lifestyle

Sering Merasa Lelah dalam Pertemanan? Kenali Ciri-Ciri One-Sided Friendship

Penulis Ashila Syifaa
May 03, 2026
Ilustasi one-sided friendship. (Foto: Freepik)
Ilustasi one-sided friendship. (Foto: Freepik)

ThePhrase.id - Serupa dengan hubungan romantis, pertemanan juga merupakan hubungan yang kompleks karena membutuhkan upaya dari kedua belah pihak untuk menjaganya. Namun, pernahkah kamu merasa bahwa dalam sebuah pertemanan, usaha tersebut hanya datang dari satu pihak? Hal ini bisa menjadi tanda adanya one-sided friendship.

Apa itu one-sided friendship?

One-sided friendship atau pertemanan sepihak adalah kondisi ketika hanya satu orang yang selalu berinisiatif dalam hubungan, seperti lebih sering menghubungi, mengajak bertemu, atau menjaga komunikasi dengan kelompoknya. 

Dalam kata lain, komunikasi, waktu, dan upaya yang dibutuhkan untuk mempertahankan hubungan biasanya dibebankan kepada satu orang dalam pertemanan sepihak. Namun, kondisi ini sering tak disadari, bahkan sampai hubungan telah terjalin hingga belasan tahun.

Tanda-tanda one-sided friendship

Ada beberapa tanda yang bisa kamu perhatikan untuk mengenali apakah kamu berada dalam pertemanan sepihak, di antaranya:

  • Selalu menjadi pihak pertama yang mengirim pesan, menelepon, atau mengajak bertemu. Tanpa inisiatif tersebut, hubungan terasa “diam”.
  • Usaha tidak seimbang, sehingga sering muncul perasaan tidak didengarkan dan kurang diperhatikan.
  • Teman jarang melakukan hal yang sama atau cenderung menghindar, misalnya selalu tidak memiliki waktu untuk bertemu dengan berbagai alasan.
  • Teman hanya muncul saat membutuhkan bantuan, tetapi menghilang ketika dukungan dibutuhkan.
  • Muncul kelelahan secara emosional; alih-alih memberikan kenyamanan, interaksi justru menimbulkan rasa kecewa atau tidak dihargai.
  • Tidak ada timbal balik yang jelas; kebaikan, perhatian, atau dukungan yang diberikan jarang, bahkan tidak pernah dibalas.

Apa yang bisa dilakukan?

Jika kamu menyadari berada dalam one-sided friendship, ada beberapa langkah yang bisa dipertimbangkan. 

  • Pertama, cobalah untuk mengutarakan perasaan secara jujur dan terbuka. Terkadang, terdapat Sebagian orang yang mungkin tidak menyadari sikapnya. 
  • Kedua, tetapkan batasan dalam hubungan agar tidak terus-menerus menjadi bagian yang dirugikan. 
  • Ketiga, evaluasi hubungan tersebut, apakah masih layak dipertahankan atau justru perlu diberi jarak.

Psikolog dan CEO Insights Without Borders, Mark Rogers, menjelaskan bahwa jika seorang teman diundang ke sebuah perkumpulan dan tidak pernah menolak, hal tersebut masih tergolong wajar. Pasalnya, ada orang yang memang tidak terbiasa membuat rencana, sementara sebagian lainnya justru merupakan perencana yang andal.

Perlu dicatat bahwa tak semua pertemanan memerlukan komunikasi setiap saat. Terdapat pertemanan yang minim komunikasi, namun tetap menjalin pertemanan yang baik dan sehat, seperti tipe pertemanan yang low maintenance.

Namun, pada akhirnya, pertemanan yang sehat seharusnya memberikan rasa nyaman, dukungan, dan keseimbangan bagi kedua belah pihak. Jika kamu terus merasa sendirian dalam menjalaninya, mungkin sudah saatnya mempertimbangkan kembali hubungan tersebut. [Syifaa]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic