trending

Rocky Gerung: Anak SD Gantung Diri di NTT, Ada yang Salah dalam Kebijakan Pemerintah

Penulis Rangga Bijak Aditya
Feb 04, 2026
Pengamat politik, Rocky Gerung dalam video “Miris, Tak Dibelikan Buku Anak SD Bunuh Diri. Kemiskinan Meningkat, Beban Rakyat makin Berat”. (Foto: Tangkapan layar Youtube/Rocky Gerung Official)
Pengamat politik, Rocky Gerung dalam video “Miris, Tak Dibelikan Buku Anak SD Bunuh Diri. Kemiskinan Meningkat, Beban Rakyat makin Berat”. (Foto: Tangkapan layar Youtube/Rocky Gerung Official)

ThePhrase.id - Pengamat politik, Rocky Gerung menyampaikan pandangannya mengenai kejadian tragis seorang anak sekolah dasar (SD) berusia 10 tahun, yang meninggal dunia setelah gantung diri di daerah Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Kamis (29/1) lalu.

Rocky mengatakan, terjadinya peristiwa yang didasari alasan ekonomi tersebut menandakan ada suatu kesalahan pada kebijakan pemerintah, dalam memastikan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

“Siapa pun yang membayangkan kejadian itu, pasti menemukan ada yang salah di dalam syarat-syarat bangsa memelihara peradaban. Ada yang salah dengan kebijakan pemerintah di dalam memastikan keadilan sosial,” ujar Rocky melalui kanal YouTube Rocky Gerung Official yang tayang pada Selasa (3/2).

Ia mengingatkan seluruh pihak, di tengah isu-isu besar seperti Danantara, IHSG, dan lainnya, publik perlu menyadari bahwa di belakang kebijakan yang memaksa pertumbuhan ekonomi 6-7 persen, ada bagian yang tercecer atau tertinggal.

Rocky menyoroti bagaimana pemerintahan Presiden RI, Prabowo Subianto dalam menggelorakan kembali kebesaran bangsa, baik dalam forum-forum nasional maupun internasional, kemudian dibatalkan oleh adanya peristiwa seorang anak bangsa yang memilih untuk mengakhiri hidupnya karena diduga tidak mampu membeli buku tulis dan pena.

“Buku tulis adalah hak dia, yang seharusnya disediakan oleh negara. Buku tulis adalah kemampuan seseorang untuk memperlihatkan bahwa dia berniat untuk menjadi pemimpin di masa depan, menjadi berguna bagi bangsa, menjadi seseorang yang terdidik,” tukasnya.

Akibat Dipangkasnya Bantuan dari Pusat untuk Daerah

Rocky menilai salah satu faktor terjadinya peristiwa itu karena kebijakan pemerintah dalam memangkas bantuan dari pusat ke daerah, sementara daerah tersebut dikenali pusat sebagai daerah yang tidak mampu menghidupi dirinya sendiri. 

“Pendapatan asli daerah yang minim, kemampuan untuk mengakses sumber daya ekstraktif yang pada akhirnya tidak menghasilkan lagi pendapatan daerah,” kata Rocky.

Menurutnya, hal-hal tersebut merupakan konsekuensi dari kebijakan pemerintah pusat, dan sebagai hasil negative impression (kesan negatif) terhadap prestasi-prestasi pemerintah hari ini, seperti proyek perumahan rakyat, rencana proyek strategis nasional (PSN), hingga hilirisasi.

“Tapi, di hulu ada masalah, yaitu kepekaan terhadap kepapaan warga negara, kepekaan terhadap ketidakmampuan rakyat kita untuk bertahan hidup,” pungkas Rocky.

“Dan itu yang sering harusnya diterangkan bahwa pidato yang berapi-api, semua janji untuk mengejar koruptor, semua isu tentang kebesaran bangsa, bahwa kita hidup dengan negara yang paling berbahagia, tapi kemudian dibatalkan oleh kejadian-kejadian yang bukan sekadar membuat orang tidak percaya lagi,” tandasnya. (Rangga)

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic