
ThePhrase.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali berada di level terlemah. Pada perdagangan Kamis (4/6/2026) pukul 06.45 WIB, mata uang rupiah sempat terjungkal hingga menembus level Rp18.015 per dolar AS. Angka ini melemah sekitar 90 poin dibandingkan dengan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.925 per dolar AS.
Sejumlah analis menilai tekanan terhadap rupiah masih didorong oleh faktor eksternal, terutama meningkatnya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah
Melansir Kompas.com, Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menjelaskan bahwa ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah menjadi motor utama pelemahan ini. Kondisi tersebut memaksa investor global untuk menyelamatkan modal mereka ke aset aman (safe haven), terutama dolar AS.
"Situasi masih belum beres di Timur Tengah, masih belum jelas apakah perdamaian akan terjadi dalam waktu dekat. AS dan Iran masih terlihat saling serang. Dengan situasi ini, dollar masih kuat sebagai aset safe haven," ujar Ariston
Lebih lanjut, Ariston memaparkan bahwa ketegangan geopolitik tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Lonjakan harga komoditas ini menjadi sentimen negatif yang membebani Indonesia, mengingat statusnya sebagai negara yang masih mengimpor sebagian besar kebutuhan energinya (net-importir minyak).
Di sisi lain, mengutip laporan Katadata.co.id, keperkasaan dolar AS juga ditopang oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Data ekonomi terbaru menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS masih sangat solid. Indikator ini memperkuat spekulasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan di level tinggi (higher for longer) dalam jangka waktu yang lebih lama. Dampaknya, aset berbasis dolar AS tetap menjadi primadona investor, sekaligus kian menyudutkan mata uang negara berkembang (emerging markets), termasuk rupiah.
Meski sentimen global menjadi faktor dominan, pasar juga mencermati sejumlah perkembangan di dalam negeri. Kenaikan inflasi pada Mei 2026 serta beredarnya spekulasi mengenai kondisi fiskal pemerintah turut memengaruhi psikologi investor.
Di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah, Bank Indonesia (BI) memastikan akan terus memantau perkembangan pasar keuangan global maupun domestik serta mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas pasar.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan bank sentral akan terus hadir di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal ekonomi nasional.
“BI terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan,” kata Denny dalam keterangan tertulis, Rabu (3/6/2026).
Menurutnya, BI juga akan terus mengambil langkah-langkah yang diperlukan agar volatilitas nilai tukar tetap terkendali dan pasar keuangan domestik dapat berfungsi dengan baik di tengah tingginya ketidakpastian global. [nadira]