
Thephrase.id - Rencana Presiden FIFA Gianni Infantino membentuk perusahaan baru yang akan mengelola hak komersial berbagai kompetisi sepak bola dunia dengan melibatkan investor swasta memicu gelombang penolakan dari UEFA.
Sejumlah media internasional mengungkap proyek bernilai sekitar 20 miliar dolar AS (Rp361,6 triliun) tersebut, akan mencakup pengelolaan Piala Dunia, Piala Dunia Antarklub, hingga kompetisi sepak bola putri.
Laporan The Times menyebutkan perusahaan modal ventura Thrive Capital yang dipimpin Joshua Kushner menjadi salah satu calon investor utama dalam proyek tersebut.
Sementara FIFA dikabarkan menggandeng JP Morgan sebagai penasihat keuangan untuk menghimpun investasi hingga 4,2 miliar dollar AS (Rp75,9 triliun) melalui penjualan kepemilikan minoritas yang tidak memberikan hak kendali atas perusahaan baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE).
Joshua Kushner merupakan adik dari Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump, sedangkan laporan tersebut juga menyebut pemerintahan Trump mengetahui rencana yang tengah disiapkan FIFA di tengah hubungan yang semakin dekat antara Infantino dan Trump sepanjang Piala Dunia 2026.
Apabila seluruh rencana tersebut terealisasi, FIFA disebut tetap menjadi pemegang saham mayoritas FFE, sementara seluruh 211 asosiasi anggota FIFA bersama para investor swasta akan memperoleh kepemilikan di perusahaan tersebut yang nantinya bertugas mengelola aspek komersial berbagai kompetisi utama FIFA.
Laporan yang sama juga menyebut Infantino diproyeksikan memimpin perusahaan itu sebagai komisaris setelah masa jabatannya sebagai Presiden FIFA berakhir pada 2031.
Sementara besaran pendapatannya disebut berpotensi setara dengan Komisisioner NFL Roger Goodell yang memperoleh sekitar 64 juta dolar AS (Rp1,1 triliun) per tahun, meski FIFA menegaskan pembahasan mengenai posisi maupun nilai remunerasi tersebut belum pernah dilakukan.
FIFA menjelaskan pembentukan FFE bertujuan meningkatkan pendanaan bagi pengembangan sepak bola global dengan target nilai investasi yang lebih besar dibanding program sebelumnya. Sementara seluruh keuntungan bersih perusahaan disebut akan dikembalikan untuk mendukung perkembangan sepak bola di seluruh dunia.
"FIFA selalu mencari proyek-proyek inovatif yang dapat mendorong perkembangan sepak bola di seluruh dunia dan selalu terbuka untuk meninjau setiap proposal yang diajukan kepada kami. Kami sedang memulai proses konsultasi," tulisnya.
FIFA juga menyampaikan bahwa apabila mendapat persetujuan dari asosiasi anggotanya, pendanaan untuk program pengembangan sepak bola dapat ditingkatkan hingga melampaui 10 miliar dolar AS (Rp180 triliun).
Sedangkan pembentukan FIFA Forward Enterprise diproyeksikan mampu menghimpun dana baru berdasarkan valuasi awal perusahaan sebesar 20 miliar dolar AS (Rp361 triliun) melalui keterlibatan investor jangka panjang yang hanya memiliki kepemilikan minoritas tanpa hak pengendalian.
Meski demikian, UEFA secara terbuka menyatakan penolakan keras terhadap rencana tersebut karena menilai pengelolaan dan nilai-nilai sepak bola tidak seharusnya dijadikan aset komersial yang diperjualbelikan kepada investor, terlebih tanpa adanya transparansi mengenai pihak-pihak yang akan memperoleh keuntungan finansial dari transaksi tersebut.
"Ini telah melewati batas yang seharusnya tidak pernah dilanggar oleh lembaga-lembaga pengelola sepak bola. UEFA memandang persoalan ini dengan sangat serius. Begitu pula seharusnya setiap asosiasi sepak bola nasional, seluruh pemangku kepentingan, liga, klub, pemain, suporter, pemerintah, dan siapa pun yang peduli terhadap masa depan sepak bola," tegas UEFA.
"Jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset yang bisa diperjualbelikan, terlebih tanpa transparansi mengenai siapa yang akan memperoleh keuntungan finansial. Tidak seorang pun dari kita memiliki sepak bola. Sepak bola bukan milik FIFA untuk dijual," sambungnya.
Penolakan terhadap proyek tersebut juga terus berkembang setelah Telegraph Sport melaporkan UEFA tengah mempertimbangkan berbagai langkah hukum, termasuk kemungkinan pembahasan opsi boikot Piala Dunia oleh negara-negara Eropa dalam pertemuan darurat.
Sementara mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, turut mengkritik rencana itu dengan menyatakan kedekatan antara Presiden FIFA dan Presiden Amerika Serikat telah memasuki dimensi finansial yang merugikan sepak bola serta menegaskan tidak seorang pun memiliki hak untuk menjual permainan tersebut.