
ThePhrase.id - Pernahkah kamu merasa pikiran seperti ada kabut yang membuatmu sulit untuk mengingat sesuatu, sering lupa, bahkan sulit untuk berkonsentrasi? Hal ini dapat menjadi salah satu tanda brain fog, yaitu sebuah istilah untuk sejumlah gejala yang dapat menyebabkan gangguan kognitif, seperti kemampuan untuk berpikir, fokus, hingga mengingat.
Seperti namanya, brain fog, yang secara harfiah berarti kabut otak, dapat menutupi otak dan membuat seseorang sulit untuk melakukan pekerjaan atau aktivitas sehari-hari seperti percakapan panjang, mendengarkan instruksi, atau mengingat langkah-langkah pekerjaan yang panjang.
Menurut Cleveland Clinic, brain fog juga dikenal sebagai mental fog yang dapat terjadi setelah penyakit tertentu yang memiliki efek samping dari pengobatan seperti kemoterapi. Namun, secara umum brain fog ini dapat terjadi pada siapa pun.
Gejala-gejala brain fog dapat terlihat berbeda untuk setiap orang, namun terdapat beberapa gejala yang dapat muncul, sebagai berikut:
Menurut Alodokter, meski kondisi ini cenderung muncul sesekali dan hanya dalam jangka waktu yang pendek, pada kasus tertentu brain fog dapat muncul lebih sering hingga mengganggu aktivitas dan kehidupan penderita.
Umumnya, brain fog dapat dikaitkan dengan stres kronis, kurang tidur berkualitas, perubahan hormonal (misalnya saat hamil atau menopause), efek samping obat-obatan tertentu, kekurangan nutrisi, hingga kondisi medis seperti fibromialgia, sindrom kelelahan kronis, anemia, dan penyakit autoimun.
Namun, beberapa tahun terakhir, terutama sejak Covid-19, Jurnal General Hospital Psychiatry menemukan bahwa long covid menjadi salah satu pemicu meningkatnya gejala brain fog. Diperkirakan sekitar 100 juta orang yang telah pulih dari infeksi SARS-CoV-2 mengalami gejala sisa jangka panjang, termasuk gangguan kognitif berkelanjutan atau brain fog.
Meski belum diketahui penyebab sepenuhnya, penelitian dari Nature Neuroscience, menemukan adanya gangguan sawar darah-otak dan peradangan sistemik berkelanjutan pada individu dengan gangguan kognitif terkait long Covid.
Menurut Primaya Hospital, sawar darah otak atau blood-brain barrier adalah lapisan penting dalam sistem saraf yang berfungsi sebagai pelindung sekaligus penyaring selektif bagi otak, hanya mengizinkan zat seperti oksigen dan nutrisi masuk serta mencegah racun dan patogen.
Jika terjadi kerusakan akibat infeksi, peradangan kronis, stres, cedera, stroke, atau penyakit seperti Alzheimer, lapisan ini bisa menjadi “bocor” atau leaky blood-brain barrier. Kondisi ini memungkinkan zat berbahaya masuk ke otak, memicu peradangan, dan berpotensi menyebabkan gangguan neurologis seperti brain fog.
Tak perlu khawatir, keadaan ini dapat dirawat dan diobati meski belum ada treatment spesial, beberapa ahli kesehatan menyarankan untuk melakukan beberapa tips ini untuk mendorong sistem imun, seperti:
Namun, jika kondisi semakin parah hingga mengganggu kegiatan sederhana dalam sehari-hari, ada baiknya berkonsultasi dengan ahli untuk mengetahui lebih dalam mengenai gejala dan penyebab terjadinya brain fog. [Syifaa]