
ThePhrase.id – Nilai tukar rupiah yang melemah tajam hingga mendekati Rp17.900 per dolar AS mulai memberi tekanan pada kondisi ekonomi masyarakat. Tak hanya dirasakan pelaku usaha, dampak pelemahan rupiah juga dirasakan rumah tangga yang harus menghadapi kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.
Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Yunan Syaifullah menjelaskan bahwa kenaikan dolar memicu efek berantai karena Indonesia masih bergantung terhadap bahan impor.
Menurutnya, harga bahan pokok seperti tahu dan tempe ikut naik karena sekitar 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih diimpor. Selain itu, harga BBM dan transportasi juga terdampak karena Indonesia masih bergantung pada impor minyak dan energi. Hal inilah yang mengakibatkan kenaikan pengeluaran bulanan masyarakat.
“Sebenarnya, beli atau tidak barang impor, masyarakat tetap terkena efek berantai mulai dari BBM naik, bahan baku naik, hingga biaya produksi meningkat. Kenaikan dolar ini memberi dampak pada seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.
Di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif, masyarakat diminta untuk tidak panik. Yunan menyarankan agar masyarakat memastikan bahwa dana darurat tetap aman dan menunda konsumsi yang tidak mendesak. Yunan juga menyarankan masyarakat untuk memprioritaskan kebutuhan utama terlebih dahulu dan menunda pembelian yang sensitif terhadap dolar, seperti gadget baru.
Selain itu, Yunan turut menyoroti kebiasaan menggunakan layanan kredit instan atau paylater yang dinilai dapat menciptakan ilusi finansial dan berpotensi menguras tabungan. Menurutnya, kebiasaan paylater dapat membuat seseorang merasa terlena karena menciptakan ilusi seolah memiliki uang lebih, padahal sebenarnya sedang menambah utang. Jika tidak dikelola dengan baik, bunga dan denda keterlambatan pembayaran justru bisa menguras tabungan.
Meski situasi ekonomi sedang menantang, Yunan menilai pelemahan rupiah juga bisa menjadi peluang, terutama bagi generasi muda untuk mulai mempelajari skill digital dan membangun side hustle yang berpotensi menghasilkan pendapatan dolar. Menurutnya, kemampuan menghasilkan pendapatan dalam dolar justru bisa menjadi keuntungan saat nilai rupiah melemah.
Sebagai langkap antisipatif, Yunan juga mengimbau masyarakat untuk mengevaluasi arus kas pribadi dan memasngkas gaya hidup konsumtif.
Selain mengatur pengeluaran, masyarakat juga bisa mulai mempertimbangkan investasi untuk menjaga nilai aset. Bank DBS menjelaskan ada beberapa jenis investasi yang dinilai berpotensi menguntungkan saat rupiah melemah.
Menabung Dolar: Tabungan dolar masih menjadi salah satu pilihan investasi yang dianggap efektif di tengah pelemahan rupiah. Kamu hanya perlu membeli dolar saat rupiah menguat dan menjualnya ketika rupiah melemah.
Emas: Kebalikan dengan investasi dolar, harga emas cenderung menurun saat rupiah melemah. Saat inilah kamu bisa membeli emas dan menggunakannya sebagai investasi jangka panjang sambil menunggu waktu yang tepat saat rupiah kembali menguat.
Obligasi Ritel (ORI): ORI menjadi investasi yang relatif aman saat rupiah melemah karena didukung oleh negara. Instrumen ini merupakan obligasi negara yang dijual kepada WNI secara perseorangan melalui agen penjual. [fa]