lifestyleMovie and Review

Review Film Wuthering Heights: Adaptasi Indah yang Kontroversial

Penulis Nadira Sekar
Feb 20, 2026
Foto: Poster Wuthering Heights (Instagram/@wutheringheightsmovie)
Foto: Poster Wuthering Heights (Instagram/@wutheringheightsmovie)

ThePhrase.id - Sejak diumumkan, film Wuthering Heights versi terbaru garapan Emerald Fennell langsung menarik perhatian dan menuai kontroversi. Diadaptasi dari novel klasik karya Emily Brontë, film ini memilih pendekatan yang jauh lebih modern dan emosional. Visualnya dirancang dengan sangat artistik, sementara ceritanya disajikan lebih sensual dan intens. Namun, pendekatan tersebut sekaligus memunculkan pertanyaan tentang seberapa jauh film ini masih setia pada esensi cerita aslinya.

Cerita tetap berfokus pada hubungan Catherine Earnshaw dan Heathcliff yang tumbuh bersama di tengah Yorkshire moors. Catherine digambarkan sebagai perempuan liar, impulsif, dan emosional. Ia terjebak antara cinta yang ia rasakan dan tuntutan hidup yang lebih aman secara sosial. Heathcliff tampil sebagai sosok tertutup dengan amarah terpendam, sekaligus menjadi satu-satunya orang yang benar-benar memahami sisi tergelap Catherine.

Saat dewasa, hubungan mereka berubah menjadi ikatan yang destruktif. Catherine memilih hidup yang lebih aman dan diterima masyarakat. Heathcliff merasa dikhianati. Dari sini muncul konflik, kecemburuan, dan kehancuran yang tak terelakkan. Film ini membingkai kisah mereka sebagai romansa terkutuk, di mana cinta dan kepemilikan saling bertabrakan dan perlahan menghancurkan kedua tokohnya.

Sebagai film berdiri sendiri, Wuthering Heights bekerja cukup solid. Margot Robbie tampil meyakinkan sebagai Catherine. Ia mampu menampilkan sisi rapuh sekaligus egois dari karakter tersebut. Sementara itu, Jacob Elordi menghadirkan Heathcliff yang muram dan mengintimidasi, memancarkan luka batin sekaligus dorongan destruktif yang menjadi inti karakternya. 

Kekuatan terbesar Wuthering Heights terletak pada visualnya. Lanskap Yorkshire moors ditampilkan dengan sangat indah, diselimuti kabut tebal, cahaya redup, dan komposisi gambar yang terasa puitis. Banyak adegan terasa seperti lukisan hidup. Salah satu momen paling menonjol adalah adegan Heathcliff menunggang kuda, yang digarap dengan sinematografi dramatis dan emosional. Musiknya juga ikut mendukung atmosfer tersebut. Perpaduan skor orkestra yang melankolis dengan sentuhan modern dari Charli XCX memberi nuansa yang unik dan kontemporer.

Sayangnya, sebagai adaptasi novel, film ini terasa terlalu menyederhanakan banyak hal. Konflik kelas sosial, isu rasial yang melekat pada karakter Heathcliff, hingga siklus balas dendam antargenerasi tidak digarap secara mendalam. Alih-alih menyoroti kompleksitas tersebut, film lebih memilih menempatkan kisah ini sebagai romansa tragis yang indah secara visual. Akibatnya, kehancuran para tokohnya terasa lebih sebagai drama personal, bukan hasil dari benturan sosial yang kompleks.

Pada akhirnya, Wuthering Heights versi Emerald Fennell adalah film yang sangat cantik dan emosional. Visualnya menjadi daya tarik utama dan membuat film ini mudah dinikmati secara estetis. Namun, di balik keindahan tersebut, ada kedalaman cerita yang terasa hilang. 

Bagi penonton baru, film ini bisa terasa memikat dan menggugah. Sementara bagi pembaca setia karya Emily Brontë, adaptasi ini mungkin terasa indah di mata, tetapi kurang menggugah di hati. 

Wuthering Heights telah tayang di bioskop Indonesia mulai 11 Februari 2026 [nadira]

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic