
Thephrase.id - Kurang dari enam bulan setelah mengantar Chelsea menjuarai Piala Dunia Antarklub, kebersamaan Enzo Maresca dengan klub London tersebut resmi berakhir di tengah performa liga yang menurun dan relasi internal yang kian merenggang.
Chelsea hanya mencatat satu kemenangan dari tujuh laga terakhir Premier League di bawah arahan Maresca, situasi yang membuat The Blues tertahan di posisi kelima klasemen dengan selisih 15 poin dari Arsenal selaku pemuncak.
Pertandingan terakhir Maresca bersama Chelsea berakhir imbang 2-2 melawan Bournemouth pada 30 Desember 2025, laga yang diwarnai absennya sang pelatih dari sesi media dengan alasan kondisi kesehatan, meski kemudian diketahui ia tengah mempertimbangkan langkah berikutnya dalam kariernya.
Dua hari berselang, Chelsea dan Maresca resmi berpisah, mengakhiri periode yang sebelumnya sempat terlihat harmonis ketika klub berada di posisi tiga besar Premier League dan sukses menyingkirkan Barcelona di Liga Champions pada akhir November 2025.
Pengakuan atas performa tersebut sempat datang pada 12 Desember 2025 ketika Maresca dinobatkan sebagai manajer terbaik Premier League edisi November 2025, sebelum satu-satunya kemenangan pada Desember 2025 justru memicu polemik baru.
"Banyak orang telah membuat 48 jam terakhir ini menjadi yang terburuk bagi saya sejak bergabung dengan klub," ujar Maresca seusai kemenangan 2-0 atas Everton.
Pernyataan tersebut dinilai kurang tepat oleh jajaran pimpinan klub karena disampaikan di tengah situasi positif, sementara di balik layar muncul perbedaan pandangan terkait rekomendasi medis, beban latihan pemain, serta dugaan campur tangan klub dalam pemilihan susunan pemain.
Meski rencana awal Chelsea adalah melakukan evaluasi akhir musim, sumber internal menyebut Maresca semakin tidak nyaman akibat dorongan terkait rotasi pemain, saran pergantian saat pertandingan, serta minimnya perlindungan klub terhadap pekerjaannya.
Ketegangan tersebut berpuncak ketika Chelsea mengonfirmasi perpisahan kedua pihak, di saat para pemain bersiap kembali berlatih dengan jarak poin yang lebih dekat ke peringkat 15 ketimbang posisi tiga besar.

Chelsea memasuki periode krusial dengan jadwal berat menghadapi Manchester City, Arsenal, dan Napoli, sementara target utama The Blues musim ini tetap mengamankan tiket Liga Champions serta melangkah jauh di kompetisi domestik.
Secara internal, manajemen sebenarnya puas dengan capaian Maresca musim lalu, termasuk kelolosan ke Liga Champions, juara Conference League, dan keberhasilan tak terduga menaklukkan Paris Saint-Germain di final Piala Dunia Antarklub 2025.
Dalam kesepakatan awal sejak direkrut dari Leicester City pada 2024 dengan nilai 10 juta poundsterling, Maresca fokus pada aspek kepelatihan sementara struktur teknis, medis, dan transfer dikendalikan manajemen, suatu skema yang belakangan menjadi sumber friksi.
Maresca disebut tidak mempermasalahkan strategi perekrutan pemain muda, akan tetapi menolak adanya pengaruh eksternal terhadap keputusan The Blues, di tengah ketertarikan dari Manchester City dan Juventus yang sempat ia sampaikan kepada klub.
Dinamika semakin kompleks ketika Maresca merasa perannya dibatasi, termasuk penolakan The Blues terhadap aktivitas eksternal dan perbedaan pandangan soal kebutuhan bek tengah seusai cedera Levi Colwill, hingga akhirnya sang pelatih menimbang masa depannya.
Tekanan juga datang dari tribune Stamford Bridge ketika keputusan menarik Cole Palmer dalam dua laga terakhir menuai siulan, suatu momen yang disebut menjadi titik balik dalam hubungan Maresca dengan publik Chelsea.