
ThePhrase.id - Nilai tukar rupiah tengah menjadi sorotan setelah terus mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan sejumlah mata uang global lainnya. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi nasional sekaligus memancing kritik tajam terhadap kebijakan Bank Indonesia (BI).
Melansir Investor.id, nilai tukar rupiah di pasar spot Bloomberg pada Senin (18/5/2026) berada di level Rp17.669 per dolar AS. Sementara terhadap euro, rupiah menyentuh Rp20.547 per euro. Angka tersebut menandai salah satu posisi terlemah rupiah sepanjang sejarah. Pelemahan tersebut terjadi usai libur panjang, di tengah kenaikan harga minyak global dan meningkatnya tekanan eksternal terhadap mata uang negara berkembang.
Melihat hal tersebut, anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mendesak Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo untuk mundur dari jabatannya.
Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PAN, Primus Yustisio, menjadi salah satu pihak yang paling keras mengkritik kondisi tersebut. Dalam rapat kerja DPR bersama BI di Jakarta, Senin (18/5/2026), ia menilai otoritas moneter gagal menjaga stabilitas nilai tukar dan mulai kehilangan kredibilitas di mata publik maupun investor.
“Pak Perry yang saya hormati, kadang kalau kita mengambil tindakan gentleman, itu bukan penghinaan. Mungkin sudah saatnya Bapak mengundurkan diri,” kata Primus.
Menurutnya, kondisi ekonomi Indonesia saat ini menunjukkan situasi yang janggal. Di tengah pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen, rupiah justru terus melemah hingga menyentuh rekor terendah terhadap dolar AS.
Primus juga menyoroti pelemahan rupiah yang terjadi hampir terhadap seluruh mata uang utama dunia, bukan hanya dolar AS. Ia mempertanyakan efektivitas langkah BI dalam menjaga stabilitas kurs.
“Ini yang menurut saya harus tajam dipertanyakan, di pertemuan terakhir saya pertanyakan (rupiah) di Rp16.800 kenapa rupiah kita ini lemah. Kalau dibandingkan, dan ironisnya, (melemah) terhadap semua mata uang,” ujarnya.
Kritik terhadap BI juga datang dari anggota Komisi XI DPR lainnya. Anggota DPR dari Fraksi PDIP, Harris Turino, menilai pelemahan rupiah tidak semata dipicu faktor global, tetapi juga persoalan domestik seperti defisit transaksi berjalan, arus modal keluar, hingga menurunnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Sementara itu, anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Golkar, Eric Hermawan, mengusulkan agar BI mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate guna menjaga stabilitas rupiah di tengah penguatan dolar AS.
Di sisi lain, kalangan ekonom menilai tekanan terhadap rupiah memang dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik. Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan pelemahan rupiah dipicu inflasi energi global, ekspektasi suku bunga tinggi di AS, serta meningkatnya permintaan terhadap dolar AS.
Dari dalam negeri, tekanan juga datang dari capital outflow dan penilaian negatif sejumlah lembaga internasional terhadap prospek ekonomi Indonesia, yang dinilai turut menekan sentimen pasar terhadap rupiah. [nadira]