lifestyleMovie and Review

Review The Devil Wears Prada 2: Comeback Stylish atau Sekadar Nostalgia?

Penulis Nadira Sekar
May 08, 2026
Foto: Meryl Streep sebagai Miranda Priestly dan Anne Hathaway sebagai Andy Sach dalam The Devil Wears Prada 2  (© 2026 20th Century Studios/Photo by Macall Polay)
Foto: Meryl Streep sebagai Miranda Priestly dan Anne Hathaway sebagai Andy Sach dalam The Devil Wears Prada 2 (© 2026 20th Century Studios/Photo by Macall Polay)

ThePhrase.id - Hampir dua dekade setelah The Devil Wears Prada menjadi fenomena budaya pop, sekuelnya, The Devil Wears Prada 2, akhirnya hadir dengan ekspektasi tinggi.

Disutradarai oleh David Frankel dan ditulis oleh Aline Brosh McKenna, film ini kembali menghadirkan jajaran pemain ikonik seperti Meryl Streep, Anne Hathaway, Emily Blunt, dan Stanley Tucci, sekaligus memperkenalkan wajah-wajah baru seperti Simone Ashley, Justin Theroux, Lucy Liu, dan Kenneth Branagh.

Sekuel ini melanjutkan kisah Andrea “Andy” Sachs, yang kini telah menjadi reporter ternama di New York. Namun, kariernya mendadak goyah ketika ruang redaksinya ditutup secara tiba-tiba. Di sisi lain, Miranda Priestly tengah menghadapi krisis reputasi di Runway. Situasi ini mempertemukan mereka kembali, dan tanpa diduga, menyeret Andy ke dunia fashion yang pernah ia tinggalkan.

Di awal, film ini terasa sangat familiar, bahkan hampir mencerminkan struktur film pertama. Andy kembali harus menghadapi tuntutan Miranda yang nyaris mustahil. Namun seiring cerita berjalan, film ini mulai bergeser untuk menyentuh isu kemunduran media tradisional dan perubahan lanskap industri majalah.

Arah ini sebenarnya masuk akal, tetapi transisinya terasa kurang mulus. Film ini seperti dua cerita berbeda yang dipaksakan menjadi satu. Satu bertumpu pada nostalgia, sementara yang lain mencoba relevan dengan kondisi saat ini. Hasilnya menarik, tetapi tidak terasa padu.

Review The Devil Wears Prada 2  Comeback Stylish atau Sekadar Nostalgia
Foto: Meryl Streep sebagai Miranda Priestly, Anne Hathaway sebagai Andy Sach, dan Stanley Tucci sebagai Nigel Kipling dalam The Devil Wears Prada 2  (© 2026 20th Century Studios/Photo by Macall Polay)

Dari segi karakter, Miranda Priestly tetap menjadi sorotan utama. Kali ini, penonton diajak melihat lebih dalam dari sudut pandangnya. Dalam film pertama, sosok Miranda terasa jauh dan hampir seperti mitos karena dilihat sepenuhnya dari sudut pandang Andy. Di sini, ia tampil lebih manusiawi dan rentan. Sayangnya, Miranda jadi kehilangan sedikit aura misteriusnya.

Sementara itu, perkembangan karakter Andy terasa kurang signifikan. Meski bukan hal yang sepenuhnya buruk, alur karakternya tidak memiliki bobot emosional yang sama seperti sebelumnya. Subplot mengenai kehidupan asmaranya juga terasa kurang perlu dan agak dipaksakan, terutama karena terlihat hanya untuk mengulang konflik dari film pertama.

Berbeda dengan itu, Emily Charlton justru mencuri perhatian. Emily Blunt kembali menunjukkan timing komedi yang tajam, menjadikan karakternya salah satu yang paling menghibur. Nigel, yang diperankan Stanley Tucci, juga menghadirkan kehangatan dan pesona yang mengingatkan mengapa karakter-karakter ini begitu dicintai sejak awal.

Review The Devil Wears Prada 2  Comeback Stylish atau Sekadar Nostalgia
Foto: Emily Blunt sebagai Emily Charlton dalam The Devil Wears Prada 2 (© 2026 20th Century Studios)

Yang cukup mengejutkan justru datang dari aspek fashion. Untuk film yang sangat mengandalkan estetika, banyak tampilan yang terasa kurang standout. Beberapa momen yang seharusnya ikonik justru terasa datar, sehingga elemen product placement terlihat lebih dominan dibanding sisi aspiratifnya.

Meski begitu, film ini tetap berhasil di hal-hal penting. Akting para pemain solid, dan elemen komedinya bekerja dengan baik. Film ini ringan, mudah dinikmati, dan tidak terasa bertele-tele.

Pada akhirnya, The Devil Wears Prada 2 tidak melampaui pendahulunya, dan memang tampaknya tidak mencoba untuk melakukannya. Film ini lebih mengandalkan nostalgia, menawarkan perjalanan kembali yang nyaman ke dunia yang sudah dicintai penonton. Mungkin bukan film terbaik tahun ini, tetapi tetap menyenangkan untuk ditonton. Dan terkadang, itu sudah cukup. [nadira]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic