lifestyleMovie and Review

Review The Odyssey: Christopher Nolan Hadirkan Kisah Klasik dengan Sentuhan Manusiawi

Penulis Nadira Sekar
Jul 25, 2026
Foto: Poster The Odyssey (Instagram/@theodysseymovie)
Foto: Poster The Odyssey (Instagram/@theodysseymovie)

ThePhrase.id - Christopher Nolan kembali membuktikan kemampuannya menghadirkan kisah berskala besar menjadi tontonan yang bukan hanya megah secara visual, tetapi juga menyentuh secara emosional. Lewat The Odyssey, ia mengadaptasi salah satu karya sastra tertua di dunia menjadi film epik yang terasa dekat dengan penonton masa kini.

Diangkat dari puisi epik karya Homer, The Odyssey mengikuti perjalanan Odysseus (Matt Damon) yang berusaha pulang ke Ithaca setelah Perang Troya usai. Namun, perjalanan itu berubah menjadi pengembaraan selama sepuluh tahun yang dipenuhi monster mitologi, amarah para dewa, dan berbagai ujian yang mengancam nyawanya. Di sisi lain, Penelope (Anne Hathaway) dan putranya, Telemachus (Tom Holland), berjuang mempertahankan kerajaan dari para pelamar yang dipimpin Antinous (Robert Pattinson).

Meski berdurasi hampir tiga jam, film ini terasa mengalir. Setiap persinggahan Odysseus punya peran penting dalam membangun cerita, sehingga ritmenya tetap terjaga hingga klimaks yang memuaskan.

Penampilan para pemain juga menjadi salah satu kekuatan utama film ini. Matt Damon tampil solid sebagai pusat emosional cerita. Anne Hathaway menghadirkan Penelope dengan keteguhan yang tenang, sementara Tom Holland mencuri perhatian lewat perkembangan karakter Telemachus yang terasa alami. Robert Pattinson pun tampil meyakinkan sebagai Antinous, sosok yang bukan sekadar antagonis arogan, tetapi juga simbol kerakusan dan penyalahgunaan kekuasaan.

Dari sisi visual, The Odyssey merupakan pencapaian yang luar biasa. Sinematografi Hoyte van Hoytema memanfaatkan format IMAX 70mm untuk menangkap lanskap yang megah tanpa kehilangan kedekatan dengan para karakternya. Nolan juga tetap mempertahankan pendekatan realistisnya, membuat para dewa dan makhluk mitologi terasa lebih membumi dibanding sekadar tontonan CGI.

Musik garapan Ludwig Göransson semakin memperkuat pengalaman menonton. Perpaduan perkusi, paduan suara bernuansa ritual, dan instrumen yang terinspirasi dari Yunani kuno menghasilkan skor yang megah sekaligus menghantui.

Meski IMAX 70mm menjadi format terbaik untuk menikmati visi Nolan, versi IMAX standar tetap mampu menghadirkan skala visual yang mengesankan.

Bagi yang belum akrab dengan mitologi Yunani, film ini tetap mudah diikuti karena memberikan konteks yang cukup. Namun, pengalaman menonton akan terasa lebih maksimal jika sudah memiliki gambaran dasar tentang kisah aslinya. 

Kalau membaca puisi Homer terasa berat, menonton beberapa video penjelasan The Odyssey di YouTube bisa menjadi pengantar yang membantu. Serial Percy Jackson and the Olympians juga bisa menjadi alternatif untuk mengenal tokoh-tokoh dan dunia mitologi Yunani sebelum masuk ke film ini.

Pada akhirnya, kekuatan The Odyssey bukan terletak pada monster atau para dewa, melainkan pada kisah seorang manusia yang berusaha pulang setelah perang mengubah dirinya selamanya. Nolan berhasil mempertahankan esensi karya Homer sekaligus menghadirkannya dalam bentuk yang terasa segar bagi penonton modern.

Dengan visual yang spektakuler, penampilan para pemain yang kuat, dan emosi yang bertahan hingga akhir, The Odyssey layak menjadi salah satu film terbaik tahun ini.[nadira]

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic