
ThePhrase.id - Sekretaris Kabinet (Seskab) RI, Teddy Indra Wijaya memberikan tanggapan terhadap kritik yang disampaikan mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI, Dino Patti Djalal mengenai intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
Kritik tersebut menyoroti sejumlah aspek, mulai dari biaya perjalanan hingga frekuensi kunjungan presiden ke berbagai negara.
Mengawali pernyataannya, Teddy menyampaikan terima kasih terhadap kritik yang telah disampaikan. Terlebih, Dino merupakan sosok yang pernah mengabdi sebagai Wamenlu RI periode Juli—Oktober 2014.
“Sebelumnya terima kasih atas masukan yang telah diberikan. Sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir beliau (Dino) adalah diplomat hebat. Pernah menjadi wakil menteri luar negeri, walau hanya diberi kesempatan sekitar 3 bulan,” ujar Teddy melalui video yang diunggah kanal YouTube Sekretariat Kabinet RI, Senin (1/6).
Teddy menekankan, pemerintah telah mengatur anggaran perjalanan dinas presiden secara jelas. Lebih lanjut, apabila terdapat biaya yang melebihi alokasi anggaran negara, seluruh kelebihan tersebut ditanggung secara pribadi oleh Presiden Prabowo.
“Jadi pertama, masalah biaya bila ke luar negeri. Ini sudah dijelaskan beberapa kali, jadi segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo,” tukasnya.
Selain itu, Teddy menyebut jumlah anggota rombongan yang mendampingi Prabowo dalam kunjungan luar negeri saat ini telah berkurang signifikan, jika dibandingkan dengan periode pemerintahan sebelumnya.
Ia menyinggung pada era Wamenlu Dino, jumlah rombongan kepresidenan dapat mencapai sekitar 120 orang. Sedangkan saat ini jumlah tersebut dibatasi hanya sekitar 50 hingga 60 orang.
“Ini sudah banyak yang tahu. Termasuk juga wartawan-wartawan, pasti tahu itu semua,” imbuhnya.
Terkait frekuensi kunjungan ke luar negeri, Teddy menjelaskan bahwa sebagian agenda telah dijadwalkan jauh hari, bahkan hingga satu tahun sebelumnya. Namun, terdapat pula perjalanan yang harus dilakukan secara mendadak untuk merespons perkembangan situasi global yang dinamis.
Menurut Teddy, tingginya intensitas diplomasi internasional dalam satu setengah tahun terakhir juga didorong oleh kebutuhan membangun hubungan yang kuat dengan para pemimpin dunia.
Ia menilai, langkah tersebut penting mengingat berbagai krisis global yang terjadi, mulai dari konflik di Ukraina, Venezuela, hingga Timur Tengah.
“Jadi, setiap pemimpin tentunya harus bangun hubungan yang dekat antar pemimpin dunia, dan kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis, baru kita minta bantuan. Kita harus panen hubungan yang baik. Lalu, bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan, dan begitu pula sebaliknya,” jelas Teddy.
“Itu perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antar pemimpin, baik secara langsung diliput media ataupun tertutup. Itulah diplomasi,” tambahnya.
Menurutnya, salah besar apabila kunjungan luar negeri Presiden Prabowo disebut sebagai ‘gagah-gagahan’ ataupun seremonial. Ia kemudian mengingatkan kepada semua pihak untuk melihat berbagai hasil yang telah dicapai pemerintah dalam 1,5 tahun terakhir. (Rangga)