
ThePhrase.id - Backrooms menjadi salah satu film horor yang paling dinantikan pada 2026. Berangkat dari fenomena creepypasta internet yang berkembang menjadi budaya populer, Backrooms berusaha membawa konsep liminal space ke layar lebar melalui pendekatan yang lebih artistik, psikologis, dan sarat makna.
Film ini mengikuti Clark, seorang mantan arsitek yang kini memiliki toko furnitur. Hidupnya berubah ketika ia menemukan portal misterius di ruang bawah tanah tokonya yang membawanya ke Backrooms, sebuah labirin ruang tanpa akhir yang terasa berada di luar logika dan realitas. Ketika Clark terjebak di dalamnya, sang terapis, Mary, berusaha menelusuri dunia tersebut untuk menemukan dan menyelamatkannya.
Dari sisi visual, Backrooms berhasil menciptakan dunia yang unik dan konsisten. Koridor tak berujung, ruang kantor kosong, pencahayaan fluoresen yang dingin, hingga berbagai ruang liminal yang terasa ganjil menjadi daya tarik utama film ini. Penggunaan gaya found footage juga menambah kesan imersif, membuat penonton seolah ikut tersesat di dalam labirin yang tidak memiliki arah maupun tujuan yang jelas.
Atmosfer menjadi kekuatan terbesar film ini. Alih-alih mengandalkan jump scare atau kemunculan monster secara terus-menerus, Backrooms membangun ketegangan melalui rasa disorientasi, kesunyian, dan ketidakpastian. Dengungan lampu, suara-suara industrial, serta minimnya musik latar berhasil menciptakan suasana yang tidak nyaman dan terus menghantui sepanjang film.

Namun, di saat yang sama, pendekatan tersebut juga menjadi kelemahan utamanya. Backrooms sangat bergantung pada daya tarik konsep liminal space dan ketakutan eksistensial yang muncul dari ruang-ruang kosong tanpa ujung. Bagi penonton yang memang menyukai horor internet atau telah akrab dengan lore Backrooms, elemen ini kemungkinan menjadi daya tarik tersendiri.
Sebaliknya, bagi penonton yang tidak memiliki ketertarikan khusus terhadap konsep tersebut, pengalaman menontonnya bisa terasa kurang menggugah. Meski visual dan atmosfer yang dibangun terbilang kuat, unsur horornya tidak selalu berhasil menghadirkan rasa takut.
Dari segi cerita, alurnya masih relatif mudah diikuti meski sengaja menyisakan banyak ruang untuk interpretasi. Film ini tidak memberikan jawaban yang jelas mengenai asal-usul Backrooms maupun berbagai fenomena yang terjadi di dalamnya. Pilihan tersebut memang memperkuat nuansa misterius yang ingin dibangun, tetapi di sisi lain berpotensi membuat sebagian penonton merasa kurang puas karena terlalu banyak pertanyaan yang dibiarkan tanpa penjelasan.
Pada akhirnya, Backrooms merupakan film horor yang menawarkan pengalaman menonton yang berbeda dari kebanyakan film sejenis. Visual dan atmosfernya berhasil menciptakan dunia yang menarik untuk dijelajahi, tetapi kekuatan tersebut belum sepenuhnya diimbangi oleh cerita maupun elemen horor yang mampu menjangkau penonton secara lebih luas.
Bagi penggemar Backrooms dan horor psikologis yang penuh teka-teki, film ini mungkin menjadi pengalaman yang memikat. Namun bagi penonton yang mencari horor yang lebih langsung dan menegangkan, Backrooms bisa terasa terlalu abstrak untuk meninggalkan kesan yang kuat. [nadira]