp14,13 triliun.
Penurunan paling drastis dialami oleh Manchester United yang harus terlempar ke posisi kedelapan dengan pendapatan 793,1 juta euro atau Rp13,64 triliun, yang menjadi titik terendah Setan Merah sepanjang sejarah laporan ini.
Keterpurukan finansial Setan Merah diprediksi akan terus berlanjut seiring absennya mereka dari kompetisi bergengsi Eropa musim ini serta kegagalan mereka di turnamen piala domestik Inggris yang sangat berdampak pada pemasukan tiket.
"Jika Anda kembali ke 10 atau 15 tahun yang lalu dan melihat pendapatan tiket pertandingan Manchester United, mereka adalah pemimpin industri. Jika Anda melihat kemampuan mereka untuk menghasilkan pendapatan komersial, itu adalah tolok ukur bagi semua orang yang kemudian pergi ke pasar dan menetapkan strategi mereka. Saya rasa hal itu tidak lagi terjadi saat ini," tulisnya dilansir BBC.
Ketua Kemitraan Deloitte Sports Business Group, Tim Bridge, menegaskan bahwa dominasi mutlak yang pernah dimiliki Manchester United di pasar komersial kini telah hilang sepenuhnya.
Secara keseluruhan, akumulasi pendapatan 20 klub elit dunia mengalami kenaikan sebesar 11 persen hingga mencapai rekor tertinggi baru sebesar 12,4 miliar Euro atau setara dengan Rp213,28 triliun.
Pertumbuhan pendapatan tersebut dipicu oleh perubahan model bisnis klub yang kini mengoptimalkan penggunaan stadion pada hari-hari selain pertandingan, peningkatan kerja sama sponsor, serta performa penjualan retail yang sangat baik.

Turnamen Piala Dunia Antarklub yang diperluas juga memberikan kontribusi signifikan terhadap kenaikan pendapatan hak siar televisi bagi klub-klub yang berpartisipasi dalam ajang tersebut di Amerika Serikat.
"Performa di atas lapangan tetap menjadi pendorong utama bagi klub untuk naik ke jajaran atas peringkat, dengan banyak klub mendapatkan keuntungan dari turnamen klub Eropa dan internasional yang baru dan diperluas," imbuhnya.
"Pada musim 2024-2025, rata-rata klub dalam Money League memainkan lebih banyak pertandingan dibandingkan musim sebelumnya, yang mencerminkan pertumbuhan kompetisi dan performa olahraga dari banyak klub dalam peringkat tersebut," tegasnya.
"Meskipun hal ini menghadirkan peluang finansial yang besar, keseimbangan harus dicapai antara optimalisasi pendapatan dan perlindungan nilai produk di lapangan serta kesejahteraan pemain di tengah jadwal pertandingan yang terus meningkat," bebernya.
Tim Bridge menutup laporannya dengan memberikan peringatan keras bahwa meskipun ada peluang keuntungan besar, kesehatan pemain harus tetap menjadi prioritas utama di tengah jadwal sepak bola yang kian padat dan melelahkan.