
ThePhrase.id - ‘The End of Oak Street’ mungkin bukan film terbaik tahun ini. Namun, di antara deretan film yang sudah dirilis sepanjang 2026, film arahan David Robert Mitchell ini tetap menjadi salah satu tontonan yang paling menyenangkan.
Dibintangi Anne Hathaway dan Ewan McGregor, ‘The End of Oak Street’ memadukan drama keluarga, survival horror, komedi gelap, dan tentu saja dinosaurus. Hasilnya memang tidak sempurna, tetapi cukup seru untuk membuat penonton bertahan sampai akhir.
Berlatar 1982, film ini mengikuti Denise Platt (Anne Hathaway), seorang calon novelis yang tinggal bersama suaminya, Greg (Ewan McGregor), kedua anak mereka, Audrey dan Brian, serta anjing mereka, Starbuck, di sebuah kawasan suburban bernama Oak Street, Michigan.
Kehidupan keluarga ini sebenarnya sudah cukup rumit. Pernikahan Denise dan Greg sedang renggang, sementara Greg diam-diam bekerja sebagai pengantar pizza setelah kehilangan pekerjaan tetapnya. Namun, semua masalah tersebut mendadak terasa kecil ketika sebuah cahaya misterius menyelimuti Oak Street dan mengubah kawasan tersebut menjadi lanskap prasejarah.
Dinosaurus mulai bermunculan dan memburu warga. Denise dan Greg pun harus mengesampingkan masalah rumah tangga mereka demi membawa keluarganya bertahan hidup.
Premis tersebut membuat ‘The End of Oak Street’ menarik sejak awal. Film ini tidak berlama-lama membangun misteri sebelum menunjukkan keanehan yang terjadi di sekitar Oak Street, sehingga rasa penasaran penonton tetap terjaga.

Anne Hathaway menjadi salah satu alasan film ini bekerja dengan baik. Denise terasa seperti karakter yang cukup manusiawi, seorang ibu yang terbiasa merencanakan segala sesuatu tetapi tiba-tiba dipaksa menghadapi situasi yang sama sekali tidak masuk akal. Ewan McGregor juga tampil meyakinkan sebagai Greg, terutama ketika membangun dinamika rumah tangga yang sedang berada di ujung tanduk.
Sayangnya, tidak semua karakter memiliki kekuatan yang sama. Audrey (Maisy Stella) dan Brian (Christian Convery) beberapa kali membuat keputusan yang cukup mengundang helaan napas. Memang, siapa pun mungkin akan panik ketika tiba-tiba dikejar dinosaurus, tetapi beberapa keputusan mereka terasa terlalu tidak masuk akal dan seperti sengaja dibuat untuk menggerakkan cerita.
Dari sisi visual, David Robert Mitchell mengambil pendekatan yang cukup menarik. Kamera tidak selalu menjadikan dinosaurus sebagai pusat perhatian, melainkan kerap membiarkan ancaman berada di latar belakang. Penggunaan wide shot serta ruang-ruang sempit seperti rumah, mobil, dan halaman juga membuat dinosaurus terasa lebih besar dan mengintimidasi.
Desain dinosaurusnya menjadi salah satu kejutan lain. Makhluk-makhluk ini tidak sekadar dibuat untuk terlihat mengagumkan, tetapi terasa liar dan seperti predator sungguhan. Meski begitu, kualitas efek visualnya belum selalu konsisten. Beberapa adegan masih memperlihatkan perbedaan yang cukup jelas antara dinosaurus digital dan lingkungan di sekitarnya.
Namun, pada akhirnya, ‘The End of Oak Street’ berhasil melakukan hal paling penting dari sebuah film dinosaurus: bersenang-senang.
Film ini memang tidak menawarkan sesuatu yang revolusioner. Akan tetapi, aksi yang seru, humor yang cukup menghibur, karakter yang mudah diikuti, dan penutup yang memuaskan membuatnya tetap layak ditonton. Bagi penggemar film dinosaurus, ‘The End of Oak Street’ juga menjadi alternatif yang menyenangkan di tengah dominasi film-film besar di bioskop. [nadira]