
ThePhrase.id - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menghentikan penugasan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) imbas gugurnya tiga prajurit TNI.
"Dengan argumentasi ini, seharusnya PBB, New York segera mengambil keputusan dan langkah yang tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL dan atau memindahkan lokasi mereka ke luar medan pertempuran yang masih membara saat ini," kata SBY dalam unggahannya di akun X @SBYudhoyono, dikutip Senin (6/4).
SBY juga mendorong pemerintah Indonesia untuk meminta pertanggungjawaban PPB atas insiden tersbeut. Termasuk mendesak lembaga dunia itu untuk melakukan investigasi secara serius, jujur, dan adil.
"PBB (utamanya UNIFIL) dengan penuh rasa tanggung jawab, harus bisa menjelaskan mengapa sejumlah insiden beruntun yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka “peacekeeper” dari Indonesia itu terjadi," ujarnya.
SBY mengungkapkan bahwa investigasi dalam situasi pertempuran memang tidak mudah dilakukan, tapi harus tetap dilakukan hingga membuahkan hasil yang dapat dinalar dan masuk akal.
Lebih lanjut, SBY menegaskan bahwa Kontingen Garuda XXIII/S yang sedang mengemban tugas di Libanon saat ini adalah untuk menjaga perdamaian (peacekeeping), bukan membuat perdamaian (peacemaking).
Menurutnya, penjaga perdamaian tidak dipersenjatai secara kuat dan tidak juga diberikan mandat untuk melaksanakan tugas-tugas pertempuran.
"Ini diatur dalam Chapter 6 Piagam PBB. Bukan Chapter 7 yang punya misi “to enforce the peace”, dalam arti melaksanakan tugas yang “lebih keras” untuk sebuah “peacemaking”," tuturnya.
Menurutnya, penjaga perdamaian seharusnya bertugas di “blue line” atau di wilayah “blue zone” atau bukan merupakan daerah pertempuran atau “war zone”.
"Sekarang ini, kenyataannya yang semula mereka berada di sekitar “Blue Line” kini sudah berada di “war zone”, yang sehari-hari sudah berkecamuk pertempuran antara pihak Israel dan Hizbullah," ucapnya.
"Bahkan dikabarkan pasukan Israel sudah maju 7 km dari “Blue Line”. Keadaan ini tentu sangat berbahaya bagi “peacekeeper” karena setiap saat bisa menjadi korban dari pertempuran yang tengah berlangsung," imbuhnya.
Dalam kesempatan itu, SBY menyampaikan duka cita atas gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi perdamian yang ditugaskan UNIFIL.
Adapun ketiga prajurit yang gugur adalah Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar, Serka (Anumerta) Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadon.
Menurutnya, seorang prajurit memang disumpah untuk siap mengorbankan jiwa dan raganya ketika tugas negara memanggilnya.
"Namun, saya bisa merasakan duka yang mendalam dari keluarga mereka (istri, anak dan orang tua) yang hadir di Cengkareng semalam. Saat saya ikut mengucapkan bela sungkawa yang mendalam kepada mereka, saya tahu arti air mata yang jatuh di pipi mereka," tandasnya. (M Hafid)