
ThePhrase.id - Selebrasi liar Pep Guardiola di pinggir lapangan Wembley Stadium menjadi penanda bahwa hasrat kompetitifnya belum padam. Momen itu terjadi setelah gol kedua Nico O'Reilly dalam rentang empat menit memastikan kemenangan 2-0 Manchester City atas Arsenal di final Carabao Cup 2025-2026 pada Minggu, 22 Maret 2026.
Keunggulan tersebut mengantar Guardiola meraih trofi kelimanya di ajang yang sama, sekaligus mempertegas dominasinya dalam kompetisi domestik Inggris bersama Manchester City dalam beberapa musim terakhir.
Pelatih asal Spanyol itu larut dalam suasana ketika mengangkat kedua tangannya ke arah pendukung timnya, lalu memeluk para pemain dan staf dengan penuh emosi setelah peluit panjang dibunyikan.
"Saya ingin mendapatkan kartu kuning lagi, itu alasan saya melakukannya," ujar Guardiola dengan nada bercanda saat ditanya soal selebrasinya dilansir BBC.
"Jika saya tidak bisa merayakan momen melawan tim seperti Arsenal, dengan cara kami bermain, emosi saya berkaitan dengan permainan kami," lanjutnya.
"Saya bukan kecerdasan buatan, saya manusia yang ingin merayakan, itu bukan bentuk tidak hormat kepada Arsenal atau suporter lain, saya hanya merayakan bersama orang-orang saya, dan ketika saya merasakannya, saya mengekspresikannya," sambungnya.
Di sisi lain, Arsenal harus menerima kenyataan pahit setelah gagal mengakhiri penantian trofi sejak terakhir kali menjuarai Piala FA pada 2020, akibat penampilan yang minim agresivitas dalam menyerang hingga waktu sudah terlambat.
Kemenangan ini tidak sekadar soal mengangkat trofi bagi Manchester City, melainkan juga menjadi pernyataan kekuatan yang berpotensi memengaruhi mental Arsenal yang tengah memimpin perburuan gelar Liga Inggris dengan selisih sembilan poin.
Laga final tersebut menjadi panggung bagi kedua tim untuk mengirim pesan, namun hanya Manchester City yang mampu melakukannya, sementara Arsenal gagal memaksimalkan peluang yang mereka miliki.

Dampak hasil ini terhadap persaingan liga masih belum dapat dipastikan, apakah akan menjadi pemicu kebangkitan Manchester City atau justru menggoyahkan stabilitas Arsenal dalam beberapa pekan ke depan.
Yang jelas, pada pertandingan tersebut Manchester City tampil jauh lebih baik dan mampu menunjukkan kualitas permainan yang lebih unggul dibandingkan lawannya.
Meski tidak lagi se-konsisten tim Guardiola yang pernah meraih empat gelar Premier League beruntun, skuad terbaru Manchester City tetap terlihat sebagai tim terbaik di negara itu ketika mampu menampilkan performa maksimal.
Trofi ini menjadi yang ke-16 bagi Guardiola bersama Manchester City, dan di tengah spekulasi mengenai masa depannya, intensitas serta keterlibatannya di laga ini menunjukkan ambisi untuk terus meraih kesuksesan.
Guardiola mengakui peluang juara liga tidak sepenuhnya berada di tangan timnya, namun kemenangan ini menjaga asa tetap hidup di sisa musim.
"Saya ingin berada di posisi unggul sembilan poin, tetapi situasinya ada di tangan mereka, kami butuh waktu dan jeda, saya kelelahan, dan setelah ini kami akan melangkah tahap demi tahap," tegas Guardiola.
Ia juga memberikan apresiasi kepada Mikel Arteta yang dinilai berhasil membangun tim Arsenal yang sangat kuat, sembari menegaskan bahwa meraih lima gelar Piala Liga dalam satu dekade merupakan pencapaian yang tidak mudah.
Arsenal masih berada dalam posisi kuat di Premier League serta berpeluang di Liga Champions dan Piala FA, namun kekalahan ini menjadi pukulan yang harus segera direspons oleh skuad asuhan Arteta.
Keputusan Arteta memainkan Kepa Arrizabalaga di bawah mistar gawang berujung fatal saat ia gagal mengantisipasi umpan silang sederhana yang berbuah gol pembuka, momen yang mengubah arah pertandingan.
Sementara itu, pilihan Guardiola menurunkan James Trafford terbukti tepat setelah ia melakukan penyelamatan beruntun dari peluang Kai Havertz dan Bukayo Saka di awal laga. (Rangga)