
ThePhrase.id - Mata uang rupiah kita terjun bebas, terburuk sepanjang sejarah. Situasi geo politik yang tidak menentu efek dari perang Iran dengan Amerika - Israel di Timur Tengah, disebut ikut memberi pengaruh pada nilai rupiah. Sebab lainnya karena investor menarik uangnya di pasar modal membuat rupiah makin tertekan. Namun ada pengamat yang melihat rupiah tertekan karena mis kelola pemerintahan Prabowo-Gibran.
Per Senin, 18 Mei 2026, rupiah menukik di angka Rp 17.600 per 1 US Dolar. Tren melemah tajam rupiah ini sudah terjadi sejak April 2026 lalu. Sebuah tren yang mengkhawatirkan karena akan berdampak pada ekonomi negara dan masyarakat. Namun Presiden Prabowo Subianto menepis anggapan negatif terkait perekonomian Indonesia yang diramal suram.
"Saya yakin sekarang ada yang selalu sebentar-sebentar "Indonesia akan collapse, akan chaos"... Orang rakyat di desa enggak pake dolar kok," kata Prabowo saat peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu 16 Mei 2026.
Presiden Prabowo pun memastikan kondisi Indonesia masih aman, baik dari sisi pangan hingga energi, meskipun banyak negara lain yang panik.
Presiden benar bahwa masyarakat desa tidak bertransaksi dengan dolar, namun mereka harus membeli barang dan jasa yang lebih mahal dari sebelumnya sebagai akibat melemahnya rupiah ini. Terutama barang atau produk yang bahan bakunya impor, seperti tahu dan tempe. Saat ini Indonesia masih impor sekitar 20 persen barang modal, seperti mesin-mesin pabrik, robot industri, pesawat, kereta sampai peralatan laboratorium. Sebanyak 9 persen impor Indonesia berupa barang konsumsi, seperti buah, daging, baju, sepatu, ponsel, laptop, kosmetik, skincare, sampai kedelai yang impornya lebih dari 90 persen.
"Ini membuat cost of production, biaya produksi produsen domestik menjadi semakin mahal," kata Teuku Riefky, peneliti di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB Universitas Indonesia.
Yang paling terasa adalah pada energi, BBM dan gas elpiji. Impor minyak mentah saat ini mencapai lebih dari 360.000 barel per hari. Sementara impor LPG sangat tinggi karena konsumsi yang mencapai 8,5 juta ton per tahun, jauh melampaui produksi kilang domestik yang hanya berkisar 1,3 juta ton per tahun. Efeknya langsung terasa pada perubahan drastis harga BBM dan elpiji non subsidi yang naik tajam.
Peneliti LPEM FEB UI, Teuku Riefky mengidentifikasi anjloknya rupiah ini disebabkan oleh faktor eksternal dan domestik. Faktor eksternal ini adalah perang AS-Israel dengan Iran yang membuat distribusi minyak dan gas terhambat, harganya jadi melambung dan belum bisa diprediksi kapan situasi ini akan berakhir. Akibatnya, para pemodal menarik uang atau investasinya dari perusahaan, surat berharga, deposito, properti dan investasi lain dari negara berkerkembang, lalu memindahkan ke negara lain yang lebih aman dan stabil.
"Faktor eksternal ini dirasakan bukan hanya Indonesia, tapi berbagai negara berkembang itu merasakan arus modal keluar, sehingga itu melemahkan rupiah," ujar Teuku Riefky.
Adapun, faktor dalam negeri (domestik) berupa pemasukan dan pengeluaran negara, cicilan utang dan uang cadangan ikut mempengaruhi. Prospek kondisi fiskal Indonesia ini mendapat peringatan dari lembaga pemeringkat kredit dunia Moody's dan Fitch. Lembaga ini melihat prospek negatif pada Indonesia karena ketidakpastian kebijakan dan pendapatan rendah tapi belanja tinggi. Artinya ada risiko kondisi keuangan negara memburuk ke depannya.
