lifestyleMovie and Review

Review Film Supergirl: Ambisi Besar yang Belum Tercapai

Penulis Nadira Sekar
Jun 27, 2026
Foto: Poster Supergirl (supergirl.id)
Foto: Poster Supergirl (supergirl.id)

ThePhrase.id - Setelah kesuksesan film Superman (2025) yang membuka harapan baru bagi DC Universe (DCU), Supergirl menjadi salah satu film yang paling dinantikan tahun ini. Kehadiran Milly Alcock sebagai Kara Zor-El pun semakin meningkatkan ekspektasi publik terhadap film kedua dalam semesta baru tersebut.

Sayangnya, alih-alih melanjutkan momentum kuat yang dibangun pendahulunya, Supergirl justru hadir sebagai film yang terasa belum sepenuhnya matang. 

Disutradarai Craig Gillespie dan ditulis Ana Nogueira, film ini mengikuti perjalanan Kara Zor-El yang menjelajahi galaksi bersama anjing kesayangannya, Krypto. Dalam perjalanannya, ia bertemu Ruthye Marye Knoll, seorang gadis muda yang menjadi satu-satunya penyintas keluarganya setelah dibantai oleh Krem of the Yellow Hills.

Awalnya enggan terlibat, Kara akhirnya memutuskan membantu Ruthye menjalankan misi balas dendamnya, sekaligus berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan Krypto yang terluka akibat serangan Krem.

Di atas kertas, Supergirl menawarkan premis yang menarik. Film ini berupaya menghadirkan sosok Kara Zor-El yang lebih gelap dan manusiawi, dengan tema kehilangan, duka, pencarian jati diri, hingga ambiguitas moral sebagai fondasi utamanya. Pendekatan tersebut membuat karakter Supergirl tampil berbeda dari Superman yang selama ini dikenal lebih idealistis.

Milly Alcock pun berhasil memerankan Kara sebagai sosok yang sinis dan keras kepala, tetapi tetap menyimpan kerentanan emosional yang kuat. Humor yang dihadirkan terasa natural, sementara momen-momen yang berkaitan dengan trauma dan kehilangan mampu memperlihatkan sisi manusiawi sang karakter.

Adegan kilas balik mengenai kehancuran Krypton dan kehidupan Kara sebelum tiba di Bumi juga menjadi beberapa bagian terbaik dalam film. Selain memanjakan mata secara visual, momen-momen tersebut memberikan bobot emosional yang lebih dalam terhadap perjalanan hidup tokoh utamanya.

Sayangnya, kualitas akting Milly Alcock belum sepenuhnya ditopang oleh naskah yang sama kuatnya.

Penulisan cerita terasa ambisius, tetapi belum konsisten dalam eksekusinya. Film ini ingin mendefinisikan ulang Supergirl sebagai pahlawan yang lebih kompleks dan dipenuhi luka batin, namun kerap terjebak dalam dialog yang terasa dipaksakan serta perubahan nada cerita yang kurang mulus. Akibatnya, emosi yang dibangun tidak selalu mencapai dampak yang diharapkan.

Permasalahan lain yang cukup menonjol terletak pada pacing. Meskipun durasi film ini hanya satu jam 48 menit, Supergirl terasa lebih panjang dari seharusnya. Alur yang berjalan lambat dan kurang fokus membuat beberapa bagian kehilangan momentum, sehingga cerita yang ditawarkan tidak selalu terasa menggugah.

Karakter antagonis Krem, yang diperankan Matthias Schoenaerts, juga menjadi salah satu titik lemah film ini. Meski Schoenaerts mampu menghadirkan intensitas yang diperlukan, naskah film ini tidak memberinya ruang yang cukup untuk berkembang menjadi sosok lawan yang benar-benar berkesan. Krem hadir sebagai ancaman yang fungsional, tetapi minim kedalaman emosional maupun ideologis untuk mengimbangi kompleksitas karakter Kara.

Di sisi lain, hubungan Kara dengan Ruthye menjadi salah satu elemen yang cukup berhasil menopang cerita. Karakter Ruthye memang terkadang terasa menjengkelkan, tetapi hal tersebut masih dapat dipahami mengingat ia digambarkan sebagai seorang anak yang dipenuhi rasa kehilangan dan hasrat untuk membalas dendam. Dinamika keduanya menjadi cerminan atas kemarahan dan luka yang selama ini dipendam Kara, sekaligus menjadi fondasi emosional bagi perjalanan mereka.

Pada akhirnya, Supergirl merupakan film yang menyimpan banyak potensi, tetapi belum sepenuhnya berhasil memaksimalkannya. Visual yang kuat, tema yang lebih dewasa, serta penampilan memikat dari Milly Alcock menunjukkan bahwa fondasi untuk menghadirkan film Supergirl yang berkesan sebenarnya sudah ada. Namun, fondasi tersebut belum diimbangi dengan penulisan cerita dan ritme penceritaan yang sama solidnya. [nadira]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic