
Thephrase.id - Upaya Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk menghadirkan momen simbolis antara perwakilan Israel dan Palestina di Kongres FIFA berujung canggung setelah rencana mempertemukan kedua pihak di atas panggung tidak berjalan sesuai harapan.
Momen tersebut terjadi di akhir Kongres FIFA ke-76 di Vancouver ketika Presiden Federasi Sepak Bola Palestina, Jibril Rajoub, menolak berdiri berdampingan dengan Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Israel, Basim Sheikh Suliman, meski keduanya telah dipanggil ke panggung oleh Infantino.
Situasi di dalam ruangan berubah tegang ketika Suliman sudah memenuhi panggilan, sementara Rajoub memilih bertahan dan terlibat diskusi intens dengan Infantino beberapa langkah dari panggung utama.
Rencana yang disebut-sebut melibatkan sesi foto bersama sebelum pengumuman pencalonan kembali Infantino itu tidak terwujud, dan justru memperlihatkan batas upaya diplomasi yang ingin ditampilkan oleh pimpinan tertinggi FIFA tersebut.
Infantino kemudian kembali ke podium dan tetap melanjutkan agenda dengan mengonfirmasi bahwa dirinya akan mencalonkan diri untuk masa jabatan penuh ketiga pada pemilihan Presiden FIFA berikutnya yang dijadwalkan berlangsung di Rabat, Maroko.
"Saya ingin mengonfirmasi bahwa saya akan menjadi kandidat dalam pemilihan Presiden FIFA tahun depan, saya ingin Anda menjadi yang pertama mengetahui hal ini, terima kasih atas dorongan dan dukungannya," kata Infantino.
Infantino yang pertama kali terpilih pada 2016 menggantikan Sepp Blatter berpeluang memperpanjang masa jabatannya hingga 15 tahun setelah aturan organisasi diubah sehingga hanya masa jabatan penuh yang dihitung dalam batas maksimal tiga periode.
Ketegangan di panggung tidak mereda ketika Infantino kembali mencoba mempertemukan Rajoub dan Suliman. Namun upaya tersebut kembali gagal meski ia sempat menggenggam tangan Rajoub dalam percakapan yang berlangsung beberapa menit.
"Kami akan bekerja bersama, Presiden Rajoub, Wakil Presiden Suliman, mari kita bekerja sama untuk memberikan harapan kepada anak-anak, ini adalah persoalan yang kompleks," ujar Infantino.
Penolakan berjabat tangan tersebut kemudian dijelaskan oleh Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Palestina, Susan Shalabi, yang menyampaikan alasan sikap pihaknya.
"Saya tidak bisa berjabat tangan dengan seseorang yang dibawa oleh pihak Israel untuk menutupi fasisme dan genosida mereka, kami sedang menderita," tegas Shalabi.
Dalam pidato berdurasi sekitar 15 menit, Rajoub menyoroti kembali tuntutan kepada FIFA terkait keberadaan klub-klub yang berafiliasi dengan federasi Israel namun beroperasi di wilayah Tepi Barat tanpa persetujuan Palestina.
"Pada Kongres ke-74 di Bangkok, kami kembali meminta FIFA untuk menangani partisipasi klub-klub yang berafiliasi dengan Federasi Sepak Bola Israel tetapi berada di wilayah Palestina tanpa persetujuan Federasi Sepak Bola Palestina," ucap Rajoub.
Rajoub juga menyebut adanya temuan pelanggaran serius dalam laporan komite disiplin FIFA, termasuk dugaan diskriminasi dan pelanggaran prinsip kesetaraan serta hak asasi manusia dalam struktur sepak bola Israel.
"Laporan itu tidak lagi kosong, fakta-fakta tidak lagi bersifat teoritis, komite disiplin FIFA menemukan pelanggaran serius dan tindakan yang tidak sejalan dengan prinsip non-diskriminasi, perlakuan setara, hak asasi manusia, netralitas politik, dan tata kelola yang baik," lanjutnya Rajoub.