"Ini membuat investor ragu terhadap kapasitas pembayaran APBN kita, membuat terjadi capital outflow arus modal keluar... Ini juga memicu pelemahan rupiah," kata Riefky
Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said menilai melemahnya rupiah dan anjloknya harga saham di pasar modal hanyalah simptom atau gejala saja dan bukan masalah sesungguhnya. Maka intervensi Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah dan intervensi Danantara untuk menjaga stabilitas harga saham di pasar modal, menurut Sudirman, tak ubahnya hanya seperti minum paracetamol yang hanya menghilangkan gejala tetapi tidak mengobati penyakitnya.
“Akar persoalannya ada pada aspek-aspek fundamental, seperti aspek tata Kelola, aspek penegakan hukum, aspek leadership, sampai pada integritas dari para penyelenggara negara,” kata Sudirman Said di Hersubeno Pont, 10 Mei 2026.
Dari persoalan fundamental ini, kata Sudirman yang menyebabkan munculnya masalah seperti rupiah turun, harga saham turun, PHK di mana-mana, investasi tidak ada, daya beli masyarakat turun dan lain-lain.
Sayangnya, kata Sudirman, respon pemerintah terhadap pihak-pihak yang menyuarakan hal ini bukannya refleksi atau bercermin tetapi adalah tindakan-tindakan kuratif refresif. Ibarat penyakit, tidak dilakukan CTScan atau diagnosa yang baik untuk mencari asal-usul atau akar masalahnya lalu mengobati secara menyeluruh, tetapi hanya mengobati pada rasa sakit atau gejalanya saja. Kerusakan atau masalah fundamenetal ini, menurut Sudriman, sudah dilakukan sejak pemerintahan sebelumnya, namun tidak segera diperbaiki oleh pemerintahan sekarang, justru malah melanjutkan kerusakan itu.
Sementara itu Analis Politik dan Intelijen Universitas Nasional, Jakarta Selamat Ginting menyebut postur Pemerintahan Prabowo-Gibran yang terlalu gemuk menyebabkan kekisruhan informasi dan komunikasi politik pemerintah. Para menteri memiliki tim komunikasi sendiri-sendiri yang sering menyampaikan pesan yang sama dengan pesan dalam partai politiknya. Sehingga tidak jelas mana komunikasinya sebagai menteri dan sebagai anggota partai politik. Termasuk Tim Komunikasi Presiden yang tumpang tindih.
“Kan enggak jelas, ada Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunkasi, Hasan Nasby, Apa bedanya dengan Kepala Bakom, Badan Komunikasi Pemerintah, Qodari. Ada lagi juru bicara Kantor Staf Presiden, belum lagi Sekretaris Kabinet seperti menjadi juru bicara para menteri. Kan enggak jelas ini pola komunikasinya,” kata Ginting dalam Madilog, 14 Mei 2026.
Ketidakjelasan komunikasi ini, menurut Ginting akan merugikan Presiden Prabowo sendiri karena berdampak pada kepercayaan pasar. Para pelaku ekonomi akan menilainya sebagai ketidakpastian yang membuat mereka menahan investasi atau menarik uangnya.
Dengan melihat gejala rupiah yang terus bergerak menuju Rp20.000 per 1 US Dolar, apakah kita sebagai warga negara harus tenang-tenang saja dengan berpegang pada ucapan Presiden Prabowo bahwa semua dalam keadaan aman dan terkendali. Apalagi kita tidak memakai dollar untuk belanja ke warung atau pasar. Atau kita kita ikut cemas dan waspada dengan prediksi para ekonom bahwa krisis sudah di depan mata?
Tentu saja, yang terbaik adalah tetap melakukan kegiatan sehari-hari dengan tidak panik dan hati yang tenang. Sebab, dalam situasi turbulensi atau goncangan, yang berbahaya itu bukan masalahnya sendiri tetapi kepanikan ketika menghadapi masalah itu. (Aswandi AS)