
ThePhrase.id - Di tengah meningkatnya kebutuhan listrik global dan perubahan iklim, transisi menuju energi bersih menjadi agenda prioritas banyak negara. Di Asia Selatan, Bangladesh muncul sebagai salah satu negara yang bergerak agresif dalam mempercepat pengembangan energi terbarukan, khususnya tenaga surya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Bangladesh sukses memperkuat posisinya sebagai salah satu emerging hub energi hijau. Pemerintah setempat menargetkan porsi energi terbarukan mencapai 20 persen pada 2030 dan meningkat menjadi 30 persen pada 2040.
Pemanfaatan energi surya pun berkembang pesat di negara tersebut. Saat ini, kapasitas energi terbarukan Bangladesh telah mencapai lebih dari 1.559 MW dengan tenaga surya mendominasi bauran energi hijau mereka. Pertumbuhan tersebut didorong oleh regulasi yang suportif, peningkatan investasi asing, serta pengembangan teknologi energi bersih.
Potensi itulah yang mulai menarik perhatian berbagai perusahaan energi global, termasuk dari Indonesia. Melalui Pertamina NRE (New & Renewable Energy), Indonesia resmi menjajaki peluang emas proyek energi surya di Bangladesh lewat kolaborasi strategis bersama Copenhagen Urban Solar Parks BD Ltd (CUSP).
Penjajakan kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Direktur Utama Pertamina NRE, John Anis, dan Chairman CUSP, Ziaur Rahman, di Grha Pertamina, Jakarta, Rabu (13/5). Kesepakatan ini menjadi langkah awal kedua perusahaan untuk mengeksplorasi peluang investasi dan pengembangan proyek energi surya di Bangladesh.
Melalui kerja sama tersebut, kedua pihak akan melakukan studi kelayakan yang mencakup aspek teknis, pasar, bisnis, lingkungan, hukum, hingga risiko proyek. Selain pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (solar PV), kolaborasi ini juga membuka peluang kerja sama dalam operasi dan pemeliharaan (operation & maintenance/O&M), pertukaran pengetahuan, hingga penerapan teknologi energi terbarukan.

Direktur Utama Pertamina NRE, John Anis, mengatakan kolaborasi ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas pengembangan energi hijau di tingkat internasional. Menurutnya, kerja sama lintas negara semakin penting di tengah ketidakpastian global dan meningkatnya kebutuhan energi berkelanjutan.
“Di tengah situasi global yang penuh dengan ketidakpastian, kolaborasi ini menjadi momentum penting dan langkah strategis bagi pengembangan bisnis energi terbarukan di Indonesia sekaligus mendukung kebutuhan energi bersih yang berkelanjutan di Bangladesh,” ujar John Anis.
Ia menambahkan, pengembangan proyek di Bangladesh juga berpotensi memperkuat portofolio internasional Pertamina NRE yang sebelumnya telah berkembang di Filipina. Saat ini, Pertamina NRE tercatat memiliki kapasitas instalasi terpasang lebih dari 1 GWp di Filipina dan ditargetkan meningkat menjadi 2,6 GWp pada akhir tahun ini.
Sementara itu, Chairman CUSP, Ziaur Rahman, menilai kemitraan dengan Pertamina NRE dapat membuka peluang sinergi yang lebih luas dalam pengembangan energi surya di Bangladesh. Ia berharap kolaborasi tersebut mampu menghadirkan solusi energi bersih yang inovatif dan berkelanjutan.
Melalui kerja sama ini, Pertamina NRE dan CUSP berharap dapat mendukung percepatan transisi energi global sekaligus target Net Zero Emission Indonesia 2060. Selain itu, kolaborasi ini diharapkan mampu mendorong pengembangan investasi hijau, pertukaran teknologi, serta penguatan ketahanan energi di kedua negara. [nadira]