trending

Riset Yayasan DiRI: 59,4% Gen Z di Indonesia Curhat ke AI, Banyak Tentang Cinta

Penulis M. Hafid
Jul 18, 2026

ThePhrase.id - Di tengah pesatnya adopsi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), tak sedikit anak muda atau Gen Z yang menjadikannya sebagai “teman curhat”.

Hasil riset yang dilakukan Yayasan Digital Resilience Indonesia (DiRI) menunjukkan, enam dari sepuluh atau 59,4% Gen Z di Indonesia pernah mencurahkan persoalan pribadinya kepada AI.

Curhatan yang dilakukan paling banyak mengenai pendidikan, percintaan, masa depan, kesehatan, dan keluarga.

Direktur Eksekutif DiRI Farabi Ferdiansah mengatakan hubungan manusia dengan AI saat ini bersifat paradoksal. Di satu sisi teknologi AI menawarkan kemudahan, tapi di sisi lain memunculkan tantangan baru yang perlu diantisipasi. 

Senyampang, lanjut Farabi banyak kalangan juga mulai menyoroti meningkatnya kebutuhan ruang aman bagi generasi muda untuk mendapatkan dukungan emosional di tengah tingginya tekanan akademik, pekerjaan, maupun relasi sosial.

“Dalam riset kami, sekitar enam dari sepuluh responden mengaku pernah ‘curhat’ kepada AI. Hal ini menunjukkan bahwa chatbot telah menjadi ruang alternatif untuk mencari bantuan, berdiskusi, maupun berbagai persoalan pribadi,” kata Farabi dalam keterangannya, dikutip Sabtu (18/7).

“Penelitian juga menemukan bahwa banyak responden menghabiskan waktu lebih dari sepuluh menit dalam satu sesi percakapan, karena merasa lebih bebas berbicara kepada AI dan tidak takut dihakimi,” imbuhnya.

Lebih lanjut, peneliti DiRI sekaligus Direktur Digital Media Research and Consulting, Haris Fatwa menjelaskan, riset menyoroti adanya paradoks krusial di balik fenomena ‘curhat’ kepada AI. 

“Gen Z sebenarnya terliterasi soal bias dan halusinasi AI, tetapi mereka tetap memilihnya sebagai tempat bercerita. Hal ini mengindikasikan tingginya krisis ruang aman dan ketiadaan pendengar tanpa penghakiman di dunia nyata, sehingga mereka rela menoleransi risiko demi mendapatkan responsivitas dan validasi instan,” kata Haris dalam kesempatan yang sama.

Riset DiRI juga menemukan paradoks lain dalam aspek perlindungan data pribadi. Sebanyak 88,7% responden percaya AI mungkin menyimpan data percakapan mereka, 90,9% menilai kebijakan privasi platform AI belum cukup jelas, dan 75,1% khawatir data tersebut dapat disalahgunakan. Meski demikian, 63,2% tetap membagikan cerita pribadi mereka kepada AI.

“Banyak orang muda yang curhat ke AI sebenarnya bukan karena mereka tidak memiliki teman yang bisa dipercaya di dunia nyata, tapi memposisikan AI sebagai alternatif pendengar yang bebas penghakiman. Tapi di saat yang sama, 70,2% responden justru mengeluhkan bahwa AI sering gagal menangkap kedalaman emosi manusia,” tandasnya. (M Hafid)

Tags Terkait

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic